“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2 : 22)
Islam sebagai agama yang sejak awal menegaskan misinya sebagai rahmatan lil’alamin, tentu saja karenanya sangat peduli dengan masalah-masalah lingkungan. Allah SWT dalam pandangan Islam disebut juga sebagai rabbul’alamin, Tuhannya semesta alam, karenanya Allah lah yang menciptakan seluruh jagad raya dan seisinya dan karenanya Ia menciptakan lingkungan bagi manusia. Kita pastinya sudah sama-sama mengetahui bahwa semua yang ada didunia ini merupakan ciptaan dari Allah SWT. Tapi kebanyakan diantara manusia itu tidak mengetahui bahkan ada yang pura-pura tidak tahu. Mudah-mudahan kita bukan bagian dari mereka. Semoga saja …..
Sangat wajar jika sejak awal ideologi Islam adalah ideologi yang menegaskan pentingnya manusia sebagai hamba Allah untuk peduli dan menyelamatkan lingkungan. Makanya, manusia itu disebut khalifah. Khalifah artinya wakil Allah di muka bumi (INGAT… WAKIL ALLAH) yang terus menerus menghadirkan proses regenerasi untuk hadirnya kepemimpinan maupun hadirnya kehidupan yang bisa diwarisi oleh generasi yang akan datang. Itu tidak mungkin terjadi, kalau manusia mengabaikan perannya sebagai hamba Allah yang rabbul’alamin itu, kemudian tidak mengikuti Rasulullah SAW yang risalahnya adalah rahmatan lil’alamin termasuk untuk alam itu, dan tidak mungkin akan terjadi kalau manusia tidak melakukan peranan ubudiyah dan imaratul ardh (memakmurkan bumi).
Berbicara tentang lingkungan, tentunya hal tersebut merupakan hal yang paling fundamental untuk mendukung setiap aktifitas manusia dalam kesehariannya untuk mencapai hasil yang optimal. Hal ini sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Allah melalui utusannya yang mulia Rasulullah SAW dalam Surah Al Baqarah ayat 22 : “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
Ayat diatas menginformasikan kepada kita tentang karunia yang sangat besar yang diberikan Allah kepada kita. Untuk alasan itulah kenapa kita harus selalu bersyukur kepada Allah SWT. Mari kita merenungi karunia besar tersebut dan ucapkanlah rasa syukur tersebut dengan lisan- lisan kita (Alhamdulillah) kemudian mari melanjutkannya dengan amalan sebagai bentuk aplikasi dari rasa syukur kita atas anugerah yang tidak ternilai harganya tersebut.
Interaksi Manusia dengan Lingkungan
Antara manusia dan lingkungan terdapat hubungan timbal balik. Manusia mempengaruhi lingkungan hidupnya, sebaliknya manusia juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Manusia ada dan berada di dalam lingkungan dan tidak dapat terpisahkan daripadanya. Eksistensi manusia di dunia ini sebagian Karena sifat keturunannya dan sebagian lagi yang sangat berperan adalah lingkungan hidupnya. Interaksi antara manusia dengan lingkungan hidup telah memberikan manfaat dan efek keberhasilan dan kesuksesan yang luar biasa kepada manusia. Demikian pula sebaliknya, lingkungan hidup dapat lebih hidup dan terbentuk karena adanya pola interaksi antara lingkungan hidup dan manusia Oleh karena itu, keseimbangan itu harus selalu ada untuk menjaga eksistensi keduanya. “Manusia tidak ada artinya tanpa lingkungan dan lingkungan tidak akan memiliki fungsi/manfaat tanpa manusia”.
Antara manusia dan lingkungan hidupnya akan selalu terdapat pola interaksi yang sifatnya dinamis. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup pastinya akan turut menyebabkan perubahan pada manusia misalnya kelakuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada (adaptasi). Perubahan dalam kelakuan manusia ini juga dengan serta merta akan menyebabkan pula perubahan pada lingkungan hidup. Dengan adanya interaksi yang dinamis dan sirkuler ini, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa “Hanya dalam lingkungan yang baik, manusia dapat berkembang secara maksimal dan hanya dengan manusia yang baik lingkungan hidup dapat berkembang ke arah yang optimal”.
Lingkunganku sekarang, apa kabar?
”Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. 30 : 41)
Allah telah dengan ihsan-Nya menciptakan alam dan diberikan secara gratis kepada kita. Karena itu sangatlah wajar bila kita juga berbuat baik kepada lingkungan sebagaimana Allah telah berbuat kepada kita. Memang ketika Allah menciptakan bumi dan seisinya, juga ada potensi-potensi untuk gempa bumi, tsunami, angin ribut, patahan lempengan bumi yang bisa bergerak dan bertemu. Karena memang Allah SWT menciptakan bumi, langit dan gunung bisa bergerak, tetapi itu semua sesungguhnya dihadirkan bukan untuk mengazab manusia, bukan…. tapi untuk mengingatkan jangan sampai bumi dan seisinya ini kita rusak dan kita sia-siakan. Kalau tidak dirusak, bumi dan yang lainnya tidak akan menyengsarakan manusia. Ingat hubungan timbal balik manusia dan lingkungan? Sayangnya, manusia sering jadi pelupa bahkan ada pura-pura lupa dan ada yang sengaja lupa. Mungkin lupa karena dibisiki setan atau karena sudah akrab dengan setannya, sehingga dia yang membisiki setan ataupun karena manusia itu sering lupa karena potensi dalam dirinya yaitu potensi lawwamah sehingga ia merusak alam.
Jika kita berbicara tentang lingkungan dalam konteks kekinian, maka yang paling patut kita kedepankan adalah berbagai permasalahan yang mendera dan menyiksa lingkungan kita tercinta. Mulai dari masalah pencemaran lingkungan, kebakaran hutan, Intrusi air laut, meluasnya penyakit akibat sanitasi dan pengelolaan lingkungan yang buruk sampai kepada isu yang sekarang menempati posisi puncak klasemen masalah-masalah lingkungan apalagi kalau bukan makhluk menyeramkan, mengerikan, menyebalkan, dsb bernama “Pemanasan Global” beserta anak-anaknya : Perubahan Iklim, dkk.
Fenomena kerusakan lingkungan diatas menjadi isu yang paling sering kita dengar belakangan ini, (meskipun kita sebenarnya jarang nonton berita di TV, jarang baca Koran –baca Koran sih tapi halaman yang ada berita selebnya). Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mungkinkah Tuhan telah marah kepada kita? Tapi kenapa? Apakah karena kita tidak pernah bersyukur atas anugerah “lingkungan” yang telah diberikan-Nya? Apakah kita menganggap bahwa lingkungan itu milik kita, sehingga kita bebas untuk melakukan apa saja terhadap lingkungan?
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. 28 :77)
Harusnya kita menyadari kerusakan yang telah terjadi sekarang! Seharusnya kita lebih memperhatikan informasi yang peringatan yang diberikan oleh Allah! Harusnya kita menyayangi, bukan menyakiti! Harusnya kita menjaga dan memperbaiki, bukan merusak! Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan jangan sampai kita tergolong orang-orang………….
“yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan” (QS. 26 : 152)
So….. Kita mesti ngapain Donk….
“Dan bila dikatakan kepada mereka: ’Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’” (QS. 2 : 11).
Kesimpulan
Setidaknya ada beberapa hal yang sangat penting dan perlu kita lakukan untuk menjaga eksistensi dan kelestarian lingkungan yang kita cintai ini :
1. Menerapkan pola hidup sederhana yang wajar dan selaras dengan lingkungan dengan menggunakan sumberdaya secara halal dan sah, hemat tidak mencemari lingkungan dan dengan daya guna yang tinggi
2. Menerapkan usaha-usaha pelestarian lingkungan mulai dari lingkugan keluarga, masyarakat, dst.
3. Meminimalisasi hasil-hasil aktifitas manusia yang berpotensi untuk mencemari lingkungan.
Demi Allah….Cintailah Allah, maka kamu akan mencintai ciptan-Nya….. Sesungguhnya Allah akan memberikan balasan terhadap orang-orang yang senantiasa berbuat baik terhadap lingkungannya. Peringatan itu merupakan ayat-ayat cinta yang disampaikan kepada kita, hamba ALLAH…..
Cari Blog Ini
Rabu, 02 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
Gaharu primadona yang hampir punah
Apakah Gaharu Itu?
Gaharu merupakan sebuah fenomena patologis yang mengagumkan. Kayu ini diperdagangkan sebagai gaharu, sebutan yang umum di indonesia, tapi dikenal juga sebagai eaglewood, aloes wood dan agalocha. Menurut SNI 01-5009.1-1999 gaharu didefinisikan sebagai sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada suatu jenis pohon, yang pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. (Nama daerah: Karas, Alim, Garu dan lain-lain).
Termasuk kelompok evergreen (selalu hijau) dan bisa mencapai tinggi 18-21 meter (beberapa kasus bisa mencapai 40an meter). Pohon yang terinfeksi jamur akan mengeluarkan minyak pelindung yang berbau harum pada bagian yang terluka; akar, ranting atau potongan batang pohon.
Minyak pelindung tersebutlah yang akhirnya diperjualbelikan dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sehingga dalam kategori ini Gaharu merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang cukup dapat diandalkan. Digunakan untuk berbagai keperluan seperti parfum, pewangi ruangan, hio (pelengkap sembahyang pemeluk agama Budha & Kong Hu Cu), obat, dan sebagainya.
Nilai jual yang tinggi dari gaharu ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya. Sebagai contoh, pada awal tahun 2001 di Kalimantan Timur tepatnya di Pujangan (Kayan) harga gaharu dapat mencapai Rp. 600.000,- per kilogram . Pada tingkat eceran di kota-kota besar harga ini tentunya akan semakin tinggi pula.
Perdagangan Gaharu
Gaharu diperdagangkan dalam berbagai bentuk, yaitu berupa bongkahan, chips dan serbuk. Bentuk bongkahan dapat berupa patung atau bentuk unik (natural sculpture) atau tanpa bentuk sama sekali. Demikian pula warnanya, bervariasi mulai dari mendekati putih sampai coklat tua atau mendekati kehitaman, tergantung kadar damar wangi yang dikandungnya dan dengan sendirinya akan semakin wangi atau kuat aroma yang yang ditimbulkannya. Umumnya warna gaharu inilah yang dijadikan dasar dalam penentuan kualitas gaharu. Semakin hitam/pekat warnanya, semakin tinggi kandungan damar wanginya, dan akan semakin tinggi pula nilai jualnya. Umumnya semakin hitam/pekat warna gaharu, menunjukkan semakin tinggi proses infeksinya, dan semakin kuat aroma yang ditimbulkannya. Namun pedoman warna dan aroma ini tidaklah mutlak, karena dalam kenyataannya, warna ini dapat diakali dengan penerapan pewarna, sedangkan aroma dapat diakali dengan mencelupkan gaharu ke dalam destilat gaharu. Sehingga hanya pedagang-pedagang yang sudah berpengalaman dan sudah lama berkecimpung dalam perdagangan gaharu sajalah yang dapat membedakan antara gaharu yang tinggi kualitasnya dengan yang lebih rendah kualitanya (kemedangan).
Di Indonesia, gaharu yang diperdagangkan secara nasional masih dalam bentuk bongkahan, chips ataupun serbuk gaharu. Masyarakat belum tertarik untuk mengolah gaharu secara lebih lanjut, misalnya dalam bentuk produk olahan seperti destilat gaharu, parfum, chopstick, dan lain-lain, yang tentunya akan lebih meningkatkan nilai jualnya.
Jenis Gaharu
Jenis-jenis Gaharu dihasilkan oleh pohon-pohon terinfeksi yang tumbuh di daerah tropika dan memiliki marga Aquilaria, Gyrinops dan Gonystilus yang keseluruhannya termasuk dalam famili Thymelaeaceae.
Marga Aquilaria terdiri dari 15 spesies, tersebar di daerah tropis Asia mulai dari India, Pakistan, Myanmar, Lao PDR, Thailand, Kamboja, China Selatan, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Enam diantaranya ditemukan di Indonesia (A. malaccensis, A. microcarpa, A. hirta, A. beccariana, A. cumingiana dan A. filarial). Keenam jenis tersebut terdapat hampir di seluruh kepulauan Indonesia, kecuali Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
Marga Gonystilus memiliki 20 spesies, tersebar di Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Peninsula, Serawak, Sabah, Indonesia, Papua New Guinea, Philipina dan kepulauan Solomon serta kepulauan Nicobar. Sembilan spisies diantaranya terdapat di Indonesia yaitu: di Sumatera, Kalimantan, Bali, Maluku dan Irian Jaya. Marga Gyrinops memiliki tujuh spesies. Enam diantaranya tersebar di Indonesia bagian timur serta satu spesies terdapat di Srilanka.
Infeksi Gaharu
Penyebab timbulnya infeksi (yang menghasilkan gaharu) pada pohon penghasil gaharu, hingga saat ini masih terus diamati. Namun, para peneliti menduga bahwa ada 3 elemen penyebab proses infeksi pada pohon penghasil gaharu, yaitu
(1) infeksi karena fungi,
(2) perlukaan dan
(3) proses non-phatology.
Dalam grup yang pertama, Santoso (1996) menyatakan telah berhasil mengisolasi beberapa fungi dari pohon Aquilaria spp. yang terinfeksi yaitu: Fusarium oxyporus, F. bulbigenium dan F. laseritium.
Pada kasus 2 dan 3 muncul hipotesis yang menyatakan bahwa perlukaan pohon dapat mendorong munculnya proses penyembuhan yang menghasilkan gaharu. Tetapi hipotesis inipun masih memerlukan pembuktian.
Kualita Gaharu
Kualita Gaharu Indonesia secara nasional telah ditetapkan dalam SNI 01-5009.1-1999 Gaharu. Dalam SNI tersebut kualita gaharu dibagi dalam 13 kelas kualitas yang terdiri dari :
• Gubal gaharu yang terbagi dalam 3 kelas kualita (Mutu Utama = yang setara dengan mutu super; mutu Pertama = setara dengan mutu AB; dan mutu Kedua = setara dengan mutu Sabah super),
• Kemedangan yang terbagi dalam 7 kelas kualita (mulai dari mutu Pertama = setara dengan mutu TGA/TK1 sampai dengan mutu Ketujuh = setara dengan mutu M3), dan
• Abu gaharu yang terbagi dalam 3 kelas kualita (mutu Utama, Pertama dan Kedua).
Pada kenyataannya dalam perdagangan gaharu, pembagian kualitas gaharu tidak seragam antara daerah yang satu dengan yang lain, meskipun sudah ada SNI 01-5009.1-1999 Gaharu. Sebagai contoh, di Kalimantan Barat disepakati 9 jenis mutu yaitu dari kualitas Super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan kropos (terburuk). Sedangkan di Kalimantan Timur dan Riau, para pebisnis gaharu menyepakati 8 jenis mutu, mulai dari mutu super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan (terburuk). Penetapan standar di lapangan yang tidak seragam tersebut dimungkingkan karena keberadaan SNI Gaharu sejauh ini belum banyak diketahui dan dimanfaatkan oleh para pedagang maupun pengumpul. Disamping itu, sebagaimana SNI-SNI hasil hutan lainnya, penerapan SNI Gaharu masih bersifat sukarela (voluntary), dimana tidak ada kewajiban untuk memberlakukannya.
Keberadaan Gaharu yang Semakin terancam
Pemanfaatan gaharu dari alam secara tradisional di Indonesia (Kalimantan dan Sumatera), akan menjamin kelestarian pohon induknya, yaitu hanya mengambil bagian pohon yang ada gaharunya saja tanpa harus menebang pohonnya. Pemanenan Gaharu sebaiknya dari pohon-pohon penghasil gaharu yang mempunyai diameter di atas 20 cm. Namun, sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar dan nilai jual dari gaharu, masyarakat lokal telah mendapat pesaing dari pebisnis gaharu dari tempat lain, sehingga mereka berlomba-lomba untuk berburu gaharu. Akibatnya, pemanfaatan gaharu secara tradisional yang mengacu pada prinsip kelestarian tidak dapat dipertahankan lagi. Hal ini berdampak, semakin sedikitnya pohon-pohon induk gaharu. Bahkan di beberapa tempat, gaharu telah dinyatakan jarang/hampir punah. Hal ini disebabkan oleh karena penduduk tidak lagi hanya menoreh bagian pohon yang ada gaharunya, tetapi langsung menebang pohonnya. Diameter pohon yang ditebangpun menurun menjadi dibawah 20 cm, dan tentu saja kualita gaharu yang diperolehpun tidak dapat optimal.
Akibat semakin langkanya tegakan pohon penghasil gaharu, dalam COP (Conference of Parties) ke – 9 CITES (Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) di Fort Lauderdale, Florida, USA (7 – 18 Nopember 1994) para peserta konferensi atas usulan India menerima proposal pendaftaran salah satu spesies penghasil gaharu (A. malaccensis) dalam CITES Appendix II. Dengan demikian dalam waktu 90 hari sejak penerimaan/penetapan proposal tersebut, perdagangan spesies tersebut harus dilakukan dengan prosedur CITES.
Namun masalahnya, hingga saat ini gaharu yang diperdagangkan dalam bentuk bongkahan, chips, serbuk, destilat gaharu serta produk akhir seperti chopstick, pensil, parfum, dan lain-lain tidak dapat/sulit untuk dapat dibuktikan apakah gaharu tersebut dihasilkan oleh jenis A. malaccensis ataukah dari spesies lain. Untuk mengatasi masalah ini, akhirnya ditempuh kebijaksanaan bahwa baik negara pengekspor maupun penerima tetap menerapkan prosedur CITES terhadap setiap produk gaharu, terlepas apakah produk tersebut berasal dari spesies A. malaccensis ataukah bukan. Hal ini dikarenakan sebagian besar populasi spesies penghasil gaharu di alam sudah berada pada posisi terancam punah. Dengan demikian diharapkan populasi spesies penghasil gaharu dapat diselamatkan.
Gaharu merupakan sebuah fenomena patologis yang mengagumkan. Kayu ini diperdagangkan sebagai gaharu, sebutan yang umum di indonesia, tapi dikenal juga sebagai eaglewood, aloes wood dan agalocha. Menurut SNI 01-5009.1-1999 gaharu didefinisikan sebagai sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada suatu jenis pohon, yang pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. (Nama daerah: Karas, Alim, Garu dan lain-lain).
Termasuk kelompok evergreen (selalu hijau) dan bisa mencapai tinggi 18-21 meter (beberapa kasus bisa mencapai 40an meter). Pohon yang terinfeksi jamur akan mengeluarkan minyak pelindung yang berbau harum pada bagian yang terluka; akar, ranting atau potongan batang pohon.
Minyak pelindung tersebutlah yang akhirnya diperjualbelikan dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sehingga dalam kategori ini Gaharu merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang cukup dapat diandalkan. Digunakan untuk berbagai keperluan seperti parfum, pewangi ruangan, hio (pelengkap sembahyang pemeluk agama Budha & Kong Hu Cu), obat, dan sebagainya.
Nilai jual yang tinggi dari gaharu ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya. Sebagai contoh, pada awal tahun 2001 di Kalimantan Timur tepatnya di Pujangan (Kayan) harga gaharu dapat mencapai Rp. 600.000,- per kilogram . Pada tingkat eceran di kota-kota besar harga ini tentunya akan semakin tinggi pula.
Perdagangan Gaharu
Gaharu diperdagangkan dalam berbagai bentuk, yaitu berupa bongkahan, chips dan serbuk. Bentuk bongkahan dapat berupa patung atau bentuk unik (natural sculpture) atau tanpa bentuk sama sekali. Demikian pula warnanya, bervariasi mulai dari mendekati putih sampai coklat tua atau mendekati kehitaman, tergantung kadar damar wangi yang dikandungnya dan dengan sendirinya akan semakin wangi atau kuat aroma yang yang ditimbulkannya. Umumnya warna gaharu inilah yang dijadikan dasar dalam penentuan kualitas gaharu. Semakin hitam/pekat warnanya, semakin tinggi kandungan damar wanginya, dan akan semakin tinggi pula nilai jualnya. Umumnya semakin hitam/pekat warna gaharu, menunjukkan semakin tinggi proses infeksinya, dan semakin kuat aroma yang ditimbulkannya. Namun pedoman warna dan aroma ini tidaklah mutlak, karena dalam kenyataannya, warna ini dapat diakali dengan penerapan pewarna, sedangkan aroma dapat diakali dengan mencelupkan gaharu ke dalam destilat gaharu. Sehingga hanya pedagang-pedagang yang sudah berpengalaman dan sudah lama berkecimpung dalam perdagangan gaharu sajalah yang dapat membedakan antara gaharu yang tinggi kualitasnya dengan yang lebih rendah kualitanya (kemedangan).
Di Indonesia, gaharu yang diperdagangkan secara nasional masih dalam bentuk bongkahan, chips ataupun serbuk gaharu. Masyarakat belum tertarik untuk mengolah gaharu secara lebih lanjut, misalnya dalam bentuk produk olahan seperti destilat gaharu, parfum, chopstick, dan lain-lain, yang tentunya akan lebih meningkatkan nilai jualnya.
Jenis Gaharu
Jenis-jenis Gaharu dihasilkan oleh pohon-pohon terinfeksi yang tumbuh di daerah tropika dan memiliki marga Aquilaria, Gyrinops dan Gonystilus yang keseluruhannya termasuk dalam famili Thymelaeaceae.
Marga Aquilaria terdiri dari 15 spesies, tersebar di daerah tropis Asia mulai dari India, Pakistan, Myanmar, Lao PDR, Thailand, Kamboja, China Selatan, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Enam diantaranya ditemukan di Indonesia (A. malaccensis, A. microcarpa, A. hirta, A. beccariana, A. cumingiana dan A. filarial). Keenam jenis tersebut terdapat hampir di seluruh kepulauan Indonesia, kecuali Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
Marga Gonystilus memiliki 20 spesies, tersebar di Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Peninsula, Serawak, Sabah, Indonesia, Papua New Guinea, Philipina dan kepulauan Solomon serta kepulauan Nicobar. Sembilan spisies diantaranya terdapat di Indonesia yaitu: di Sumatera, Kalimantan, Bali, Maluku dan Irian Jaya. Marga Gyrinops memiliki tujuh spesies. Enam diantaranya tersebar di Indonesia bagian timur serta satu spesies terdapat di Srilanka.
Infeksi Gaharu
Penyebab timbulnya infeksi (yang menghasilkan gaharu) pada pohon penghasil gaharu, hingga saat ini masih terus diamati. Namun, para peneliti menduga bahwa ada 3 elemen penyebab proses infeksi pada pohon penghasil gaharu, yaitu
(1) infeksi karena fungi,
(2) perlukaan dan
(3) proses non-phatology.
Dalam grup yang pertama, Santoso (1996) menyatakan telah berhasil mengisolasi beberapa fungi dari pohon Aquilaria spp. yang terinfeksi yaitu: Fusarium oxyporus, F. bulbigenium dan F. laseritium.
Pada kasus 2 dan 3 muncul hipotesis yang menyatakan bahwa perlukaan pohon dapat mendorong munculnya proses penyembuhan yang menghasilkan gaharu. Tetapi hipotesis inipun masih memerlukan pembuktian.
Kualita Gaharu
Kualita Gaharu Indonesia secara nasional telah ditetapkan dalam SNI 01-5009.1-1999 Gaharu. Dalam SNI tersebut kualita gaharu dibagi dalam 13 kelas kualitas yang terdiri dari :
• Gubal gaharu yang terbagi dalam 3 kelas kualita (Mutu Utama = yang setara dengan mutu super; mutu Pertama = setara dengan mutu AB; dan mutu Kedua = setara dengan mutu Sabah super),
• Kemedangan yang terbagi dalam 7 kelas kualita (mulai dari mutu Pertama = setara dengan mutu TGA/TK1 sampai dengan mutu Ketujuh = setara dengan mutu M3), dan
• Abu gaharu yang terbagi dalam 3 kelas kualita (mutu Utama, Pertama dan Kedua).
Pada kenyataannya dalam perdagangan gaharu, pembagian kualitas gaharu tidak seragam antara daerah yang satu dengan yang lain, meskipun sudah ada SNI 01-5009.1-1999 Gaharu. Sebagai contoh, di Kalimantan Barat disepakati 9 jenis mutu yaitu dari kualitas Super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan kropos (terburuk). Sedangkan di Kalimantan Timur dan Riau, para pebisnis gaharu menyepakati 8 jenis mutu, mulai dari mutu super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan (terburuk). Penetapan standar di lapangan yang tidak seragam tersebut dimungkingkan karena keberadaan SNI Gaharu sejauh ini belum banyak diketahui dan dimanfaatkan oleh para pedagang maupun pengumpul. Disamping itu, sebagaimana SNI-SNI hasil hutan lainnya, penerapan SNI Gaharu masih bersifat sukarela (voluntary), dimana tidak ada kewajiban untuk memberlakukannya.
Keberadaan Gaharu yang Semakin terancam
Pemanfaatan gaharu dari alam secara tradisional di Indonesia (Kalimantan dan Sumatera), akan menjamin kelestarian pohon induknya, yaitu hanya mengambil bagian pohon yang ada gaharunya saja tanpa harus menebang pohonnya. Pemanenan Gaharu sebaiknya dari pohon-pohon penghasil gaharu yang mempunyai diameter di atas 20 cm. Namun, sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar dan nilai jual dari gaharu, masyarakat lokal telah mendapat pesaing dari pebisnis gaharu dari tempat lain, sehingga mereka berlomba-lomba untuk berburu gaharu. Akibatnya, pemanfaatan gaharu secara tradisional yang mengacu pada prinsip kelestarian tidak dapat dipertahankan lagi. Hal ini berdampak, semakin sedikitnya pohon-pohon induk gaharu. Bahkan di beberapa tempat, gaharu telah dinyatakan jarang/hampir punah. Hal ini disebabkan oleh karena penduduk tidak lagi hanya menoreh bagian pohon yang ada gaharunya, tetapi langsung menebang pohonnya. Diameter pohon yang ditebangpun menurun menjadi dibawah 20 cm, dan tentu saja kualita gaharu yang diperolehpun tidak dapat optimal.
Akibat semakin langkanya tegakan pohon penghasil gaharu, dalam COP (Conference of Parties) ke – 9 CITES (Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) di Fort Lauderdale, Florida, USA (7 – 18 Nopember 1994) para peserta konferensi atas usulan India menerima proposal pendaftaran salah satu spesies penghasil gaharu (A. malaccensis) dalam CITES Appendix II. Dengan demikian dalam waktu 90 hari sejak penerimaan/penetapan proposal tersebut, perdagangan spesies tersebut harus dilakukan dengan prosedur CITES.
Namun masalahnya, hingga saat ini gaharu yang diperdagangkan dalam bentuk bongkahan, chips, serbuk, destilat gaharu serta produk akhir seperti chopstick, pensil, parfum, dan lain-lain tidak dapat/sulit untuk dapat dibuktikan apakah gaharu tersebut dihasilkan oleh jenis A. malaccensis ataukah dari spesies lain. Untuk mengatasi masalah ini, akhirnya ditempuh kebijaksanaan bahwa baik negara pengekspor maupun penerima tetap menerapkan prosedur CITES terhadap setiap produk gaharu, terlepas apakah produk tersebut berasal dari spesies A. malaccensis ataukah bukan. Hal ini dikarenakan sebagian besar populasi spesies penghasil gaharu di alam sudah berada pada posisi terancam punah. Dengan demikian diharapkan populasi spesies penghasil gaharu dapat diselamatkan.
Mengembangkan Gaharu sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu unggulan
Manfaat Aren bagi konservasi tanah
Seperti pada tanaman jenis palem-paleman, akar pohon Aren berbentuk/bertipe serabut. Pada pohon dewasa panjang akar bissa mencapai kedalaman 6-7 meter. Karakteristik akar seperti ini sangat bagus dalam memegang tanah-tanah yang berada di kelerengan >45o, tanah yang licin atau tanah-tanah yang labil. Pohon Aren adalah merupakan salah satu jenis pohon yang anti longsor karena dipengaruhi penetrasi akar-akarnya kedalam tanah sehingga memungkinkan pohon ini tetap tegak berdiri dibanding jenis pohon yang lain.
Manfaat Aren dalam konservasi air
Pohon Aren adalah satu dari 3 jenis pohon penunggu mata air selain pohon Beringin dan pohon Gayam. Pada mata air-mata air tua masih dijumpai keberadaan ketiga jenis ini. Secara morfologis pohon Aren berfungsi sebagai penangkap, penyaring dan penyimpan air.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dinyatakan bahwa setiap pelepah daun pohon Aren mampu menyimpan air 2 liter per jam saat hujan. Air ini secara perlahan akan masuk ke dalam lapisan ijuk yang membungkus batang. Selanjutnya air ini akan turun dan disaring oleh lapisan ijuk hingga mencapai tanah dan disimpan oleh serabut-serabut akarnya. Effisiensi proses transpirasi air yang melalui pohon Aren sangat tinggi karena hanya sekitar 5% saja air yang akan hilang. Banyaknya air yang terserap oleh pohon Aren dapat mencegah Bleaching permukaan tanah.
Manfaat Aren dalam konservasi satwa
Kebanyakan pohon Aren tumbuh secara alami. Tetapi biji pohon Aren tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Kulit buah yang tebal adalah bentuk dormancy dan menghambat proses perkecambahan. Secara alami biji yang bisa tumbuh adalah biji yang sudah di kerat oleh binatang musang atau bajing. Terjadi simbiosis mutualiasme antara binatang pengerat dengan biji pohon Aren.
Ketika populasi binatang pengerat menurun populais pohon Aren pun akan berkurang, begitu pula ketika populasi pohon Aren meningkat, maka akan meningkat pula populasi binatang pengerat. Binatang pengerat adalah prey (mangsa) bagi satwa-satwa jenis predator seperti Elang, Kucing hutan, Macan dll.
Seperti pada tanaman jenis palem-paleman, akar pohon Aren berbentuk/bertipe serabut. Pada pohon dewasa panjang akar bissa mencapai kedalaman 6-7 meter. Karakteristik akar seperti ini sangat bagus dalam memegang tanah-tanah yang berada di kelerengan >45o, tanah yang licin atau tanah-tanah yang labil. Pohon Aren adalah merupakan salah satu jenis pohon yang anti longsor karena dipengaruhi penetrasi akar-akarnya kedalam tanah sehingga memungkinkan pohon ini tetap tegak berdiri dibanding jenis pohon yang lain.
Manfaat Aren dalam konservasi air
Pohon Aren adalah satu dari 3 jenis pohon penunggu mata air selain pohon Beringin dan pohon Gayam. Pada mata air-mata air tua masih dijumpai keberadaan ketiga jenis ini. Secara morfologis pohon Aren berfungsi sebagai penangkap, penyaring dan penyimpan air.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dinyatakan bahwa setiap pelepah daun pohon Aren mampu menyimpan air 2 liter per jam saat hujan. Air ini secara perlahan akan masuk ke dalam lapisan ijuk yang membungkus batang. Selanjutnya air ini akan turun dan disaring oleh lapisan ijuk hingga mencapai tanah dan disimpan oleh serabut-serabut akarnya. Effisiensi proses transpirasi air yang melalui pohon Aren sangat tinggi karena hanya sekitar 5% saja air yang akan hilang. Banyaknya air yang terserap oleh pohon Aren dapat mencegah Bleaching permukaan tanah.
Manfaat Aren dalam konservasi satwa
Kebanyakan pohon Aren tumbuh secara alami. Tetapi biji pohon Aren tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Kulit buah yang tebal adalah bentuk dormancy dan menghambat proses perkecambahan. Secara alami biji yang bisa tumbuh adalah biji yang sudah di kerat oleh binatang musang atau bajing. Terjadi simbiosis mutualiasme antara binatang pengerat dengan biji pohon Aren.
Ketika populasi binatang pengerat menurun populais pohon Aren pun akan berkurang, begitu pula ketika populasi pohon Aren meningkat, maka akan meningkat pula populasi binatang pengerat. Binatang pengerat adalah prey (mangsa) bagi satwa-satwa jenis predator seperti Elang, Kucing hutan, Macan dll.
Label:
gaharu,
hasil hutan non kayu,
manfaat gaharu
manfaat aren bagi konservasi
Manfaat Aren bagi konservasi tanah
Seperti pada tanaman jenis palem-paleman, akar pohon Aren berbentuk/bertipe serabut. Pada pohon dewasa panjang akar bissa mencapai kedalaman 6-7 meter. Karakteristik akar seperti ini sangat bagus dalam memegang tanah-tanah yang berada di kelerengan >45o, tanah yang licin atau tanah-tanah yang labil. Pohon Aren adalah merupakan salah satu jenis pohon yang anti longsor karena dipengaruhi penetrasi akar-akarnya kedalam tanah sehingga memungkinkan pohon ini tetap tegak berdiri dibanding jenis pohon yang lain.
Manfaat Aren dalam konservasi air
Pohon Aren adalah satu dari 3 jenis pohon penunggu mata air selain pohon Beringin dan pohon Gayam. Pada mata air-mata air tua masih dijumpai keberadaan ketiga jenis ini. Secara morfologis pohon Aren berfungsi sebagai penangkap, penyaring dan penyimpan air.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dinyatakan bahwa setiap pelepah daun pohon Aren mampu menyimpan air 2 liter per jam saat hujan. Air ini secara perlahan akan masuk ke dalam lapisan ijuk yang membungkus batang. Selanjutnya air ini akan turun dan disaring oleh lapisan ijuk hingga mencapai tanah dan disimpan oleh serabut-serabut akarnya. Effisiensi proses transpirasi air yang melalui pohon Aren sangat tinggi karena hanya sekitar 5% saja air yang akan hilang. Banyaknya air yang terserap oleh pohon Aren dapat mencegah Bleaching permukaan tanah.
Manfaat Aren dalam konservasi satwa
Kebanyakan pohon Aren tumbuh secara alami. Tetapi biji pohon Aren tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Kulit buah yang tebal adalah bentuk dormancy dan menghambat proses perkecambahan. Secara alami biji yang bisa tumbuh adalah biji yang sudah di kerat oleh binatang musang atau bajing. Terjadi simbiosis mutualiasme antara binatang pengerat dengan biji pohon Aren.
Ketika populasi binatang pengerat menurun populais pohon Aren pun akan berkurang, begitu pula ketika populasi pohon Aren meningkat, maka akan meningkat pula populasi binatang pengerat. Binatang pengerat adalah prey (mangsa) bagi satwa-satwa jenis predator seperti Elang, Kucing hutan, Macan dll.
Seperti pada tanaman jenis palem-paleman, akar pohon Aren berbentuk/bertipe serabut. Pada pohon dewasa panjang akar bissa mencapai kedalaman 6-7 meter. Karakteristik akar seperti ini sangat bagus dalam memegang tanah-tanah yang berada di kelerengan >45o, tanah yang licin atau tanah-tanah yang labil. Pohon Aren adalah merupakan salah satu jenis pohon yang anti longsor karena dipengaruhi penetrasi akar-akarnya kedalam tanah sehingga memungkinkan pohon ini tetap tegak berdiri dibanding jenis pohon yang lain.
Manfaat Aren dalam konservasi air
Pohon Aren adalah satu dari 3 jenis pohon penunggu mata air selain pohon Beringin dan pohon Gayam. Pada mata air-mata air tua masih dijumpai keberadaan ketiga jenis ini. Secara morfologis pohon Aren berfungsi sebagai penangkap, penyaring dan penyimpan air.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dinyatakan bahwa setiap pelepah daun pohon Aren mampu menyimpan air 2 liter per jam saat hujan. Air ini secara perlahan akan masuk ke dalam lapisan ijuk yang membungkus batang. Selanjutnya air ini akan turun dan disaring oleh lapisan ijuk hingga mencapai tanah dan disimpan oleh serabut-serabut akarnya. Effisiensi proses transpirasi air yang melalui pohon Aren sangat tinggi karena hanya sekitar 5% saja air yang akan hilang. Banyaknya air yang terserap oleh pohon Aren dapat mencegah Bleaching permukaan tanah.
Manfaat Aren dalam konservasi satwa
Kebanyakan pohon Aren tumbuh secara alami. Tetapi biji pohon Aren tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Kulit buah yang tebal adalah bentuk dormancy dan menghambat proses perkecambahan. Secara alami biji yang bisa tumbuh adalah biji yang sudah di kerat oleh binatang musang atau bajing. Terjadi simbiosis mutualiasme antara binatang pengerat dengan biji pohon Aren.
Ketika populasi binatang pengerat menurun populais pohon Aren pun akan berkurang, begitu pula ketika populasi pohon Aren meningkat, maka akan meningkat pula populasi binatang pengerat. Binatang pengerat adalah prey (mangsa) bagi satwa-satwa jenis predator seperti Elang, Kucing hutan, Macan dll.
pembangunan terminal di taman nasional kutai
Sangatta, Kompas - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyatakan tetap membangun terminal di kawasan Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Alasannya, pembangunan itu telah mendapat persetujuan Menteri Kehutanan dan demi kepentingan umum.
Bupati Kutai Timur Isran Noor, yang ketika dihubungi sedang di Jakarta mengikuti Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat, Senin (9/2), menjelaskan, pembangunan terminal tidak akan merusak kawasan hutan dan sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. ”Hutan sudah rusak duluan,” paparnya.
Karena demi kepentingan umum dan sudah disetujui Menteri Kehutanan, lanjut Isran, pembangunan tidak bisa ditunda. Dalam konteks itu, pemeriksaan terhadap pimpinan Dinas Perhubungan Kutai Timur oleh penyidik Balai Taman Nasional (TN) Kutai dianggapnya sebagai perilaku berlebihan.
Terkait pernyataan itu, Kepala Balai TN Kutai Tandya Tjahjana menyatakan, tidak ada izin pembangunan terminal. ”Balai TN Kutai sudah mengeluarkan berkali-kali peringatan agar pembangunan terminal dihentikan, tapi tak digubris,” ujarnya.
Pembangunan terminal di TN Kutai hanyalah satu contoh dari kehancuran hutan taman nasional tersebut. Selain terminal, saat ini di sana sudah ada ratusan rumah dan kios warga serta ladang pertanian. Kehancuran taman nasional yang memiliki hewan endemis orangutan dan rusa asal Kalimantan ini terjadi sejak tahun 1990-an ketika dibuat jalan trans-Kalimantan yang membelah TN Kutai.
Menurut Tandya, kerusakan TN Kutai telah mencapai 50 persen atau 99.314,5 hektar dari total 198.529 hektar yang mencakup Kabupaten Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Kota Bontang ”Di TN Kutai telah berdiri 16 menara telekomunikasi, dua stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, ribuan rumah di tujuh desa atau dua kecamatan yang dihuni 22.876 jiwa, dan terminal angkutan umum. Semua itu tidak berizin,” katanya.
Secara terpisah, mantan Kepala Balai TN Kutai Agus Budiono mengatakan, jalan Bontang-Sangatta membelah TN Kutai sepanjang 54 kilometer. Jalan dibangun atas desakan Pemerintah Provinsi Kaltim pada tahun 1990-an agar warga di dua daerah itu bisa berhubungan, tidak lagi lewat perairan Selat Makassar. ”Setahu saya, Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim dulu menolak usul pembangunan jalan itu,” katanya. (BRO/AIK/RYO/FUL)
Bupati Kutai Timur Isran Noor, yang ketika dihubungi sedang di Jakarta mengikuti Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat, Senin (9/2), menjelaskan, pembangunan terminal tidak akan merusak kawasan hutan dan sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. ”Hutan sudah rusak duluan,” paparnya.
Karena demi kepentingan umum dan sudah disetujui Menteri Kehutanan, lanjut Isran, pembangunan tidak bisa ditunda. Dalam konteks itu, pemeriksaan terhadap pimpinan Dinas Perhubungan Kutai Timur oleh penyidik Balai Taman Nasional (TN) Kutai dianggapnya sebagai perilaku berlebihan.
Terkait pernyataan itu, Kepala Balai TN Kutai Tandya Tjahjana menyatakan, tidak ada izin pembangunan terminal. ”Balai TN Kutai sudah mengeluarkan berkali-kali peringatan agar pembangunan terminal dihentikan, tapi tak digubris,” ujarnya.
Pembangunan terminal di TN Kutai hanyalah satu contoh dari kehancuran hutan taman nasional tersebut. Selain terminal, saat ini di sana sudah ada ratusan rumah dan kios warga serta ladang pertanian. Kehancuran taman nasional yang memiliki hewan endemis orangutan dan rusa asal Kalimantan ini terjadi sejak tahun 1990-an ketika dibuat jalan trans-Kalimantan yang membelah TN Kutai.
Menurut Tandya, kerusakan TN Kutai telah mencapai 50 persen atau 99.314,5 hektar dari total 198.529 hektar yang mencakup Kabupaten Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Kota Bontang ”Di TN Kutai telah berdiri 16 menara telekomunikasi, dua stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, ribuan rumah di tujuh desa atau dua kecamatan yang dihuni 22.876 jiwa, dan terminal angkutan umum. Semua itu tidak berizin,” katanya.
Secara terpisah, mantan Kepala Balai TN Kutai Agus Budiono mengatakan, jalan Bontang-Sangatta membelah TN Kutai sepanjang 54 kilometer. Jalan dibangun atas desakan Pemerintah Provinsi Kaltim pada tahun 1990-an agar warga di dua daerah itu bisa berhubungan, tidak lagi lewat perairan Selat Makassar. ”Setahu saya, Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim dulu menolak usul pembangunan jalan itu,” katanya. (BRO/AIK/RYO/FUL)
PROFIL RESORT SANGKIMA TAMAN NASIONAL KUTAI
I. Letak dan luas
resort sangkima adalah merupakan bagian dari wilayah seksi taman nasional kutai wilayah I sangata, dimana batas sebelah timur adalah selat makasar dan sebelah barat berbatasan dengan seksi pengelolaan taman nasional wilayah II tenggarong dan disebelah selatan berbatasan dengan resort teluk pandan serta sebelah utara berbatasan dengan resort sangata.
Sedangkan luas resort sangkima adalah seluas 42.532,8 Ha atau setara dengan 21% dari luas keseluruhan taman nasional kutai. Secara administrative resort sangkima berada di kecamatan sangata selatan kabupaten kutai timur dan berada diantara resort sangata dan resort teluk pandan.
Wilayah resort sangkima memiliki topografi berbukit walaupun sebagian ada yang memiliki topografi datar. Kondisi tersebut dikarenakan sebagian resort sangkima berada di pesisir pantai selat makasar sehingga sebagian daerahnya adalah memiliki topografi yang datar.
Desa-desa yang ada di resort sangkima yaitu desa sangkima lama dan desa sangkima. Sedangkan desa yang ada disekitar resor sangkima antara lain desa kandolo, desa sangata selatan dan desa sing geweh.
II. Potensi resort sangkima
a. Potensi flora
Potensi flora yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam yang terdiri dari berbagai jenis tanaman. Beberapa jenis tanaman merupakan tumbuhan obat. Jenis jenis flora yang ada di resort sangkima antara lain : meranati, kapur, keruing, merading, puspa, pulai, simpur, kayu arang, ulin, merbau, jambu-jambuan,bakau, tancang, cemara laut, waru laut, ara, perupuk, terap, mangga, benuang, bayur dan bungur.
b. Potensi fauna
Potensi fauna yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam, antara lain : orang utan, bekantan, owa-owa, lutung biasa, kera ekor panjang, beruk, rusa, kijang, kancil, babi, beruang madu, kucing dahan.
III. Potensi wisata
Potensi wisata yang ada di resort sangkima antara lain :
1. Wisata alam sangkima
Sarana dan prasarana yang terkait denag wisata alam yang ada di obyek daerah tujuan wisata alam sangkima antara lain: guest house, balai pertemuan, musholla, loket wisata dan track wisata alam (board walk). Selain itu didalam kawasan wisata ini dikembangkan juga berbagai jenis tantangan out bond seperti jembatan gantung, jembatan sling, shelter bagi para pengunjung yang merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak dan rumah pohon. Pada wisata alam ini juga terdapat pohon ulin eksotis dengan ukuran raksasa.
2. Pantai teluk Lombok
Kawasan pantai teluk Lombok sampai saat ini belum terlalu dikembangkan menjadi suatu kawasan wisata alam andalan bagi taman nasional kutai.
resort sangkima adalah merupakan bagian dari wilayah seksi taman nasional kutai wilayah I sangata, dimana batas sebelah timur adalah selat makasar dan sebelah barat berbatasan dengan seksi pengelolaan taman nasional wilayah II tenggarong dan disebelah selatan berbatasan dengan resort teluk pandan serta sebelah utara berbatasan dengan resort sangata.
Sedangkan luas resort sangkima adalah seluas 42.532,8 Ha atau setara dengan 21% dari luas keseluruhan taman nasional kutai. Secara administrative resort sangkima berada di kecamatan sangata selatan kabupaten kutai timur dan berada diantara resort sangata dan resort teluk pandan.
Wilayah resort sangkima memiliki topografi berbukit walaupun sebagian ada yang memiliki topografi datar. Kondisi tersebut dikarenakan sebagian resort sangkima berada di pesisir pantai selat makasar sehingga sebagian daerahnya adalah memiliki topografi yang datar.
Desa-desa yang ada di resort sangkima yaitu desa sangkima lama dan desa sangkima. Sedangkan desa yang ada disekitar resor sangkima antara lain desa kandolo, desa sangata selatan dan desa sing geweh.
II. Potensi resort sangkima
a. Potensi flora
Potensi flora yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam yang terdiri dari berbagai jenis tanaman. Beberapa jenis tanaman merupakan tumbuhan obat. Jenis jenis flora yang ada di resort sangkima antara lain : meranati, kapur, keruing, merading, puspa, pulai, simpur, kayu arang, ulin, merbau, jambu-jambuan,bakau, tancang, cemara laut, waru laut, ara, perupuk, terap, mangga, benuang, bayur dan bungur.
b. Potensi fauna
Potensi fauna yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam, antara lain : orang utan, bekantan, owa-owa, lutung biasa, kera ekor panjang, beruk, rusa, kijang, kancil, babi, beruang madu, kucing dahan.
III. Potensi wisata
Potensi wisata yang ada di resort sangkima antara lain :
1. Wisata alam sangkima
Sarana dan prasarana yang terkait denag wisata alam yang ada di obyek daerah tujuan wisata alam sangkima antara lain: guest house, balai pertemuan, musholla, loket wisata dan track wisata alam (board walk). Selain itu didalam kawasan wisata ini dikembangkan juga berbagai jenis tantangan out bond seperti jembatan gantung, jembatan sling, shelter bagi para pengunjung yang merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak dan rumah pohon. Pada wisata alam ini juga terdapat pohon ulin eksotis dengan ukuran raksasa.
2. Pantai teluk Lombok
Kawasan pantai teluk Lombok sampai saat ini belum terlalu dikembangkan menjadi suatu kawasan wisata alam andalan bagi taman nasional kutai.
profil resort sangata taman nasional kutai
A. Letak dan luas
kawasan resort sangata seksi wilayah I sangata seluas 22.327,85 Ha. Secara administratif pemerintah termasuk dalam wilayah kabupaten kutai timur. Batas wilayah resort sangata seksi pengelolaan taman nasional wilayah I meliputi :
* sebelah utara dibatasi sungai sangata dan HPH PT. Porodisa
* sebelah timur dibatasi oleh selat Makasar
* sebelah selatan berbatasan dengan resort Sangkima
* sebelah barat berbatasan dengan kawasan seksi pengelolaan taman nasional
wilayah II Tenggarong, tepatnya dengan resort Mawai indah
menurut zonasinya resort sangata termasuk zona rimba dan zona pemanfaatan.
B. Geologi dan tanah
berdsarkan peta geologi Kalimantan timur, formasi geologi ini meliputi :
* di bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang
* di bagian tengah terdiri dari batuan sedimen miosen atas
1. Topografi
Secara topografi resort Sangata berbukit (bergelombang ringan, sedang sampai berat) dengan ketinggian 70 - 200 meter dari permukaan laut
dari arah timur ke barat terdapat beberapa gunung, yaitu gunung baruang, gunung labasan, gunung tukung, gunung melawn dan gunung mentoko
sungai-sungai di resort sangata antara lain sungai sangata, sungai benu muda, sungai nyudan, sungai melawan, sungai selayar dan sungai masabang
2. Iklim
berdasarkan klasifikasi Scmidt dan Ferguson, secara umum resort Sangata kawasan hutannya beriklim tipe B. dipengaruhi iklim tropis basah dengan ciri khas hujan sepanjang tahun, karena itu hampir tidak memiliki perbedaan pada pergantian musim hujan dan kemarau
angin barat umumnya terjadi pada bulan november sampai dengan april dan musim timur terjadi pada bulan mei sampai dengan bulan oktober.
berdasarkan data curah hujan 675 mm/ tahun, jumlah hari hujan terbanyak 32 hari.
3. Hidrologi/ pola air sungai
keadaan permukaan tanah resort Sangata secara umum berbukit dan bergelombang mengakibatkan terjadinya aliran-aliran sungai yang cukup banyak tersebar hampir di seluruh bagian resort sangata. Dikawasan resort Sangata seksi pengelolaan taman nasional wilayah I sangata daerah aliran sungai yang utama adalah sungai sangata bermuara di pantai selat makasar.
POTENSI KAWASAN RESORT SANGATA
A. Potensi flora
daerah penyebaran formasi ulin, meraanti, kapur terdapat disebelah dalam melawan dan prevab, disekitar riam senara, sekitar sungai benu muda dan sungai benu tua.
pada areal lainnya terutama disekitar riam batu rumah banyak ditemukan lokasi bekas terbakar yang telah menjadi hutan sekunder yang ditandai dengan tumbuhnya jenis-jenis elativ seperti macaranga spp., piper aduncum, trema orientalis, melostoma malabraticum, dan lain lain.
di hutan bagian dalam prevab juga ditemui jenis eusideroxylon malagangae (ulin sirap), Eurycoma longifolia (pasak bumi), Dracontomelon dao (sengkuang), Cananga odorata, Ficus spp., Eugenia spp., Borassodendron borneensis (bendang), baccaurea sanguineana, Dimocarpus longan, dan lain lain.
sedangkan di beberapa tempat di sungai galah (anak sungai sangata) ditemukan jenis Scorodocarpus borneensis (kayu bawang hutan), vitex pinnata (laban), Octomeles sumatrana. sedangkan di sekitar sungai semaduningkat (anak sungai sangata) ditemukan jenis Knema latricia (mardarah).
kawasan ini juga masih terdapat beberapa mangrove yang relatif lebih bagus yaitu disekitar muara sungai sangata.
B. Potensi fauna
pada kawasan resort sangata, terutama dari mulai daerah seberang dusun kabo jaya sampai dengan sungai benu tua banyak dijumpai sarang orang utan terutama disekitar pinggiran sungai sangata. owa owa terdapat disekitar sungai galah dan disekitar sungai benu tua.
jenis dari kelas mamalia yaitu rusa sambar, babi hutan, kancil, kijang dan napubanyak ditemukan jejaknya disebelah dalam prevab, mentoko, sekitar riam batu merah, dan disekitar melawan. beruang juga terdapat di prevab, sedangkan jejak banteng ditemukan disekitar Goa kelelawar (bagian sebelah dalam prevab). didaerah ini juga terdapat mamalia kecil seperti bajing kerdil polos, bajing kerdil telinga hitam, bajing kelapa dan bajing besar. disekitar sungai leang di prevab ditemukan jejak berang berang dan kucing batu. dari kelas reptilian dari laporan masyarakat dan perjumpaan secara langsung ditemukan buaya muara di muara sungai sangata, sedangkan biawak dan kadalbanyak dijumpai di pinggiran sungai sangata dan di prevab. ditemukan juga ular kobra disekitar muara sungai benu tua. sedangkan di prevab ditemukan pula jenis bunglon sisir dan bunglon biasa.
C. Potensi fisik (keindahan alam)
resort sangata memiliki beberapa kindahan alam diantaranya adalah air tejun prevab dan goa kelelawar. sedangkan di hulu sungai sangata banyak ditemukan riam kurang lebih sebanyak 10 riam, yang diantaranya bernama riam batu buan, riam sambut tangan, riam takalak, riam batu rumah, riam panjang dan lain lain.
panorama hutan hujan tropis dataran rendah dengan out bond dapat di jumpai di prevab dengan fasilitas sederhana berupa bangunan PIPLH (pusat informasi dan pendidikan lingkungan hidup), pondok penilitian orang utan Dr. Akira Suzuki dan beberapa shelter trek wisata rute kancil (pendidikan cinta lingkungan), terdapat penelitian orang utan oleh Prof. Ane Russon juga ada di daerah Benili tepatnya disekitar Semadu Ningkat dan berjalan sampai sekarang.
kawasan resort sangata seksi wilayah I sangata seluas 22.327,85 Ha. Secara administratif pemerintah termasuk dalam wilayah kabupaten kutai timur. Batas wilayah resort sangata seksi pengelolaan taman nasional wilayah I meliputi :
* sebelah utara dibatasi sungai sangata dan HPH PT. Porodisa
* sebelah timur dibatasi oleh selat Makasar
* sebelah selatan berbatasan dengan resort Sangkima
* sebelah barat berbatasan dengan kawasan seksi pengelolaan taman nasional
wilayah II Tenggarong, tepatnya dengan resort Mawai indah
menurut zonasinya resort sangata termasuk zona rimba dan zona pemanfaatan.
B. Geologi dan tanah
berdsarkan peta geologi Kalimantan timur, formasi geologi ini meliputi :
* di bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang
* di bagian tengah terdiri dari batuan sedimen miosen atas
1. Topografi
Secara topografi resort Sangata berbukit (bergelombang ringan, sedang sampai berat) dengan ketinggian 70 - 200 meter dari permukaan laut
dari arah timur ke barat terdapat beberapa gunung, yaitu gunung baruang, gunung labasan, gunung tukung, gunung melawn dan gunung mentoko
sungai-sungai di resort sangata antara lain sungai sangata, sungai benu muda, sungai nyudan, sungai melawan, sungai selayar dan sungai masabang
2. Iklim
berdasarkan klasifikasi Scmidt dan Ferguson, secara umum resort Sangata kawasan hutannya beriklim tipe B. dipengaruhi iklim tropis basah dengan ciri khas hujan sepanjang tahun, karena itu hampir tidak memiliki perbedaan pada pergantian musim hujan dan kemarau
angin barat umumnya terjadi pada bulan november sampai dengan april dan musim timur terjadi pada bulan mei sampai dengan bulan oktober.
berdasarkan data curah hujan 675 mm/ tahun, jumlah hari hujan terbanyak 32 hari.
3. Hidrologi/ pola air sungai
keadaan permukaan tanah resort Sangata secara umum berbukit dan bergelombang mengakibatkan terjadinya aliran-aliran sungai yang cukup banyak tersebar hampir di seluruh bagian resort sangata. Dikawasan resort Sangata seksi pengelolaan taman nasional wilayah I sangata daerah aliran sungai yang utama adalah sungai sangata bermuara di pantai selat makasar.
POTENSI KAWASAN RESORT SANGATA
A. Potensi flora
daerah penyebaran formasi ulin, meraanti, kapur terdapat disebelah dalam melawan dan prevab, disekitar riam senara, sekitar sungai benu muda dan sungai benu tua.
pada areal lainnya terutama disekitar riam batu rumah banyak ditemukan lokasi bekas terbakar yang telah menjadi hutan sekunder yang ditandai dengan tumbuhnya jenis-jenis elativ seperti macaranga spp., piper aduncum, trema orientalis, melostoma malabraticum, dan lain lain.
di hutan bagian dalam prevab juga ditemui jenis eusideroxylon malagangae (ulin sirap), Eurycoma longifolia (pasak bumi), Dracontomelon dao (sengkuang), Cananga odorata, Ficus spp., Eugenia spp., Borassodendron borneensis (bendang), baccaurea sanguineana, Dimocarpus longan, dan lain lain.
sedangkan di beberapa tempat di sungai galah (anak sungai sangata) ditemukan jenis Scorodocarpus borneensis (kayu bawang hutan), vitex pinnata (laban), Octomeles sumatrana. sedangkan di sekitar sungai semaduningkat (anak sungai sangata) ditemukan jenis Knema latricia (mardarah).
kawasan ini juga masih terdapat beberapa mangrove yang relatif lebih bagus yaitu disekitar muara sungai sangata.
B. Potensi fauna
pada kawasan resort sangata, terutama dari mulai daerah seberang dusun kabo jaya sampai dengan sungai benu tua banyak dijumpai sarang orang utan terutama disekitar pinggiran sungai sangata. owa owa terdapat disekitar sungai galah dan disekitar sungai benu tua.
jenis dari kelas mamalia yaitu rusa sambar, babi hutan, kancil, kijang dan napubanyak ditemukan jejaknya disebelah dalam prevab, mentoko, sekitar riam batu merah, dan disekitar melawan. beruang juga terdapat di prevab, sedangkan jejak banteng ditemukan disekitar Goa kelelawar (bagian sebelah dalam prevab). didaerah ini juga terdapat mamalia kecil seperti bajing kerdil polos, bajing kerdil telinga hitam, bajing kelapa dan bajing besar. disekitar sungai leang di prevab ditemukan jejak berang berang dan kucing batu. dari kelas reptilian dari laporan masyarakat dan perjumpaan secara langsung ditemukan buaya muara di muara sungai sangata, sedangkan biawak dan kadalbanyak dijumpai di pinggiran sungai sangata dan di prevab. ditemukan juga ular kobra disekitar muara sungai benu tua. sedangkan di prevab ditemukan pula jenis bunglon sisir dan bunglon biasa.
C. Potensi fisik (keindahan alam)
resort sangata memiliki beberapa kindahan alam diantaranya adalah air tejun prevab dan goa kelelawar. sedangkan di hulu sungai sangata banyak ditemukan riam kurang lebih sebanyak 10 riam, yang diantaranya bernama riam batu buan, riam sambut tangan, riam takalak, riam batu rumah, riam panjang dan lain lain.
panorama hutan hujan tropis dataran rendah dengan out bond dapat di jumpai di prevab dengan fasilitas sederhana berupa bangunan PIPLH (pusat informasi dan pendidikan lingkungan hidup), pondok penilitian orang utan Dr. Akira Suzuki dan beberapa shelter trek wisata rute kancil (pendidikan cinta lingkungan), terdapat penelitian orang utan oleh Prof. Ane Russon juga ada di daerah Benili tepatnya disekitar Semadu Ningkat dan berjalan sampai sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)