Brucea javanica (L.) Merr.
Klasifikasi :
Suku : Simaroubaceae
Marga : Brucea
Sinonim : Brucea sumatrana, Brucea amarissima
Nama Lokal : Kwalot
Nama Daerah : Cerek jantan, Taun, Ki padessa, Belilik, Amber merica
Begitu banyak potensi tumbuhan obat di Taman Nasional Kutai yang belum terekspos. Salah satunya adalah Brucea javanica. Tumbuhan ini dapat hidup pada daerah dengan ketinggian 0,5-550 m dpl. Dan biasanya terdapat pada belukar, di tepi sungai, hutan jati, hutan sekunder muda, dan sebagai tanaman pagar. Bentuknya memang tidak terlalu menarik dan terlihat seperti semak biasa. Tapi jangan salah.. seluruh bagian tumbuhan ini berfungsi dalam dunia pengobatan tradisional. Seperti kata pepatah don’t judge a book by its cover. Jadi, jangan menilai tumbuhan ini dari bentuk luarnya saja. Untuk lebih jelas mengenal fungsi dan bagaimana mengindentifikasi jenis ini, ulasannya ada di bawah ini.
Identifikasi:
Habitus berupa semak tinggi, tegak, tinggi 1-2,5 m. Batang berkayu, bulat, berbintik-bintik, putih kotor. Susunan daun menyirip ganjil. Anak daun 5-13, sebagian besar berhadapan, anak daun berbentuk bulat telur memanjang lanset, ujung meruncing, tepi bergerigi beringgit, pangkal membulat atau runcing. Bunga berkelamin 1 atau 2, bentuk malai panjang 2-30 cm, tangkai silindris, panjang l 0-60 cm, kehijauan. Perhiasan bunga berupa kelopak dengan daun kelopak lonjong, segmen kelopak sangat kecil, bentuk oval bulat telur terbalik, 0.75-1 mm.
Mahkota bunga memiliki 5 daun mahkota, bentuk memanjang, tumpul, berambut jarang, sepanjang tepi berkelenjar, berwarna hijau ungu. Benang sari sebanyak daun mahkota, kepala sari tidak ada pada bunga betina. Putik pada bunga jantan rudimenter, bertajuk 4. Pada bunga yang berkelamin 2 atau bunga betina bakal buah dan tangkai putik 4, lepas, tonjolan penebalan dasar bunga jelas. Waktu berbunga Januari – Desember. Buah dan biji seperti batu, bulat, hitam. Akar tunggang, putih kotor.
Khasiat :
Biji Brucea javanica mengandung zat pahit, triterpen, sterin, lilin, senyawa fenolik (zat samak). Zat pahit yang terdapat dalam biji Brucea javanica L. Meer terdiri dari bruseantin, bruseantinol, brusein A, B, C, D, dehidrobusein A, brusatol, yadanziolid, yadanziolid A, yadanziolid C, yadanziolid F, senyawa pahit mirip kantin-6-on. Bagian biji digunakan untuk pengobatan penyakit antara lain kanker, disentri, malaria. Akar digunakan untuk mengobati demam, disentri, batuk, rematik. Daun digunakan untuk mengobati demam, kudis, bisul, penawar racun lipan. Buah digunakan untuk mengurangi perdarahan, disentri. Seluruh bagian tumbuhan digunakan dalam pengobatan demam, kejang perut, disentri.
Contoh Penggunaan:
• Pengobatan disentri amuba: 7-10 buah biji kwalot dibuat infusa dengan 110 ml air, diminum 1 kali sehari 100 ml, diulang selama 12 hari.
• Pengobatan malaria: 7-10 buah biji kwalot, 7 gram herba meniran, 1 gram kulit kayu pule dan 110 ml air, dibuat infusa; diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 14 hari; untuk pemeliharaan diminum 1 kali sebulan 100 ml.
• Pengobatan diare: 5 gram kulit batang dicuci, diseduh dengan 1 gelas air panas matang. Hasil seduhan diminum dua kali sama banyak selang 2 jam.
Referensi:
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Yayasan Sarana Wama Jaya. Jakarta.
Kebler, P.J.A. 2000. Pohon-Pohon Hutan Kalimantan Timur, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 2.
http://subject.forest.gov.tw
http://www.iptek.net.id
Cari Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label TNK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNK. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Juni 2011
Minggu, 13 Juni 2010
Kebakaran Hutan dan Lahan di taman nasional kutai
Musim kemarau yang sedang melanda sebagian besar wilayah Indonesia membawa sebuah kado ulang tahun yang membuat kita semua merasa miris dan malu. Kebakaran hutan dan lahan memang ibarat sebuah peringatan ulang tahun yang selalu berulang setiap tahunnya dan Indonesia dianggap sebagai negara pengekspor asap oleh Malaysia dan Singapura. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan baik yang di sengaja (ulah manusia) maupun tidak di sengaja (alami).
1. kebakaran hutan yang tidak di sengaja adalah kebakaran hutan yang disebabkan oleh alam sebagai faktor penyebab utamanya karena adanya kandungan batubara dalam jumlah banyak yang diakumulasi oleh suhu panas matahari dalam jangka waktu yang cukup lama, Petir atau penyinaran matahari yang sangat lama pada biomasa kering seperti ilalang bisa menjadi salah satu penyebab terbakarnya hutan ataupun lahan secara tidak sengaja (alami) tetapi harus tetap kita cermati bahwa hal tersebut kemungkinannya sangat kecil sekali terjadi di Kalimantan Timur. Kalaupun ada batubara yang masih menyala dan berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, pada awalnya batubara tersebut menyala karena kebakaran hutan dan lahan yang disebabkan oleh manusia. Jadi tidak ada batubara yang menyala dengan sendirinya.
2. Faktor penyebab terbesar dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia termasuk yang terjadi kawasan konservasi TN Kutai saat ini adalah akibat ulah segelintir MANUSIA (oknum) dan segala kepentingannya.
Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebutkan, hingga Agustus 2009 jumlah lahan dan hutan terbakar di Indonesia mencapai 3626,4 ha. Walhi juga mendeteksi adanya 24.176 titik api di seluruh Indonesia, di mana yang tertinggi berada di Kalimantan Barat.
Eksploitasi terhadap hutan alam dalam skala massif yang mulai dilakukan pada awal tahun 1970-sekarang telah menyebabkan hutan-hutan alam rusak parah. Hutan telah di konversi dan dialihfungsikan. Hutan-hutan telah terdegradasi yang menyebabkan kehilangan keseimbangan ekologis sehingga rentan terhadap kebakaran. Ada beberapa tujuan masyarakat dan dunia usaha membakar hutan antara lain :
1. Penyiapan lahan untuk dijadikan areal perkebunan, pertambangan, tarnsmigrasi, ladang , HTI dll.
2. Sengketa lahan antar berbagai pihak yang juga dapat dilampiaskan dengan cara membakar lahan sengketa.
3. Merusak hutan lindung atau kawasan konservasi dengan menggunakan api, dengan harapan agar kawasan yang rusak tersebut akan dibebaskan.
4. Kelalaian pada saat mengumpulkan hasil hutan dan membuang puntung rokok yang masih menyala di tempat2 yang mengandung banyak bahan bakar.
5. Keisengan.
Semakin hari alasan masyarakat dan dunia usaha untuk membakar hutan dan lahan semakin beragam yang mengakibatkan laju kerusakan kawasan hutan dan areal konservasi lainnya semakin parah. Taman Nasional Kutai (TN Kutai) termasuk salah satu kawasan yang rawan bahaya kebakaran hutan dan lahan Pasalnya akses menuju TN Kutai dapat dilalui oleh masyarakat umum setiap harinya hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat yang bermukim dikawasan tersebut. Saat ini saja apabila kita melintasi jalan poros Bontang – Sangatta akan banyak kita jumpai titik-titik kepulan asap yang berasal dari pembakaran hutan dan lahan yang sengaja dibakar oleh masyarakat untuk membuka lahan perkebunan dan pertanian.
Masalah kebakaran hutan dan lahan sudah mencapai pada titik yang paling kritis, yang ditandai dengan kerentanan terhadap kebakaran yang cukup tinggi. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan
Dampak terhadap sosial budaya dan ekonomi:
a. Hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat dan terganggunya aktivitas sehari-hari.
b. Peningkatan jumlah hama.
c. Terganggunya kesehatan: Brochitis, ISPA, diare dll.
Dampak terhadap ekologis dan kerusakan lingkungan
a. Hilangnya sejumlah spesies flora dan fauna
b. Terjadinya banjir di daerah yang hutan gambutnya terbakar
c. Polusi udara dan air
d. Pada jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah
Secara fisik
a. Tanah menjadi rusak dan terbuka sehingga ketika terjadi hujan maka lapisan tanah teratas akan terbawa ke sungai dan mengendap disana (sedimentasi). Lama kelamaan sungai menjadi dangkal sehingga ketika musim hujan yang panjang akan menyebabkan banir
b. Mempercepat proses penggerusan lapisan hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh subur
Secara Kimia & Biologi
a. Terjadinya peningkatan keasaman tanah
b. Membunuh organisme tanah yang bermanfaat bagi upaya peningkatan kesuburan tanah
Kerugian dari kebakaran hutan/lahan
a. Hilangnya tegakan kayu hutan di hutan
b. Hilangnya hasil hutan non kayu sperti karet, damar, rotan dll
c. Hilangnya tumbuhan maupun bibit yang bermanfaat bagi manusia, misalnya tanaman obat dll.
d. Hilangnya tempat berekreasi
e. Hilangnya fungsi penyediaan air bagi pertanian
f. Hilangnya flora dan fauna yang memperkaya pengetahuan manusia
g. Mempercepat terjadinya perubahan iklim (climate change). Pada ketinggian 10 km diatas bumi terdapat lapisan ozon yang tugasnya melindungi bumi dari beberapa unsur cahaya matahari yang merusak. Ketiadaan lapisan ozon akan membuat matahari menyinari bumi secara langsung dan mengakibatkan kanker kulit pada manusia. Karbon yang terlepas ke udara dari hasil kebakaran hutan/lahan akan menyebabkan lapisan ozon rusak sehingga bahan berbahaya dari matahari akan sampai ke bumi tanpa halangan. Disamping itu, karbon tersebut juga akan terperangkap di atas awan pada ketinggian 5 – 7 km. Akibatnya, panas dari sinar matahari tidak dapat keluar dari bumi sehingga suhu udara akan semakin bertambah. Suhu udara di bumi rata-rata bertambah 2 derajad celcius setiap 10 tahun sejak 1980.
h. Terganggunya jalur transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara serta kenyamanan lainnya.
Langkah-langkah yang diambil dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan
1. Memberi kemudahan mengakses informasi cuaca dan tingkat kerawanan kebakaran ‘Fire Danger Rating’ dengan cara memasang neon box prakiraan cuaca dan memasang FDR pada pusat-pusat keramaian atau di kawasan.
2. Melakukan patroli untuk memantau titik-titik yang dianggap berbahaya dan berpotensi kebakaran
3. Penyuluhan guna memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya hutan sebagai sumber kehidupan (pengatur tata air,pengatur iklim mikro,penyaring udara, mengembalikan kesuburan tanah, nilai keindahan dan pendidikan dll) dan dampak negatif yang terjadi. Dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat diharapkan akan merubah perilaku mereka dari tidak peduli menjadi sebuah motor untuk ikut menjaga kelestarian Taman Nasional Kutai.
4. Menindak tegas perusahaan pelaku pembakar lahan dan hutan, sebagaimana secara jelas telah diatur di dalam paket UU (Kehutanan, Perkebunan, dan Lingkungan Hidup), serta Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian Kerusakan Dan/Atau pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan Atau Lahan.
5. Mengoptimalkan kerja seluruh petugas penanganan kebakaran hutan dan lahan yang ada (khususnya oleh Aparat Kepolisian dan Dinas Kehutanan) bahkan sejak tahun 2002 Taman Nasional Kutai telah memiliki Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Yang disingkat BEKANTAN dengan daerah operasi adalah Taman Nasional Kutai.
6. Membentuk tim pengendalian kebakaran berbasis masyarakat
Persoalan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di TN Kutai serta kawasan hutan lainnya memerlukan penanganan yang sangat serius baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan peran serta seluruh elemen masyarakat. Data dan fakta membuktikan dan semua bisa merasakan bahwa pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak cukup hanya dengan jargon belaka, tetapi harus benar-benar dilaksanakan kalau memang kita menginginkan TN Kutai lestari serta kualitas lingkungan hidup yang lebih baik.
1. kebakaran hutan yang tidak di sengaja adalah kebakaran hutan yang disebabkan oleh alam sebagai faktor penyebab utamanya karena adanya kandungan batubara dalam jumlah banyak yang diakumulasi oleh suhu panas matahari dalam jangka waktu yang cukup lama, Petir atau penyinaran matahari yang sangat lama pada biomasa kering seperti ilalang bisa menjadi salah satu penyebab terbakarnya hutan ataupun lahan secara tidak sengaja (alami) tetapi harus tetap kita cermati bahwa hal tersebut kemungkinannya sangat kecil sekali terjadi di Kalimantan Timur. Kalaupun ada batubara yang masih menyala dan berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, pada awalnya batubara tersebut menyala karena kebakaran hutan dan lahan yang disebabkan oleh manusia. Jadi tidak ada batubara yang menyala dengan sendirinya.
2. Faktor penyebab terbesar dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia termasuk yang terjadi kawasan konservasi TN Kutai saat ini adalah akibat ulah segelintir MANUSIA (oknum) dan segala kepentingannya.
Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebutkan, hingga Agustus 2009 jumlah lahan dan hutan terbakar di Indonesia mencapai 3626,4 ha. Walhi juga mendeteksi adanya 24.176 titik api di seluruh Indonesia, di mana yang tertinggi berada di Kalimantan Barat.
Eksploitasi terhadap hutan alam dalam skala massif yang mulai dilakukan pada awal tahun 1970-sekarang telah menyebabkan hutan-hutan alam rusak parah. Hutan telah di konversi dan dialihfungsikan. Hutan-hutan telah terdegradasi yang menyebabkan kehilangan keseimbangan ekologis sehingga rentan terhadap kebakaran. Ada beberapa tujuan masyarakat dan dunia usaha membakar hutan antara lain :
1. Penyiapan lahan untuk dijadikan areal perkebunan, pertambangan, tarnsmigrasi, ladang , HTI dll.
2. Sengketa lahan antar berbagai pihak yang juga dapat dilampiaskan dengan cara membakar lahan sengketa.
3. Merusak hutan lindung atau kawasan konservasi dengan menggunakan api, dengan harapan agar kawasan yang rusak tersebut akan dibebaskan.
4. Kelalaian pada saat mengumpulkan hasil hutan dan membuang puntung rokok yang masih menyala di tempat2 yang mengandung banyak bahan bakar.
5. Keisengan.
Semakin hari alasan masyarakat dan dunia usaha untuk membakar hutan dan lahan semakin beragam yang mengakibatkan laju kerusakan kawasan hutan dan areal konservasi lainnya semakin parah. Taman Nasional Kutai (TN Kutai) termasuk salah satu kawasan yang rawan bahaya kebakaran hutan dan lahan Pasalnya akses menuju TN Kutai dapat dilalui oleh masyarakat umum setiap harinya hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat yang bermukim dikawasan tersebut. Saat ini saja apabila kita melintasi jalan poros Bontang – Sangatta akan banyak kita jumpai titik-titik kepulan asap yang berasal dari pembakaran hutan dan lahan yang sengaja dibakar oleh masyarakat untuk membuka lahan perkebunan dan pertanian.
Masalah kebakaran hutan dan lahan sudah mencapai pada titik yang paling kritis, yang ditandai dengan kerentanan terhadap kebakaran yang cukup tinggi. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan
Dampak terhadap sosial budaya dan ekonomi:
a. Hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat dan terganggunya aktivitas sehari-hari.
b. Peningkatan jumlah hama.
c. Terganggunya kesehatan: Brochitis, ISPA, diare dll.
Dampak terhadap ekologis dan kerusakan lingkungan
a. Hilangnya sejumlah spesies flora dan fauna
b. Terjadinya banjir di daerah yang hutan gambutnya terbakar
c. Polusi udara dan air
d. Pada jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah
Secara fisik
a. Tanah menjadi rusak dan terbuka sehingga ketika terjadi hujan maka lapisan tanah teratas akan terbawa ke sungai dan mengendap disana (sedimentasi). Lama kelamaan sungai menjadi dangkal sehingga ketika musim hujan yang panjang akan menyebabkan banir
b. Mempercepat proses penggerusan lapisan hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh subur
Secara Kimia & Biologi
a. Terjadinya peningkatan keasaman tanah
b. Membunuh organisme tanah yang bermanfaat bagi upaya peningkatan kesuburan tanah
Kerugian dari kebakaran hutan/lahan
a. Hilangnya tegakan kayu hutan di hutan
b. Hilangnya hasil hutan non kayu sperti karet, damar, rotan dll
c. Hilangnya tumbuhan maupun bibit yang bermanfaat bagi manusia, misalnya tanaman obat dll.
d. Hilangnya tempat berekreasi
e. Hilangnya fungsi penyediaan air bagi pertanian
f. Hilangnya flora dan fauna yang memperkaya pengetahuan manusia
g. Mempercepat terjadinya perubahan iklim (climate change). Pada ketinggian 10 km diatas bumi terdapat lapisan ozon yang tugasnya melindungi bumi dari beberapa unsur cahaya matahari yang merusak. Ketiadaan lapisan ozon akan membuat matahari menyinari bumi secara langsung dan mengakibatkan kanker kulit pada manusia. Karbon yang terlepas ke udara dari hasil kebakaran hutan/lahan akan menyebabkan lapisan ozon rusak sehingga bahan berbahaya dari matahari akan sampai ke bumi tanpa halangan. Disamping itu, karbon tersebut juga akan terperangkap di atas awan pada ketinggian 5 – 7 km. Akibatnya, panas dari sinar matahari tidak dapat keluar dari bumi sehingga suhu udara akan semakin bertambah. Suhu udara di bumi rata-rata bertambah 2 derajad celcius setiap 10 tahun sejak 1980.
h. Terganggunya jalur transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara serta kenyamanan lainnya.
Langkah-langkah yang diambil dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan
1. Memberi kemudahan mengakses informasi cuaca dan tingkat kerawanan kebakaran ‘Fire Danger Rating’ dengan cara memasang neon box prakiraan cuaca dan memasang FDR pada pusat-pusat keramaian atau di kawasan.
2. Melakukan patroli untuk memantau titik-titik yang dianggap berbahaya dan berpotensi kebakaran
3. Penyuluhan guna memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya hutan sebagai sumber kehidupan (pengatur tata air,pengatur iklim mikro,penyaring udara, mengembalikan kesuburan tanah, nilai keindahan dan pendidikan dll) dan dampak negatif yang terjadi. Dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat diharapkan akan merubah perilaku mereka dari tidak peduli menjadi sebuah motor untuk ikut menjaga kelestarian Taman Nasional Kutai.
4. Menindak tegas perusahaan pelaku pembakar lahan dan hutan, sebagaimana secara jelas telah diatur di dalam paket UU (Kehutanan, Perkebunan, dan Lingkungan Hidup), serta Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian Kerusakan Dan/Atau pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan Atau Lahan.
5. Mengoptimalkan kerja seluruh petugas penanganan kebakaran hutan dan lahan yang ada (khususnya oleh Aparat Kepolisian dan Dinas Kehutanan) bahkan sejak tahun 2002 Taman Nasional Kutai telah memiliki Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Yang disingkat BEKANTAN dengan daerah operasi adalah Taman Nasional Kutai.
6. Membentuk tim pengendalian kebakaran berbasis masyarakat
Persoalan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di TN Kutai serta kawasan hutan lainnya memerlukan penanganan yang sangat serius baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan peran serta seluruh elemen masyarakat. Data dan fakta membuktikan dan semua bisa merasakan bahwa pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak cukup hanya dengan jargon belaka, tetapi harus benar-benar dilaksanakan kalau memang kita menginginkan TN Kutai lestari serta kualitas lingkungan hidup yang lebih baik.
Selasa, 08 Juni 2010
Profil Resor Teluk Pandan taman nasional kutai
Teluk Pandan merupakan salah satu resor dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional Kutai Wilayah I Sangatta yang terdapat dalam Organisasi Balai Taman Nasional Kutai, terbentuk berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.03/Menhut-II/2007 tanggal 1 Pebruari 2007 tentang organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksanaan Teknis Taman Nasional.
Adapun Mengenai Kondisi Umum Kawasan Resor Teluk Pandan adalah sebagai berikut :
1. Letak dan Luas Resor Teluk Pandan
Resor Teluk Pandan Terletak pada N 117.22⁰ sd 117.53⁰ dan E 0.14⁰ sd 0.37⁰. Resor terluas dari SPTN I Sangatta ini mempunyai luasan sekitar 45.967,13 Ha atau sekitar ± 23% dari luas Keseluruhan TN Kutai. Didalam Resor Teluk Pandan terdapat 3 desa yaitu Desa Martadinata, Desa Teluk Pandan dan Desa Kandolo serta 1 Kecamatan yaitu Kecamatan Teluk Pandan.
Sedangkan secara Administrasi Resor Teluk Pandan terletak pada:
Sebelah Utara berbatasan dengan Resor Sangkima
Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Makasar
Sebelah Selatan berbatasan dengan Hutan Lindung Bontang
Sebelah Barat berbatasan dengan SPTN Wilayah II Menamang
2. Topografi
Secara umum resor Teluk Pandan mempunyai topografi berbukit (bergelombang sedang sampai berat) dengan ketinggian tertinggi yang sempat di ukur oleh personil resor melalui GPS adalah 136 meter dpl (data tertinggi diambil ketika berada di bukit tundung mayang)
3. Sungai
Dengan keadaan topografi yang bergelombang dan Resor Teluk Pandan merupakan Hutan Hujan Dataran Rendah maka sudah sewajarnya bahwa di Resor Teluk Pandan mempunyai banyak aliran sungai dan anak-anak sungai.
4. Sarana dan Prasarana
Sarana Prasarana yang ada diresor Teluk Pandan adalah
NO SARANA PRASARANA JUMLAH
1
2
3
4
5
6 Kantor Resor
Pos Jaga Tanjung Limau
Pos Jaga Hutan Lindung
Pos Jaga Teluk Pandan
Menara Api
Motor Patroli 1
1
4
1
1
3
5. Potensi Resor Teluk Pandan
a. Type ekosistem :
Hutan Mangrove, Hutan Rawa air Tawar, Hutan Dipterocarpaceae Campuran, Hutan Kerangas, Hutan Tergenang apabila banjir
b. Fauna
Reptilia (buaya muara Crocodylus porosus, buaya senyulong Tomistoma schlegelii dan biawak Varanus salvator),
Mamalia, memiliki 80 jenis mamalia atau setara dengan separuh mamalia di borneo. Diantaranya adalah : Orang utan, bekantan, beruk, owa-owa, banteng, rusa sambar, kijang, kancil dan beruang madu masih dijumpai personil teluk pandan melalui jejak dan juga pertemuan langsung.
Burung, terdapat 330 jenis burung atau setara dengan 80 % burung yang ada di borneo. Sedangkan burung yang sering dijumpai secara langsung adalah : Enggang papan, raja udang, tiung, pecuk ular, bangau tong-tong, ayam hutan dan murai batu, gagak dll.
c. Potensi Alam
- Danau Air Asin, merupakan sebuah keajaiban. Mengalir dari punggung bukit disela-sela bebatuan dengan kandungan garam yang tinggi sehingga rasanya sangat asin. Merupakan sebuah daerah tempat minum satwa-satwa untuk memenuhi kekurangan mineral dan garam.
- Air Terjun, merupakan sebuah potensi wisata. Di Kalimantan Timur Khususnya daerah bontang dan Sangatta keberadaan air terjun dengan tinggi 6 M merupakan sebuah Fenomena alam yang jarang di jumpai.
- Goa ( Goa Walet, Goa kelelawar)
- Minyak Mentah (daerah yang mengeluarkan minyak yang berada didalam hutan biasanya dirawa-rawa)
Sayangnya untuk potensi wisata alam di kawasan resor Teluk Pandan saat ini belum dikelola secara professional hanya sebatas obrolan dari mulut ke mulut semata. Kawasan Resor Teluk Pandan yang dahulu sempat menjadi Primadona bagi masyarakat adalah obyek wisata Teluk Kaba yang saat ini tinggal menjadi sebuah kenangan. Dahulu sekitar tahun 1990-an di Obyek wisata Teluk Kaba kita dapat dengan mudah menemui berbagai macam satwa liar seperti Orangutan, Banteng, Rusa Sambar, Lutung, Bekantan dan jenis satwa lainnya serta berbagai jenis Flora dengan sebaran Pohon Dipterocarpaceae, Meranti, Ulin yang rapat dengan ukuran Raksasa.
Tapi saat ini kondisi tersebut sudah sangat jauh berbeda, dimulai pada era reformasi tahun 1997/1998 Permasalahan yang terjadi di TN Kutai khususnya Resor Teluk Pandan semakin kompleks. Di awali dengan Kebakaran hutan yang diakibatkan oleh musim kemarau panjang dan pembukaan lahan secara besar-besaran yang kemudian berlanjut dengan tidak adanya kepastian hukum pada waktu itu sehingga banyak masyarakat baik secara berkelompok maupun perorangan melakukan perambahan, perburuan liar, penebangan kayu illegal secara sporadis di dalam kawasan membuat kondisi TN Kutai jadi semakin memprihatinkan. Teluk Kaba pun bukan lagi sebuah tempat tujuan wisata yang mengundang decak kagum para wisatawan.
Seperti yang kita rasakan pada saat melintasi jalan poros Bontang - Sangatta saat ini, bila kita lihat kanan dan kiri jalan areal yang dahulunya rimbun dengan pepohonan berubah menjadi pemukiman penduduk dan kebun-kebun masyarakat. Bahkan diperkirakan 15 KM kanan kiri jalan Bontang Sangatta sudah merupakan areal garapan masyarakat. Keanekaragaman Hayati di kawasan Teluk Pandan sudah berkurang sangat drastis yang bukan tidak mungkin untuk beberapa spesies tumbuhan dan satwa akan menuju kepunahan jika tidak ada usaha untuk melestarikannya.
Mengembalikan keeksotisan TN Kutai seperti dulu memang terasa sangat sulit akan tetapi itu bukan alasan untuk tidak berbuat, karena sekecil apapun usaha kita untuk melestarikan TN Kutai itu akan bermanfaat untuk keberlangsungan mata rantai kehidupan kita bersama. Jangan Warisi Anak Cucu Kita Dengan Dongeng Dan Bencana, Tetapi Mari Kita Wariskan Untuk Mereka Sebuah Pusaka Yang Indah.
Adapun Mengenai Kondisi Umum Kawasan Resor Teluk Pandan adalah sebagai berikut :
1. Letak dan Luas Resor Teluk Pandan
Resor Teluk Pandan Terletak pada N 117.22⁰ sd 117.53⁰ dan E 0.14⁰ sd 0.37⁰. Resor terluas dari SPTN I Sangatta ini mempunyai luasan sekitar 45.967,13 Ha atau sekitar ± 23% dari luas Keseluruhan TN Kutai. Didalam Resor Teluk Pandan terdapat 3 desa yaitu Desa Martadinata, Desa Teluk Pandan dan Desa Kandolo serta 1 Kecamatan yaitu Kecamatan Teluk Pandan.
Sedangkan secara Administrasi Resor Teluk Pandan terletak pada:
Sebelah Utara berbatasan dengan Resor Sangkima
Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Makasar
Sebelah Selatan berbatasan dengan Hutan Lindung Bontang
Sebelah Barat berbatasan dengan SPTN Wilayah II Menamang
2. Topografi
Secara umum resor Teluk Pandan mempunyai topografi berbukit (bergelombang sedang sampai berat) dengan ketinggian tertinggi yang sempat di ukur oleh personil resor melalui GPS adalah 136 meter dpl (data tertinggi diambil ketika berada di bukit tundung mayang)
3. Sungai
Dengan keadaan topografi yang bergelombang dan Resor Teluk Pandan merupakan Hutan Hujan Dataran Rendah maka sudah sewajarnya bahwa di Resor Teluk Pandan mempunyai banyak aliran sungai dan anak-anak sungai.
4. Sarana dan Prasarana
Sarana Prasarana yang ada diresor Teluk Pandan adalah
NO SARANA PRASARANA JUMLAH
1
2
3
4
5
6 Kantor Resor
Pos Jaga Tanjung Limau
Pos Jaga Hutan Lindung
Pos Jaga Teluk Pandan
Menara Api
Motor Patroli 1
1
4
1
1
3
5. Potensi Resor Teluk Pandan
a. Type ekosistem :
Hutan Mangrove, Hutan Rawa air Tawar, Hutan Dipterocarpaceae Campuran, Hutan Kerangas, Hutan Tergenang apabila banjir
b. Fauna
Reptilia (buaya muara Crocodylus porosus, buaya senyulong Tomistoma schlegelii dan biawak Varanus salvator),
Mamalia, memiliki 80 jenis mamalia atau setara dengan separuh mamalia di borneo. Diantaranya adalah : Orang utan, bekantan, beruk, owa-owa, banteng, rusa sambar, kijang, kancil dan beruang madu masih dijumpai personil teluk pandan melalui jejak dan juga pertemuan langsung.
Burung, terdapat 330 jenis burung atau setara dengan 80 % burung yang ada di borneo. Sedangkan burung yang sering dijumpai secara langsung adalah : Enggang papan, raja udang, tiung, pecuk ular, bangau tong-tong, ayam hutan dan murai batu, gagak dll.
c. Potensi Alam
- Danau Air Asin, merupakan sebuah keajaiban. Mengalir dari punggung bukit disela-sela bebatuan dengan kandungan garam yang tinggi sehingga rasanya sangat asin. Merupakan sebuah daerah tempat minum satwa-satwa untuk memenuhi kekurangan mineral dan garam.
- Air Terjun, merupakan sebuah potensi wisata. Di Kalimantan Timur Khususnya daerah bontang dan Sangatta keberadaan air terjun dengan tinggi 6 M merupakan sebuah Fenomena alam yang jarang di jumpai.
- Goa ( Goa Walet, Goa kelelawar)
- Minyak Mentah (daerah yang mengeluarkan minyak yang berada didalam hutan biasanya dirawa-rawa)
Sayangnya untuk potensi wisata alam di kawasan resor Teluk Pandan saat ini belum dikelola secara professional hanya sebatas obrolan dari mulut ke mulut semata. Kawasan Resor Teluk Pandan yang dahulu sempat menjadi Primadona bagi masyarakat adalah obyek wisata Teluk Kaba yang saat ini tinggal menjadi sebuah kenangan. Dahulu sekitar tahun 1990-an di Obyek wisata Teluk Kaba kita dapat dengan mudah menemui berbagai macam satwa liar seperti Orangutan, Banteng, Rusa Sambar, Lutung, Bekantan dan jenis satwa lainnya serta berbagai jenis Flora dengan sebaran Pohon Dipterocarpaceae, Meranti, Ulin yang rapat dengan ukuran Raksasa.
Tapi saat ini kondisi tersebut sudah sangat jauh berbeda, dimulai pada era reformasi tahun 1997/1998 Permasalahan yang terjadi di TN Kutai khususnya Resor Teluk Pandan semakin kompleks. Di awali dengan Kebakaran hutan yang diakibatkan oleh musim kemarau panjang dan pembukaan lahan secara besar-besaran yang kemudian berlanjut dengan tidak adanya kepastian hukum pada waktu itu sehingga banyak masyarakat baik secara berkelompok maupun perorangan melakukan perambahan, perburuan liar, penebangan kayu illegal secara sporadis di dalam kawasan membuat kondisi TN Kutai jadi semakin memprihatinkan. Teluk Kaba pun bukan lagi sebuah tempat tujuan wisata yang mengundang decak kagum para wisatawan.
Seperti yang kita rasakan pada saat melintasi jalan poros Bontang - Sangatta saat ini, bila kita lihat kanan dan kiri jalan areal yang dahulunya rimbun dengan pepohonan berubah menjadi pemukiman penduduk dan kebun-kebun masyarakat. Bahkan diperkirakan 15 KM kanan kiri jalan Bontang Sangatta sudah merupakan areal garapan masyarakat. Keanekaragaman Hayati di kawasan Teluk Pandan sudah berkurang sangat drastis yang bukan tidak mungkin untuk beberapa spesies tumbuhan dan satwa akan menuju kepunahan jika tidak ada usaha untuk melestarikannya.
Mengembalikan keeksotisan TN Kutai seperti dulu memang terasa sangat sulit akan tetapi itu bukan alasan untuk tidak berbuat, karena sekecil apapun usaha kita untuk melestarikan TN Kutai itu akan bermanfaat untuk keberlangsungan mata rantai kehidupan kita bersama. Jangan Warisi Anak Cucu Kita Dengan Dongeng Dan Bencana, Tetapi Mari Kita Wariskan Untuk Mereka Sebuah Pusaka Yang Indah.
Jamur sebagai peluang usaha masyarakat di sekitar kawasan TNK
Apakah Jamur Itu?
Jamur adalah kelompok besar jasad hidup yang termasuk ke dalam dunia tumbuh-tumbuhan yang tidak mempunyai pigmen hijau daun (khlorofil). Tetapi jamur berinti, ber-spora, berupa sel, atau benang, bercabang-cabang, dengan dinding sel dari selulosa atau khitin atau kedua-duanya. Pada umumnya jamur berkembang biak secara seksual dan aseksual.
Jenis Jamur Pangan
Mengingat begitu banyaknya jenis jamur yang ada, materi siaran kali ini adalah tentang pengenalan pada jenis jamur yang dikonsumsi sebagai bahan pangan. Jamur pangan umumnya merupakan jamur lapang atau jamur saprofit yang tumbuh spontan di lapang atau alam terbuka pada bahan-bahan yang mengalami pelapukan.
Jamur pangan ini dahulu diperoleh dengan cara mengumpulkan jamur yang tumbuh liar spontan yang tumbuh liar pada musim-musim tertentu (lembap-musim hujan). Saat ini telah banyak di antaranya dibudidayakan untuk kepentingan komersial.
Jamur merang (volvariella), jamur agaricus (champignon), jamur kuping (auricularia), jamur bulan (gymnopus), shitake (lentinus), jamur tiram atau mutiara (pleuterotus), merupakan jamur-jamur pangan yang banyak dikenal. Mereka sering juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti nama daerahnya. Sebagai contoh jamur merang atau paddy strow mushroom dikenal juga sebagai supa pare atau jajaban di Jabar. Jamur dami atau jamur kantung di Jateng atau kulat im bere atau im sere di Minahasa, kulat sagu atau kulat era di Maluku, dan banyak lagi. Demikian juga jamur tiram yang sering juga disebut sebagai jamur mutiara, jamur kayu, jamur shimeji, atau hiratake.
Untuk mengenal lebih baik jamur-jamur pangan ini, mari kita kupas lebih mendalam beberapa contoh jamur yang banyak kita temukan saat ini.
1. Shitake atau dikenal juga dengan nama Hoang-ko merupakan jamur yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Cita rasanya khas, terutama aromanya yang harum. Jamur ini bertudung kecokelatan hingga cokelat gelap. Kadang berwarna merah kecokelatan dengan bintik-bintik putih di bagian atasnya. Diameter tudung antara 5-10 cm dengan tebal antara 2-6 cm. Tangkai berwarna putih kekuningan dan panjang 2-6 cm, dengan berat setiap jamur berkisar 10-30 gram. Jamur ini sangat terkenal di Jepang dan Cina. Shitake mempunyai harga tinggi yang hanya dapat dikalahkan oleh jamur Black Truffles (Tuber melanosporum). Harganya sangat ditentukan oleh aroma yang dapat dihasilkan. Umumnya, jamur yang liar lebih mahal dibandingkan hasil budidaya karena cita rasanya yang yang dinilai lebih lengkap.
2. Jamur Tiram Putih adalah jamur yang hidup pada kayu-kayu lapuk, serbuk gergaji, limbah jerami, atau limbah kapas. Dinamakan jamur tiram karena mempunyai flavor dan tekstur yang mirip tiram yang berwarna putih. Tubuh buah jamur ini menyerupai cangkang kerang, tudungnya halus, panjangnya 5-15 cm. Bila muda, berbentuk seperti kancing kemudian berkembang manjadi pipih. Ketika masih muda, warna tudungnya cokelat gelap kebiru-biruan. Tetapi segera menjadi cokelat pucat dan berubah menjadi putih bila telah dewasa. Tangkai sangat pendek berwarna putih. Jamur ini sangat populer saat ini.
Teksturnya lembut, penampilannya menarik, dan cita rasanya relatif netral sehingga mudah untuk dipadukan pada berbagai masakan. Budidayanya juga relatif mudah dan murah hingga sangat potensial dikomersialkan. Selain jamur tiram putih ada pula beberapa jenis jamur tiram yang berbeda warna pada batang tubuh buahnya, yaitu P. flabellatus berwarna merah jambu, P. florida berwarna putih bersih, P. sajor caju berwarna kelabu dan P. cysridious berwarna kelabu.
3. Jamur merang banyak digunakan sebagai bahan baku pada berbagai masakan khas yang dikenal banyak kalangan di Indonesia sehingga timbul menu-menu baru yang khusus seperti mi ayam jamur, sup jamur merang, dan pepes jamur. Tubuh jamur merang muda berwarna cokelat gelap sampai hitam dengan bentuk seperti telur. Tubuh jamur ini dilapisi sebuah selaput yang dinamakan selubung, yang sehari-hari dikenal sebagai kulit jamur. Ketika mulai tua, tudung akan mulai mengembang membentuk cawan. Diameter tudung jamur tua dapat mencapai 6.8 cm dengan warna putih keabu-abuan. Sedangkan warna bilah-bilah di bawah tudung (lamella) mula-mula berwana putih kemudian menjadi merah muda seiring dengan pematangan spora. Jamur yang dikonsumsi umumnya adalah jamur yang muda, sebelum tudung berkembang.
4. Jamur Kuping merupakan jamur kayu yang paling lama dikenal sebagai jamur pangan. Jamur kuping disebut juga supa lember. Bentuknya seperti kuping, berwarna kecokelatan tua, banyak tumbuh liar bergerombol menempel pada pohon-pohon yang sudah mati, pohon tumbang, atau bahkan tumpukan kayu ,atau tiang-tiang pagar sekitar rumah. Pada musim hujan, jamur ini dapat ditemukan dalam jumlah banyak hingga dapat berpikul-pikul dijual ke pasar. Saat ini jamur kuping telah banyak dibudidayakan di Indonesia, yang setelah dikeringkan banyak diperdagangkan ke berbagai tempat di Indonesia. Dikenal dua jenis jamur kuping, jamur kuping orang yahudi (A. auricula-judae) yang merupakan jenis jamur kuping yang paling umum di Indonesia, Malaysia, dan banyak lagi negara Asia lainnya. Jenis yang kedua disebut sebagai hed-bua (A. Polytricha) merupakan jenis yang banyak dibudidayakan di Cina, Thailand ,dan beberapa negara di kawasan Indocina lainnya.
Manfaat Jamur
1. Sebagai bahan makanan
Sebagai pengganti daging dan sebagai sayuran, Khusus untuk jamur kuping dan jamur tiram. Warna jamur tiram yang putih kekuningan dan tekstur yang lembut kenyal, tak ubahnya seperti potongan daging dada ayam. Penyebabnya adalah kandungan protein jamur yang ditambah dengan glutamat dan nukleotida (penyedap rasa) alami yang tinggi. Hingga rasa gurihnya kuat, selezat produk-produk daging. Karena itu tak heran bila jamur sering digunakan para vegetarian untuk menggantikan menu daging mereka. Dibanding dengan daging, jamur memang punya nilai plus tersendiri. Daging sering bikin orang berkutat dengan masalah lemak atau kandungan kolesterol. Jamur sebaliknya, bebas kolesterol serta kaya serat vitamin dan mineral. Tak heran bila saat ini sering kita jumpai menu jamur menjadi lebih mahal dari pada menu daging. Seperti halnya pada menu mi ayam jamur yang lebih mahal dari mi ayam saja. Bahkan jamur dengan cita-rasa tinggi dan khasiat yang dikenal seperti halnya shitake, dapat mempunyai harga beberapa kali lipat lebih tinggi dari harga daging.
Tak hanya sebagai bahan campuran dalam menu, jamur sebagai "jamur nabati" telah semakin sering hadir sebagai bahan utama dalam menu kita. Pepes jamur, sate jamur, tumis jamur, keripik jamur, jamur lapis tepung, sup jamur
2. Sebagai bahan obat
Dewasa ini orang makan jamur juga karena pertimbangan kesehatan.Jamur mudah dicerna dan dilaporkan berguna bagi para penderita penyakit tertentu. Jamur merang, misalnya berguna bagi penderita diabetes dan penyakit kekurangan darah, atau bahkan dapat mengobati kanker. Banyak juga jamur-jamur seperti jamur-jamur Ganoderma yang memang dibudidayakan sebagai bahan obat.
Jamur Shitake mempunyai potensi sebagai obat. Jamur ini dilaporkan mempunyai potensi sebagai antitumor dan antivirus karena mengandung senyawa polisakaridayang dikenal dengan sebutan lentinan. Shitake juga dilaporkan dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan aktivitas eritadenin yang dimilikinya.
3. Manfaat Lainnya
Sebagai "bahan pengental" (karena mempunyai lendir), juga mempunyai fungsi lain sebagai bahan penetral. Di dalam menu orang Tionghoa sejak dulu kala hingga saat ini, masih ada kepercayaan bahwa lendir pada jamur kuping dapat berkhasiat untuk menetralkan senyawa berbahaya yang terdapat dalam makanan. Karena itu, tidak heran pada jenis makanan yang terdiri dari banyak bahan pangan, selalu ditambahkan jamur kuping. Tujuannya, menetralkan racun jika ada dalam salah satu bahan tadi. Jamur merang juga merupakan sumber dari beberapa macam enzim terutama tripsin yang berperan penting untuk membantu proses pencernaan. Jamur merang dapat juga dijadikan sebagai makanan pelindung karena kandungan vitamin B-kompleks yang lengkap termasuk riboflavin serta memiliki asam amino esensial yang cukup lengkap.
Dengan meningkatnya kebutuhan akan Jamur baik sebagai bahan makanan, obat maupun kegunaan lainnya maka masyarakat di sekitar kawasan TN Kutai dapat memanfaatkan hal tersebut menjadi sebuah peluang usaha yang memiliki prospek cerah guna meningkatkan taraf ekonomi, menjadi sumber ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kawasan.
Di Wilayah Taman Nasional Kutai dengan mudah dapat ditemukan beraneka ragam jamur, dimana untuk pengambilan bibit jamur dari dalam kawasan TN Kutai, masyarakat bisa bekerjasama dengan pihak Balai TN Kutai dengan mengajukan ijin penangkaran untuk selanjutnya di budidayakan dan dikembangkan oleh masyarakat baik secara berkelompok maupun perorangan.
Jamur adalah kelompok besar jasad hidup yang termasuk ke dalam dunia tumbuh-tumbuhan yang tidak mempunyai pigmen hijau daun (khlorofil). Tetapi jamur berinti, ber-spora, berupa sel, atau benang, bercabang-cabang, dengan dinding sel dari selulosa atau khitin atau kedua-duanya. Pada umumnya jamur berkembang biak secara seksual dan aseksual.
Jenis Jamur Pangan
Mengingat begitu banyaknya jenis jamur yang ada, materi siaran kali ini adalah tentang pengenalan pada jenis jamur yang dikonsumsi sebagai bahan pangan. Jamur pangan umumnya merupakan jamur lapang atau jamur saprofit yang tumbuh spontan di lapang atau alam terbuka pada bahan-bahan yang mengalami pelapukan.
Jamur pangan ini dahulu diperoleh dengan cara mengumpulkan jamur yang tumbuh liar spontan yang tumbuh liar pada musim-musim tertentu (lembap-musim hujan). Saat ini telah banyak di antaranya dibudidayakan untuk kepentingan komersial.
Jamur merang (volvariella), jamur agaricus (champignon), jamur kuping (auricularia), jamur bulan (gymnopus), shitake (lentinus), jamur tiram atau mutiara (pleuterotus), merupakan jamur-jamur pangan yang banyak dikenal. Mereka sering juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti nama daerahnya. Sebagai contoh jamur merang atau paddy strow mushroom dikenal juga sebagai supa pare atau jajaban di Jabar. Jamur dami atau jamur kantung di Jateng atau kulat im bere atau im sere di Minahasa, kulat sagu atau kulat era di Maluku, dan banyak lagi. Demikian juga jamur tiram yang sering juga disebut sebagai jamur mutiara, jamur kayu, jamur shimeji, atau hiratake.
Untuk mengenal lebih baik jamur-jamur pangan ini, mari kita kupas lebih mendalam beberapa contoh jamur yang banyak kita temukan saat ini.
1. Shitake atau dikenal juga dengan nama Hoang-ko merupakan jamur yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Cita rasanya khas, terutama aromanya yang harum. Jamur ini bertudung kecokelatan hingga cokelat gelap. Kadang berwarna merah kecokelatan dengan bintik-bintik putih di bagian atasnya. Diameter tudung antara 5-10 cm dengan tebal antara 2-6 cm. Tangkai berwarna putih kekuningan dan panjang 2-6 cm, dengan berat setiap jamur berkisar 10-30 gram. Jamur ini sangat terkenal di Jepang dan Cina. Shitake mempunyai harga tinggi yang hanya dapat dikalahkan oleh jamur Black Truffles (Tuber melanosporum). Harganya sangat ditentukan oleh aroma yang dapat dihasilkan. Umumnya, jamur yang liar lebih mahal dibandingkan hasil budidaya karena cita rasanya yang yang dinilai lebih lengkap.
2. Jamur Tiram Putih adalah jamur yang hidup pada kayu-kayu lapuk, serbuk gergaji, limbah jerami, atau limbah kapas. Dinamakan jamur tiram karena mempunyai flavor dan tekstur yang mirip tiram yang berwarna putih. Tubuh buah jamur ini menyerupai cangkang kerang, tudungnya halus, panjangnya 5-15 cm. Bila muda, berbentuk seperti kancing kemudian berkembang manjadi pipih. Ketika masih muda, warna tudungnya cokelat gelap kebiru-biruan. Tetapi segera menjadi cokelat pucat dan berubah menjadi putih bila telah dewasa. Tangkai sangat pendek berwarna putih. Jamur ini sangat populer saat ini.
Teksturnya lembut, penampilannya menarik, dan cita rasanya relatif netral sehingga mudah untuk dipadukan pada berbagai masakan. Budidayanya juga relatif mudah dan murah hingga sangat potensial dikomersialkan. Selain jamur tiram putih ada pula beberapa jenis jamur tiram yang berbeda warna pada batang tubuh buahnya, yaitu P. flabellatus berwarna merah jambu, P. florida berwarna putih bersih, P. sajor caju berwarna kelabu dan P. cysridious berwarna kelabu.
3. Jamur merang banyak digunakan sebagai bahan baku pada berbagai masakan khas yang dikenal banyak kalangan di Indonesia sehingga timbul menu-menu baru yang khusus seperti mi ayam jamur, sup jamur merang, dan pepes jamur. Tubuh jamur merang muda berwarna cokelat gelap sampai hitam dengan bentuk seperti telur. Tubuh jamur ini dilapisi sebuah selaput yang dinamakan selubung, yang sehari-hari dikenal sebagai kulit jamur. Ketika mulai tua, tudung akan mulai mengembang membentuk cawan. Diameter tudung jamur tua dapat mencapai 6.8 cm dengan warna putih keabu-abuan. Sedangkan warna bilah-bilah di bawah tudung (lamella) mula-mula berwana putih kemudian menjadi merah muda seiring dengan pematangan spora. Jamur yang dikonsumsi umumnya adalah jamur yang muda, sebelum tudung berkembang.
4. Jamur Kuping merupakan jamur kayu yang paling lama dikenal sebagai jamur pangan. Jamur kuping disebut juga supa lember. Bentuknya seperti kuping, berwarna kecokelatan tua, banyak tumbuh liar bergerombol menempel pada pohon-pohon yang sudah mati, pohon tumbang, atau bahkan tumpukan kayu ,atau tiang-tiang pagar sekitar rumah. Pada musim hujan, jamur ini dapat ditemukan dalam jumlah banyak hingga dapat berpikul-pikul dijual ke pasar. Saat ini jamur kuping telah banyak dibudidayakan di Indonesia, yang setelah dikeringkan banyak diperdagangkan ke berbagai tempat di Indonesia. Dikenal dua jenis jamur kuping, jamur kuping orang yahudi (A. auricula-judae) yang merupakan jenis jamur kuping yang paling umum di Indonesia, Malaysia, dan banyak lagi negara Asia lainnya. Jenis yang kedua disebut sebagai hed-bua (A. Polytricha) merupakan jenis yang banyak dibudidayakan di Cina, Thailand ,dan beberapa negara di kawasan Indocina lainnya.
Manfaat Jamur
1. Sebagai bahan makanan
Sebagai pengganti daging dan sebagai sayuran, Khusus untuk jamur kuping dan jamur tiram. Warna jamur tiram yang putih kekuningan dan tekstur yang lembut kenyal, tak ubahnya seperti potongan daging dada ayam. Penyebabnya adalah kandungan protein jamur yang ditambah dengan glutamat dan nukleotida (penyedap rasa) alami yang tinggi. Hingga rasa gurihnya kuat, selezat produk-produk daging. Karena itu tak heran bila jamur sering digunakan para vegetarian untuk menggantikan menu daging mereka. Dibanding dengan daging, jamur memang punya nilai plus tersendiri. Daging sering bikin orang berkutat dengan masalah lemak atau kandungan kolesterol. Jamur sebaliknya, bebas kolesterol serta kaya serat vitamin dan mineral. Tak heran bila saat ini sering kita jumpai menu jamur menjadi lebih mahal dari pada menu daging. Seperti halnya pada menu mi ayam jamur yang lebih mahal dari mi ayam saja. Bahkan jamur dengan cita-rasa tinggi dan khasiat yang dikenal seperti halnya shitake, dapat mempunyai harga beberapa kali lipat lebih tinggi dari harga daging.
Tak hanya sebagai bahan campuran dalam menu, jamur sebagai "jamur nabati" telah semakin sering hadir sebagai bahan utama dalam menu kita. Pepes jamur, sate jamur, tumis jamur, keripik jamur, jamur lapis tepung, sup jamur
2. Sebagai bahan obat
Dewasa ini orang makan jamur juga karena pertimbangan kesehatan.Jamur mudah dicerna dan dilaporkan berguna bagi para penderita penyakit tertentu. Jamur merang, misalnya berguna bagi penderita diabetes dan penyakit kekurangan darah, atau bahkan dapat mengobati kanker. Banyak juga jamur-jamur seperti jamur-jamur Ganoderma yang memang dibudidayakan sebagai bahan obat.
Jamur Shitake mempunyai potensi sebagai obat. Jamur ini dilaporkan mempunyai potensi sebagai antitumor dan antivirus karena mengandung senyawa polisakaridayang dikenal dengan sebutan lentinan. Shitake juga dilaporkan dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan aktivitas eritadenin yang dimilikinya.
3. Manfaat Lainnya
Sebagai "bahan pengental" (karena mempunyai lendir), juga mempunyai fungsi lain sebagai bahan penetral. Di dalam menu orang Tionghoa sejak dulu kala hingga saat ini, masih ada kepercayaan bahwa lendir pada jamur kuping dapat berkhasiat untuk menetralkan senyawa berbahaya yang terdapat dalam makanan. Karena itu, tidak heran pada jenis makanan yang terdiri dari banyak bahan pangan, selalu ditambahkan jamur kuping. Tujuannya, menetralkan racun jika ada dalam salah satu bahan tadi. Jamur merang juga merupakan sumber dari beberapa macam enzim terutama tripsin yang berperan penting untuk membantu proses pencernaan. Jamur merang dapat juga dijadikan sebagai makanan pelindung karena kandungan vitamin B-kompleks yang lengkap termasuk riboflavin serta memiliki asam amino esensial yang cukup lengkap.
Dengan meningkatnya kebutuhan akan Jamur baik sebagai bahan makanan, obat maupun kegunaan lainnya maka masyarakat di sekitar kawasan TN Kutai dapat memanfaatkan hal tersebut menjadi sebuah peluang usaha yang memiliki prospek cerah guna meningkatkan taraf ekonomi, menjadi sumber ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kawasan.
Di Wilayah Taman Nasional Kutai dengan mudah dapat ditemukan beraneka ragam jamur, dimana untuk pengambilan bibit jamur dari dalam kawasan TN Kutai, masyarakat bisa bekerjasama dengan pihak Balai TN Kutai dengan mengajukan ijin penangkaran untuk selanjutnya di budidayakan dan dikembangkan oleh masyarakat baik secara berkelompok maupun perorangan.
Selasa, 01 Juni 2010
pembangunan terminal di taman nasional kutai
Sangatta, Kompas - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyatakan tetap membangun terminal di kawasan Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Alasannya, pembangunan itu telah mendapat persetujuan Menteri Kehutanan dan demi kepentingan umum.
Bupati Kutai Timur Isran Noor, yang ketika dihubungi sedang di Jakarta mengikuti Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat, Senin (9/2), menjelaskan, pembangunan terminal tidak akan merusak kawasan hutan dan sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. ”Hutan sudah rusak duluan,” paparnya.
Karena demi kepentingan umum dan sudah disetujui Menteri Kehutanan, lanjut Isran, pembangunan tidak bisa ditunda. Dalam konteks itu, pemeriksaan terhadap pimpinan Dinas Perhubungan Kutai Timur oleh penyidik Balai Taman Nasional (TN) Kutai dianggapnya sebagai perilaku berlebihan.
Terkait pernyataan itu, Kepala Balai TN Kutai Tandya Tjahjana menyatakan, tidak ada izin pembangunan terminal. ”Balai TN Kutai sudah mengeluarkan berkali-kali peringatan agar pembangunan terminal dihentikan, tapi tak digubris,” ujarnya.
Pembangunan terminal di TN Kutai hanyalah satu contoh dari kehancuran hutan taman nasional tersebut. Selain terminal, saat ini di sana sudah ada ratusan rumah dan kios warga serta ladang pertanian. Kehancuran taman nasional yang memiliki hewan endemis orangutan dan rusa asal Kalimantan ini terjadi sejak tahun 1990-an ketika dibuat jalan trans-Kalimantan yang membelah TN Kutai.
Menurut Tandya, kerusakan TN Kutai telah mencapai 50 persen atau 99.314,5 hektar dari total 198.529 hektar yang mencakup Kabupaten Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Kota Bontang ”Di TN Kutai telah berdiri 16 menara telekomunikasi, dua stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, ribuan rumah di tujuh desa atau dua kecamatan yang dihuni 22.876 jiwa, dan terminal angkutan umum. Semua itu tidak berizin,” katanya.
Secara terpisah, mantan Kepala Balai TN Kutai Agus Budiono mengatakan, jalan Bontang-Sangatta membelah TN Kutai sepanjang 54 kilometer. Jalan dibangun atas desakan Pemerintah Provinsi Kaltim pada tahun 1990-an agar warga di dua daerah itu bisa berhubungan, tidak lagi lewat perairan Selat Makassar. ”Setahu saya, Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim dulu menolak usul pembangunan jalan itu,” katanya. (BRO/AIK/RYO/FUL)
Bupati Kutai Timur Isran Noor, yang ketika dihubungi sedang di Jakarta mengikuti Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat, Senin (9/2), menjelaskan, pembangunan terminal tidak akan merusak kawasan hutan dan sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. ”Hutan sudah rusak duluan,” paparnya.
Karena demi kepentingan umum dan sudah disetujui Menteri Kehutanan, lanjut Isran, pembangunan tidak bisa ditunda. Dalam konteks itu, pemeriksaan terhadap pimpinan Dinas Perhubungan Kutai Timur oleh penyidik Balai Taman Nasional (TN) Kutai dianggapnya sebagai perilaku berlebihan.
Terkait pernyataan itu, Kepala Balai TN Kutai Tandya Tjahjana menyatakan, tidak ada izin pembangunan terminal. ”Balai TN Kutai sudah mengeluarkan berkali-kali peringatan agar pembangunan terminal dihentikan, tapi tak digubris,” ujarnya.
Pembangunan terminal di TN Kutai hanyalah satu contoh dari kehancuran hutan taman nasional tersebut. Selain terminal, saat ini di sana sudah ada ratusan rumah dan kios warga serta ladang pertanian. Kehancuran taman nasional yang memiliki hewan endemis orangutan dan rusa asal Kalimantan ini terjadi sejak tahun 1990-an ketika dibuat jalan trans-Kalimantan yang membelah TN Kutai.
Menurut Tandya, kerusakan TN Kutai telah mencapai 50 persen atau 99.314,5 hektar dari total 198.529 hektar yang mencakup Kabupaten Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Kota Bontang ”Di TN Kutai telah berdiri 16 menara telekomunikasi, dua stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, ribuan rumah di tujuh desa atau dua kecamatan yang dihuni 22.876 jiwa, dan terminal angkutan umum. Semua itu tidak berizin,” katanya.
Secara terpisah, mantan Kepala Balai TN Kutai Agus Budiono mengatakan, jalan Bontang-Sangatta membelah TN Kutai sepanjang 54 kilometer. Jalan dibangun atas desakan Pemerintah Provinsi Kaltim pada tahun 1990-an agar warga di dua daerah itu bisa berhubungan, tidak lagi lewat perairan Selat Makassar. ”Setahu saya, Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim dulu menolak usul pembangunan jalan itu,” katanya. (BRO/AIK/RYO/FUL)
PROFIL RESORT SANGKIMA TAMAN NASIONAL KUTAI
I. Letak dan luas
resort sangkima adalah merupakan bagian dari wilayah seksi taman nasional kutai wilayah I sangata, dimana batas sebelah timur adalah selat makasar dan sebelah barat berbatasan dengan seksi pengelolaan taman nasional wilayah II tenggarong dan disebelah selatan berbatasan dengan resort teluk pandan serta sebelah utara berbatasan dengan resort sangata.
Sedangkan luas resort sangkima adalah seluas 42.532,8 Ha atau setara dengan 21% dari luas keseluruhan taman nasional kutai. Secara administrative resort sangkima berada di kecamatan sangata selatan kabupaten kutai timur dan berada diantara resort sangata dan resort teluk pandan.
Wilayah resort sangkima memiliki topografi berbukit walaupun sebagian ada yang memiliki topografi datar. Kondisi tersebut dikarenakan sebagian resort sangkima berada di pesisir pantai selat makasar sehingga sebagian daerahnya adalah memiliki topografi yang datar.
Desa-desa yang ada di resort sangkima yaitu desa sangkima lama dan desa sangkima. Sedangkan desa yang ada disekitar resor sangkima antara lain desa kandolo, desa sangata selatan dan desa sing geweh.
II. Potensi resort sangkima
a. Potensi flora
Potensi flora yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam yang terdiri dari berbagai jenis tanaman. Beberapa jenis tanaman merupakan tumbuhan obat. Jenis jenis flora yang ada di resort sangkima antara lain : meranati, kapur, keruing, merading, puspa, pulai, simpur, kayu arang, ulin, merbau, jambu-jambuan,bakau, tancang, cemara laut, waru laut, ara, perupuk, terap, mangga, benuang, bayur dan bungur.
b. Potensi fauna
Potensi fauna yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam, antara lain : orang utan, bekantan, owa-owa, lutung biasa, kera ekor panjang, beruk, rusa, kijang, kancil, babi, beruang madu, kucing dahan.
III. Potensi wisata
Potensi wisata yang ada di resort sangkima antara lain :
1. Wisata alam sangkima
Sarana dan prasarana yang terkait denag wisata alam yang ada di obyek daerah tujuan wisata alam sangkima antara lain: guest house, balai pertemuan, musholla, loket wisata dan track wisata alam (board walk). Selain itu didalam kawasan wisata ini dikembangkan juga berbagai jenis tantangan out bond seperti jembatan gantung, jembatan sling, shelter bagi para pengunjung yang merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak dan rumah pohon. Pada wisata alam ini juga terdapat pohon ulin eksotis dengan ukuran raksasa.
2. Pantai teluk Lombok
Kawasan pantai teluk Lombok sampai saat ini belum terlalu dikembangkan menjadi suatu kawasan wisata alam andalan bagi taman nasional kutai.
resort sangkima adalah merupakan bagian dari wilayah seksi taman nasional kutai wilayah I sangata, dimana batas sebelah timur adalah selat makasar dan sebelah barat berbatasan dengan seksi pengelolaan taman nasional wilayah II tenggarong dan disebelah selatan berbatasan dengan resort teluk pandan serta sebelah utara berbatasan dengan resort sangata.
Sedangkan luas resort sangkima adalah seluas 42.532,8 Ha atau setara dengan 21% dari luas keseluruhan taman nasional kutai. Secara administrative resort sangkima berada di kecamatan sangata selatan kabupaten kutai timur dan berada diantara resort sangata dan resort teluk pandan.
Wilayah resort sangkima memiliki topografi berbukit walaupun sebagian ada yang memiliki topografi datar. Kondisi tersebut dikarenakan sebagian resort sangkima berada di pesisir pantai selat makasar sehingga sebagian daerahnya adalah memiliki topografi yang datar.
Desa-desa yang ada di resort sangkima yaitu desa sangkima lama dan desa sangkima. Sedangkan desa yang ada disekitar resor sangkima antara lain desa kandolo, desa sangata selatan dan desa sing geweh.
II. Potensi resort sangkima
a. Potensi flora
Potensi flora yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam yang terdiri dari berbagai jenis tanaman. Beberapa jenis tanaman merupakan tumbuhan obat. Jenis jenis flora yang ada di resort sangkima antara lain : meranati, kapur, keruing, merading, puspa, pulai, simpur, kayu arang, ulin, merbau, jambu-jambuan,bakau, tancang, cemara laut, waru laut, ara, perupuk, terap, mangga, benuang, bayur dan bungur.
b. Potensi fauna
Potensi fauna yang dimiliki oleh resort sangkima sangat beragam, antara lain : orang utan, bekantan, owa-owa, lutung biasa, kera ekor panjang, beruk, rusa, kijang, kancil, babi, beruang madu, kucing dahan.
III. Potensi wisata
Potensi wisata yang ada di resort sangkima antara lain :
1. Wisata alam sangkima
Sarana dan prasarana yang terkait denag wisata alam yang ada di obyek daerah tujuan wisata alam sangkima antara lain: guest house, balai pertemuan, musholla, loket wisata dan track wisata alam (board walk). Selain itu didalam kawasan wisata ini dikembangkan juga berbagai jenis tantangan out bond seperti jembatan gantung, jembatan sling, shelter bagi para pengunjung yang merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak dan rumah pohon. Pada wisata alam ini juga terdapat pohon ulin eksotis dengan ukuran raksasa.
2. Pantai teluk Lombok
Kawasan pantai teluk Lombok sampai saat ini belum terlalu dikembangkan menjadi suatu kawasan wisata alam andalan bagi taman nasional kutai.
Sabtu, 22 Mei 2010
Taman Nasional Kutai
Taman Nasional Kutai atau biasa disingkat TNK adalah sebuah taman nasional yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur dan sebagian kecil wilayah Kota Bontang yang memiliki lahan total seluas 198.629 ha. Kantor atau balai pengeloloa TNK berada di Kota Bontang. Namun seiring masuk tahun 2000-an, wilayah TNK ini mulai dirambah penduduk untuk dijadikan pemukiman dan lahan perkebunan sehingga wilayah TNK yang masih benar-benar asli mungkin jauh dibawah lahan yang seluas 198.629 ha pada akhir tahun 1990-an.
Letak, topografi dan penutupan lahan
TN Kutai membentang di sepanjang garis khatulistiwa mulai dari pantai Selat Makassar sebagai batas bagian timur menuju arah daratan sepanjang kurang dari 65 km. Kawasan ini juga dibatasi Sungai Sangatta di sebelah utara, sebelah selatan dibatasi Hutan Lindung Bontang dan HTI PT Surya Hutani Jaya, dan sebelah barat dibatasi ex HTI PT Kiani Lestari dan HTI PT Surya Hutani Jaya
TN Kutai secara geografis berada di 0o7’54” - 0o33’53” LU dan 116o58’48” - 117o35’29” BT, sedangkan secara administrasi pemerintahan, kawasan dengan luas 198.629 ha ini terletak di Kabupaten Kutai Timur (± 80%), Kabupaten Kutai Kartanegara ( ±17,48%) dan Kota Bontang (±2,52%)
Berdasarkan hasil pengolahan citra radar tahun 2005, diperoleh informasi bahwa secara umum TN Kutai memiliki topografi datar yang tersebar hampir di seluruh luasan kawasan (92%) dan topografi bergelombang hingga berbukit-bukit tersebar pada bagian tengah kawasan yang membentang arah utara selatan (8%). Sebagian besar kawasan memiliki kelas ketinggian antara 0 – 100 m dpl (61%) yang tersebar pada bagian timur dan barat kawasan. Tingkat ketinggian bagian tengah kawasan antara 100 – 250 m dpl (39%).
Deskripsi penutupan lahan paling mutakhir dihasilkan dari interpretasi citra landsat yang dilakukan pada bulan September 2005. Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat ini, luas kawasan TN Kutai bertambah menjadi 198.803,59 ha
Geologi dan Tanah
Berdasarkan peta geologi Kalimantan Timur, formasi geologi kawasan ini sebagian besar meliputi tiga bagian, yaitu:
1. Bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang.
2. Bagian tengah terdiri dari batuan miosen atas.
3. Bagian barat terdiri dari batuan sedimen bawah.
klim dan Hidrologi
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TN Kutai beriklim tipe B dengan nilai Q berkisar antara 14,3 % - 33, 3 %. urah hujan rata-rata setahun 1543,6 mm atau rata-rata 128,6 m dengan rata-rata hari hujan setahun 66,4 hari atau rata-rata bulanan 5,5 hari. Suhu rata-rata adalah 26oC (berkisar antara 21-34 derajat Celcius) dengan kelembaban relatif 67% - 9% dan kecepatan angin normal rata-rata 2 – 4 knot/jam (Site Plan Kepariwisataan TN Kutai, 1995). Sungai-sungai yang mengalir di dalam dan sekitar TN Kutai antara lain: Sungai Sangatta, Sungai Banu Muda, Sungai Sesayap, Sungai Sangkima, Sungai Kandolo, Sungai Selimpus, Sungai Teluk Pandan, Sungai Palakan, Sungai Menamang Kanan, Sungai Menamang Kiri, Sungai Tawan, Sungai Melawan dan Sungai Santan
Ekosistem
Tipe-tipe ekosistem yang terdapat di TN Kutai antara lain (BTNK, 2001):
* Hutan Dipterocarpaceae campuran, sebagian besar terdapat di bagian timur kawasan. Pada kawasan bekas kebakaran telah muncul Macaranga dan perdu.
* Hutan Ulin-Meranti-Kapur, terdapat di bagian barat TN Kutai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang dan mencakup hampir 50% dari luas TN Kutai.
* Vegetasi hutan mangrove dan tumbuhan pantai, terdapat di sepanjang pantai Selat Makassar.
* Vegetasi hutan rawa air tawar, tersebar pada daerah kantong-kantong sepanjang sungai dan mengandung endapan lumpur yang dibawa banjir.
* Vegetasi hutan kerangas, terdapat di sebelah barat Teluk Kaba.
* Vegetasi hutan tergenang apabila banjir, terdapat pada daerah di sepanjang sungai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang.
Letak, topografi dan penutupan lahan
TN Kutai membentang di sepanjang garis khatulistiwa mulai dari pantai Selat Makassar sebagai batas bagian timur menuju arah daratan sepanjang kurang dari 65 km. Kawasan ini juga dibatasi Sungai Sangatta di sebelah utara, sebelah selatan dibatasi Hutan Lindung Bontang dan HTI PT Surya Hutani Jaya, dan sebelah barat dibatasi ex HTI PT Kiani Lestari dan HTI PT Surya Hutani Jaya
TN Kutai secara geografis berada di 0o7’54” - 0o33’53” LU dan 116o58’48” - 117o35’29” BT, sedangkan secara administrasi pemerintahan, kawasan dengan luas 198.629 ha ini terletak di Kabupaten Kutai Timur (± 80%), Kabupaten Kutai Kartanegara ( ±17,48%) dan Kota Bontang (±2,52%)
Berdasarkan hasil pengolahan citra radar tahun 2005, diperoleh informasi bahwa secara umum TN Kutai memiliki topografi datar yang tersebar hampir di seluruh luasan kawasan (92%) dan topografi bergelombang hingga berbukit-bukit tersebar pada bagian tengah kawasan yang membentang arah utara selatan (8%). Sebagian besar kawasan memiliki kelas ketinggian antara 0 – 100 m dpl (61%) yang tersebar pada bagian timur dan barat kawasan. Tingkat ketinggian bagian tengah kawasan antara 100 – 250 m dpl (39%).
Deskripsi penutupan lahan paling mutakhir dihasilkan dari interpretasi citra landsat yang dilakukan pada bulan September 2005. Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat ini, luas kawasan TN Kutai bertambah menjadi 198.803,59 ha
Geologi dan Tanah
Berdasarkan peta geologi Kalimantan Timur, formasi geologi kawasan ini sebagian besar meliputi tiga bagian, yaitu:
1. Bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang.
2. Bagian tengah terdiri dari batuan miosen atas.
3. Bagian barat terdiri dari batuan sedimen bawah.
klim dan Hidrologi
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TN Kutai beriklim tipe B dengan nilai Q berkisar antara 14,3 % - 33, 3 %. urah hujan rata-rata setahun 1543,6 mm atau rata-rata 128,6 m dengan rata-rata hari hujan setahun 66,4 hari atau rata-rata bulanan 5,5 hari. Suhu rata-rata adalah 26oC (berkisar antara 21-34 derajat Celcius) dengan kelembaban relatif 67% - 9% dan kecepatan angin normal rata-rata 2 – 4 knot/jam (Site Plan Kepariwisataan TN Kutai, 1995). Sungai-sungai yang mengalir di dalam dan sekitar TN Kutai antara lain: Sungai Sangatta, Sungai Banu Muda, Sungai Sesayap, Sungai Sangkima, Sungai Kandolo, Sungai Selimpus, Sungai Teluk Pandan, Sungai Palakan, Sungai Menamang Kanan, Sungai Menamang Kiri, Sungai Tawan, Sungai Melawan dan Sungai Santan
Ekosistem
Tipe-tipe ekosistem yang terdapat di TN Kutai antara lain (BTNK, 2001):
* Hutan Dipterocarpaceae campuran, sebagian besar terdapat di bagian timur kawasan. Pada kawasan bekas kebakaran telah muncul Macaranga dan perdu.
* Hutan Ulin-Meranti-Kapur, terdapat di bagian barat TN Kutai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang dan mencakup hampir 50% dari luas TN Kutai.
* Vegetasi hutan mangrove dan tumbuhan pantai, terdapat di sepanjang pantai Selat Makassar.
* Vegetasi hutan rawa air tawar, tersebar pada daerah kantong-kantong sepanjang sungai dan mengandung endapan lumpur yang dibawa banjir.
* Vegetasi hutan kerangas, terdapat di sebelah barat Teluk Kaba.
* Vegetasi hutan tergenang apabila banjir, terdapat pada daerah di sepanjang sungai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang.
TAMAN NASIONAL KUTAI
Taman Nasional Kutai memiliki berbagai tipe vegetasi utama yaitu vegetasi hutan pantai/mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hutan Dipterocarpaceae campuran. Taman nasional ini merupakan perwakilan hutan ulin yang paling luas di Indonesia.
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Berikut paparan meneganai fungsi dan manfaat dari hutan bakau :
Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut:
Inilah Fungsi Hutan Bakau
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
fungsinya sebagai berikut :
1. Habitat satwa langka
Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus)
2. Pelindung terhadap bencana alam
Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.
3. Pengendapan lumpur
Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.
4. Penambah unsur hara
Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.
5. Penambat racun
Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif.
6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)
Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.
7. Transportasi
Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan
8. Sumber plasma nutfah
Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.
9. Rekreasi dan pariwisata
H utan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya..
10. Sarana pendidikan dan penelitian
Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
11. Memelihara proses-proses dan sistem alami
Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.
12. Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.
13. Memelihara iklim mikro
Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.
14. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam
Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Berikut paparan meneganai fungsi dan manfaat dari hutan bakau :
Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut:
Inilah Fungsi Hutan Bakau
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
fungsinya sebagai berikut :
1. Habitat satwa langka
Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus)
2. Pelindung terhadap bencana alam
Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.
3. Pengendapan lumpur
Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.
4. Penambah unsur hara
Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.
5. Penambat racun
Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif.
6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)
Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.
7. Transportasi
Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan
8. Sumber plasma nutfah
Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.
9. Rekreasi dan pariwisata
H utan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya..
10. Sarana pendidikan dan penelitian
Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
11. Memelihara proses-proses dan sistem alami
Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.
12. Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.
13. Memelihara iklim mikro
Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.
14. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam
Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.
Label:
hutan bakau,
taman nasional kutai,
TNK
Langganan:
Postingan (Atom)