Cari Blog Ini
Minggu, 26 Juni 2011
Brucea javanica (L.) Merr.
Klasifikasi :
Suku : Simaroubaceae
Marga : Brucea
Sinonim : Brucea sumatrana, Brucea amarissima
Nama Lokal : Kwalot
Nama Daerah : Cerek jantan, Taun, Ki padessa, Belilik, Amber merica
Begitu banyak potensi tumbuhan obat di Taman Nasional Kutai yang belum terekspos. Salah satunya adalah Brucea javanica. Tumbuhan ini dapat hidup pada daerah dengan ketinggian 0,5-550 m dpl. Dan biasanya terdapat pada belukar, di tepi sungai, hutan jati, hutan sekunder muda, dan sebagai tanaman pagar. Bentuknya memang tidak terlalu menarik dan terlihat seperti semak biasa. Tapi jangan salah.. seluruh bagian tumbuhan ini berfungsi dalam dunia pengobatan tradisional. Seperti kata pepatah don’t judge a book by its cover. Jadi, jangan menilai tumbuhan ini dari bentuk luarnya saja. Untuk lebih jelas mengenal fungsi dan bagaimana mengindentifikasi jenis ini, ulasannya ada di bawah ini.
Identifikasi:
Habitus berupa semak tinggi, tegak, tinggi 1-2,5 m. Batang berkayu, bulat, berbintik-bintik, putih kotor. Susunan daun menyirip ganjil. Anak daun 5-13, sebagian besar berhadapan, anak daun berbentuk bulat telur memanjang lanset, ujung meruncing, tepi bergerigi beringgit, pangkal membulat atau runcing. Bunga berkelamin 1 atau 2, bentuk malai panjang 2-30 cm, tangkai silindris, panjang l 0-60 cm, kehijauan. Perhiasan bunga berupa kelopak dengan daun kelopak lonjong, segmen kelopak sangat kecil, bentuk oval bulat telur terbalik, 0.75-1 mm.
Mahkota bunga memiliki 5 daun mahkota, bentuk memanjang, tumpul, berambut jarang, sepanjang tepi berkelenjar, berwarna hijau ungu. Benang sari sebanyak daun mahkota, kepala sari tidak ada pada bunga betina. Putik pada bunga jantan rudimenter, bertajuk 4. Pada bunga yang berkelamin 2 atau bunga betina bakal buah dan tangkai putik 4, lepas, tonjolan penebalan dasar bunga jelas. Waktu berbunga Januari – Desember. Buah dan biji seperti batu, bulat, hitam. Akar tunggang, putih kotor.
Khasiat :
Biji Brucea javanica mengandung zat pahit, triterpen, sterin, lilin, senyawa fenolik (zat samak). Zat pahit yang terdapat dalam biji Brucea javanica L. Meer terdiri dari bruseantin, bruseantinol, brusein A, B, C, D, dehidrobusein A, brusatol, yadanziolid, yadanziolid A, yadanziolid C, yadanziolid F, senyawa pahit mirip kantin-6-on. Bagian biji digunakan untuk pengobatan penyakit antara lain kanker, disentri, malaria. Akar digunakan untuk mengobati demam, disentri, batuk, rematik. Daun digunakan untuk mengobati demam, kudis, bisul, penawar racun lipan. Buah digunakan untuk mengurangi perdarahan, disentri. Seluruh bagian tumbuhan digunakan dalam pengobatan demam, kejang perut, disentri.
Contoh Penggunaan:
• Pengobatan disentri amuba: 7-10 buah biji kwalot dibuat infusa dengan 110 ml air, diminum 1 kali sehari 100 ml, diulang selama 12 hari.
• Pengobatan malaria: 7-10 buah biji kwalot, 7 gram herba meniran, 1 gram kulit kayu pule dan 110 ml air, dibuat infusa; diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 14 hari; untuk pemeliharaan diminum 1 kali sebulan 100 ml.
• Pengobatan diare: 5 gram kulit batang dicuci, diseduh dengan 1 gelas air panas matang. Hasil seduhan diminum dua kali sama banyak selang 2 jam.
Referensi:
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Yayasan Sarana Wama Jaya. Jakarta.
Kebler, P.J.A. 2000. Pohon-Pohon Hutan Kalimantan Timur, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 2.
http://subject.forest.gov.tw
http://www.iptek.net.id
TUMBUHAN BERKHASIAT MENGOBATI DEMAM YANG TERDAPAT DI TAMAN NASIONAL KUTAI
1. Pule (Alstonia scholaris); Famili: Apocynaceae
Tumbuhan ini berbentuk pohon dengan tinggi 20 – 25 m. Batang lurus, berkayu dan percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit dan bergetah putih. Daun tunggal tersusun melingkar, 4 – 9 helai, bentuknya lonjong sampai lanset, tepi rata, pertulangan menyirip dan warna hijau. Bunga majemuk, tersusun dalam malai yang keluar dari ujung tangkai, berwarna hijau terang sampai putih kekuningan dan berambut halus. Buah bumbung dan berbentuk pita dengan panjangnya 20 – 25 cm. Biji kecil, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya.
Kulit kayunya mengandung alkaloida ditanin, ekitamin (ditamin), ekitanin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin dan triperpen. Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunganya mengandung asam ursolat dan lupeol.
Tumbuhan ini tersebar mulai dari Cina, India, Asia Tenggara, hingga ke Australia.
2. Daun kupu-kupu (Bauhinia tomentosa); Famili: Caesalpiniaceae
Perdu dengan tinggi 2 – 3 meter. Batang tegak, berkayu, beralur dan berwarna hijau. Daun tunggal, duduk berseling, bentuk jantung, pangkal membulat, ujung membelah dua, tumpul, pertulangan menyirip, panjang 12 – 18 cm, lebar 10 – 15 cm dan berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk tandan, berkelamin dua, terletak di ketiak daun, kelopak lepas, licin, hijau, benang sari panjang 5 mm, kepala sari bulat, coklat, tangkai putik silindris, kepala putik kecil, dan berwarna hijau. Mahkota berbentuk bintang, lepas, halus dan berwarna kuning. Buah polong, bulat dan berwarna hitam. Biji bulat dan berwarna coklat.
Daun dan buah Bauhinia tomentosa mengandung saponin, flavonoida dan polifenol.
3. Marasi (Curculigo latifolia); Famili: Amaryllidaceae
Sejenis tumbuhan herba yang tumbuh secara berumpun yang agak besar. Daun berwarna hijau, keras atau kuat. Ukuran daun yang tua panjangnya antara 55 – 57 cm dan lebar 15 – 17 cm. Daunnya meruncing pada ujung dan pangkalnya. Tepi daun licin dan daun mempuyai banyak urat daun pada permukaannya. Bunga terdapat di dasar atau pangkal pokok. Setiap bunga mempunyai 6 kelopak dan berwarna kuning terang. Buah yang telah matang berbentuk beri, berwarna putih dan terasa manis bila dimakan. Tumbuhan ini mengandung curculin yang memiliki derajat kemanisan setara 350.000 sukrosa, sehingga berpotensi sebagai pemanis alami.
4. Pacing (Costus speciosus); Famili: Zingiberaceae
Merupakan perdu yang tumbuh pada tempat dengan sedikit naungan dan lembab.. Daun berbulu, berwarna hijau dengan batang beruas. Rimpang berbau seperti ragi jika diremas-remas. Bagian bawah batang berwarna hijau dan bagian atas berwarna kemerah-merahan. Lapisan kayu agak tipis, akan tetapi bagian bawah dan batang tua keras.
Rimpang dan bijinya mengandung diosgenin dan sitosterol (sapogenin).
Tumbuhan ini tersebar mulai dari India ke seluruh Asia Tenggara termasuk Indonesia sampai Taiwan dan Australia.
5. Waru laut (Hibiscus tiliaceus); Famili: Malvaceae
Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri berupa pohon dengan tinggi ±15 m. Batang berkayu, bulat, bercabang, dan berwarna coklat. Daun tunggal, bulat, diameter ±19 cm, pertulangan menjari, berkelenjar, daun penumpu panjang ±2,5 cm dan berwarna hijau keabu-abuan. Bunga berwarna kuning. Buah bulat telur, berbulu lebat, mempunyai ruang lima, panjang ±3 cm dan berwarna coklat.
6. Nyiri (Xylocarpus granatum); Famili: Meliaceae
Merupakan jenis mangrove dengan tinggi antara 10 – 20 meter dan memiliki akar lutut. Daun lonjong dengan ujung membulat, panjang 8 – 18,5 cm dan lebar 4 – 8 cm.Bunga berwarna putih dan berukuran kecil. Buah bulat berdiameter 18 – 25 cm dan berisi biji 6-12. Kulit buah keras, berserat dan terbagi 4 sekat. Biji 6-16 yang dibungkus lapisan spons.
Tabel 1. Tumbuhan berkhasiat sebagai obat demam dan cara penggunaannya.
No Famili Nama ilmiah Bagian yang digunakan Cara penggunaan
1 Apocynaceae Alstonia scholaris Kulit batang Kulit batang pulai 3 gram dicuci bersih lalu direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin lalu disaring, tambahkan 1 sendok makan madu dan diaduk lalu diminum
2 Caesalpiniaceae Bauhinia tomentosa Daun Daun segar sebanyak ±15 gram dicuci, dirajang-rajang lalu diseduh dengan 1 gelas air matang. Hasil seduhan diminum sekaligus.
3 Amaryllidaceae Curculigo latifolia Akar, tumbuhan • Akar dimakan dalam keadaan mentah.
• Tumbuhan marasi dan bunga sepatu (Hibiscius rosasinensis) direbus dan airnya diminum.
4 Zingiberaceae Coctus speciosus Kayu Lapisan kayu yang keras setelah dihaluskan dengan air diatas batu lalu diminum.
5 Malvaceae Hibiscus tiliaceus Kaun Daun segar ± 15 gram direbus dengan 2 gelas air selama 20 menit, setelah dingin diperas dan disaring. Hasil saringan diminum sehari dua kali sama banyak pagi dan sore.
6 Meliaceae Xylocarpus granatum Kulit kayu Kulit kayu direbus dan diminum sebanyak 150 ml 3 kali sehari selama 3 hari.
Tumbuhan berkhasiat sebagai obat demam di atas hanyalah beberapa tumbuhan yang telah berhasil diidentifikasi. Masih banyak kemungkinan bahwa Taman Nasional Kutai memiliki kekayaan flora lain yang juga bermanfaat sebagai obat demam, terutama tumbuhan yang telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat sekitar hutan. Menjadi tugas kita bersama untuk terus menggali kekayaan flora Taman Nasional Kutai.
Sumber:
www.pdpersi.co.id
www.iptek.apjii.or.id
www.sweetpee.wordpress.com
KUAU BESAR
Burung ini memiliki kepala dan leher berwarna biru dan tidak berbulu. Bulu badan kuau berwarna coklat kemerahan bercampur kuning serta berbintik kehitaman. Bulu sayapnya dihiasi bulatan-bulatan mirip mata yang tersusun teratur. Dari 12 bulu ekor yang dimilikinya kuau jantan, tampak dua helai ekor paling panjang dan terdapat tepat di tengah, yang biasa dipakai sebagai salah satu aksesori pada pakaian Suku Dayak selain bulu burung rangkong. Kuau memiliki panjang sekitar 170 cm (termasuk ekornya yang sepanjang 120 cm).
Kuau hidup di hutan dataran rendah, di tempat yang rimbun, kering dan berbatu. Makanannya berupa biji-bijian, buah-buahan, dan binatang kecil seperti cacing, keong, semut dan serangga. Tingkah lakunya menjadi sangat menarik pada awal musim berkembang biak. Kuau jantan akan memperlihatkan tarian di depan kuau betina dengan mengandalkan bulunya yang indah. Peragaan itu dilakukan di sebidang tanah berdiameter 3 – 5 m. Sebelum menari, kuau jantan akan membersihkan arena tersebut dari ranting-ranting dan dedaunan.
Dalam tarian itu, kuau jantan akan mengembangkan bulu sayapnya. Pada saat yang sama, kedua belas bulu ekornya terangkat serta mengembang, sehingga akhirnya membentuk sebuah kipas raksasa. Tepat di tengah-tengah kipas itu tampak dua helai bulu ekor yang panjang dan tegak menjulang tinggi. Perlahan-lahan kipas raksasa tersebut ditarik ke depan sehingga tubuh, kepala dan kakinya tersembunyi di balik bulu. Kemudian kipas itu digetarkan sehingga timbul suara gemerisik. Akhirnya, jika si betina tertarik, ia akan segera memasuki arena tersebut.
Setelah kawin, kuau betina akan menyusun sarang di semak-semak atau kadang-kadang di pohon. Kuau bertelur sebanyak 2 – 3 butir dan akan menetas setelah dierami selama 25 hari. Saat itu pula kuau jantan harus dipisah agar tidak mengganggu kuau betina dan anak-anaknya. Selama beberapa hari, anak-anak kuau hanya menerima makanan dari induknya, sebelum belajar mencari makan sendiri. Selama itu pula anak-anak kuau tetap tinggal bersama induknya.
Kuau tidak menyukai tempat yang terang dan hanya mau bersuara pada tempat yang gelap. Karena burung ini sulit dijumpai, maka arena berkembang biak menjadi salah satu tanda keberadaan satwa yang mulai terancam punah ini. Burung yang memiliki penciuman dan pendengaran yang sangat tajam ini menjadikannya sukar ditangkap. Namun kerusakan hutan menjadikan burung ini semakin kesulitan untuk mendapatkan tempat hidup. Burung yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 ini sempat dijumpai oleh tim peneliti dari BEBSiC (Borneo Ecological and Biodiversity Science Club) pada tahun 2003 di salah satu kawasan Taman Nasional Kutai. Namun dengan adanya kerusakan yang terus melanda di kawasan Taman Nasional Kutai, dikhawatirkan akan memusnahkan burung yang termasuk dalam daftar CITES – Appendix II ini.
OBAT LUKA DARI TAMAN NASIONAL KUTAI (TNK)
Taman Nasional Kutai yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi khususnya kekayaan flora, termasuk tumbuhan yang berkhasiat obat. Berdasarkan hasil survey balai Taman Nasional Kutai tahun 2005, 22.9% diantara kekayaan flora TNK merupakan jenis yang diidentifikasi berkhasiat obat. Identifikasi jenis yang berkhasiat obat tersebut didasarkan pada pemanfaatan masyarakat Kutai secara tradisional dan pemanfaatan industri farmasi.
No Nama Latin Nama Daerah Manfaat Bagian yang Digunakan Cara Penggunaan
1
Acanthus ilicifolius
Fam: Achantaceae Ciriju
Menghentikan darah, obat luka gigitan ular buah Buah dihancurkan dalam air dan dioleskan ke bagian yang luka
2
Aglaea sp.
Fam. Connaraceae
Akar ubar
Obat Sariawan getah pohon Getah diambil dari batang kemudian dioleskan pada bibir yang mengalami sariawan
3
Bauhinia tomentosa
Fam. Fabaceae Akar kupu-kupu Obat luka Daun daun akar kupu-kupu dicampur pucuk Rumput beribit dan jahe secukupnya kemudian ditumbuk ditempelkan pada permukaan luka
4 Cinnamomum sp.
Fam: Mirtaceae
Entang Burung Obat luka infeksi Kulit akar
Kulit akar dibersihkan lalu kemudian ditumbuk dan dibalurkan pada daerah yang mengalami luka infeksi
5 Clerodendron ineme
Fam. Verbenaceae Kembang bugang Luka memar, luka baru akar akar kering diekstraksi dan airnya dioleskan ke bagian yang luka
6
Koordersiodendron pinatum
Fam. Anacardiaceae Tebu hitam obat bengkak karena tumor dan infeksi kulit pohon kulit pohon direbus kemudian diminum
7
Lumnitzera racemosa
Fam. Comberatceae Obat sariawan daun Daun direbus dan dipajkai untuk kumur
8
Macaranga triloba
Fam. Euphorbiacea Mahang Obat Sariawan akar akar dioleskan pada bibir yang mengalami sariawan
9 Melastoma malabatrhicum
Fam.Melastomataceae Karamunting Obat luka, gatal, bengkak disengat lebah Buah Buahnya digosokkan pada bagian yang sakit
10
Octomeles sumatrana
Fam. Datiscaceae benuang bini Obat luka infeksi daun Daun ditumbuk kemudian direndam lalu dicucikan pada luka yang terkena infeksi
11
Rhisophora sp
Fam. Rhizophoraceae Bakau putih/bakau hitam Obat luka infeksi Kulit batang, daun muda Dilumatkan dan ditempelkan ke bagian tubuh yang luka
12
Smilax sp.
Fam.Smilacaceae Akar bentul Obat bisul umbi Umbinya di parut kemudian ditempel pada bisul
13
Streblus sp.
Fam. Moraceae Akar blaran merah Obat bisul Getah Getah dari akar blaran merah dioleskan pada bagian yang mengalami bisul
14
Streblus sp. Akar blaran putih Obat bisul Getah Getah dari akar blaran merah dioleskan pada bagian yang mengalami bisul
15 vitex pinnata
Fam. Verbenaceae laban Obat luka daun Daunnya direbus kemudian airnya disiramkan pada bagian yang luka
16
Xylocarpus granatum
Fam. Meliaceae Tambu-tambu Pembersih luka Air ekstrak Diekstrak dan airnya untuk membersihkan luka
Pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan tradisional beberapa tahun terakhir bahkan semakin populer dan semakin banyak peneliti yang tertarik untuk mengetahui kandungan kimia dari tumbuhan-tumbuhan tersebut.. Belakangan ini, makin banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan obat tradisional dari pada obat kimia. Selain karena harga obat kimia yang semakin mahal, juga untuk menghindari efek samping dari obat-obatan kimia
Berbagai jenis bagian tumbuhan dan berbagai jenis cara pula yang digunakan dalam pemanfatan tumbuhan tersebut seperti dimasak, dijemur, ditumbuk dll, namun cara pemanfaatan yang paling mudah adalah pemanfaatan untuk mengobati luka dimana sebagian besar cukup dengan diremas bisa langsung ditempelkan kebagian yang sakit dan penderita bisa langsung merasakan khasiatnya.
Luka memang suatu penyakit yang kedengarannya sepele dan sering dianggap enteng oleh banyak orang. Namun penyakit ini paling dekat dengan kehidupan kita dan sangat sering terjadi pada hampir setiap orang, baik luka ringan maupun luka berat. Bagi penderita yang berada di kota, yang dekat dengan pusat-pusat pelayanan kesehatan mungkin luka bisa diatasi dengan mudah karena tinggal mendatangi tempat-tempat tersebut dan membayarkan sejumlah uang penderita akan segera mendapat tindakan pengobatan. Namun bagi penderita yang ada didesa-desa bahkan jauh didalam hutan, tidak bisa seperti itu. Mereka yang tinggal di desa-desa atau di dalam hutan tidak bisa mendapatkan pelayanan tersebut atau bisa dikatakan tidak perlu mendapatkan pengobatan secara kimia, karena mereka secara turun-temurun telah menggunakan berbagai jenis tumbuhan untuk pengobatan berbagai macam penyakit, termasuk pengobatan luka.
Berdasarkan hasil survey tumbuhan obat di TNK akhir tahun 2005, obat luka (bisul, sariawan, infeksi, gatal-gatal dll) menempati urutan ketiga dalam urutan jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan tumbuhan obat yang ada di TNK setelah Obat sakit perut (sakit karena masuk angin, diare, disentri, berak berdarah) dan Obat kewanitaan (keputihan, jamu setelah melahirkan, memperbanyak ASI, pelancar haid dll
Jenis-jenis tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan luka antara lain adalah ciriju (Acanthus ilicifolius), akar ubar (Aglaea sp.), akar kupu-kupu (Bauhinia tomentosa), entang burung (Cinnamomum sp.), tebu hitam (Koordersiodendron pinatum), Lumnitzera racemosa, mahang (Maccaranga triloba), Karamunting (Melastoma malabatrhicum), binuang bini (Octomeles sumatrana), bakau putih dan bakau hitam (Rhisophora sp.), akar lemak putri (Smilax sp.), akar blaran merah (Streblus sp.), akar blaran putih (Streblus sp.), laban (Vitex pinnata), dan Tambu-tambu (Xylocarpus granatum).
B. Jenis Tumbuhan, manfaat, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dan cara pemanfaatan.
C. IDENTIFIKASI
1. Ciriju (Acanthus ilicifolius), Famili: Achantaceae
Herba rendah, batang kuat agak berkayu, tinggi hingga 2 meter. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horisontal.
Daun berbentuk lanset, ujung daun meruncing dan berduri tajam, duduk daun berhadapan, permukaan daun licin, tepi daun bervariasi: bergerigi besar seperti gergaji atau rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Bunga berbentuk bulir, terletak diujung. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung, kadang-kadang agak putih. Buah berbentuk bulat lonjong seperti melinjo, saat masih muda berwarna hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat.
Habitat dan Ekologi : biasanya hidup di dekat hutan mangrove dan sangat jarang di daratan
Distribusi : dari India hingga Australia tropis, Philipina dan Kepulauan Pasifik barat, tersebar diseluruh wilayah Indonesia,
2. Akar kupu-kupu (Bauhinia tomentos), Famili: Caesalpiniaceae
Bauhinia tomentosa merupakan perdu dengan tinggi 0,50 – 4 m. Kadang tanaman ini ditanam sebagai tanaman hias di kebun. Daunnya yang berasa asam dapat ditambahkan pada sayur asam. Ragam pemanfaatannya adalah dengan membuat bubur dari daunnya dan diletakkan pada bagian yang membengkak. Cara ini berkhasiat untuk mengobati bengkak.
3. Entang burung (Cinnamomum sp.), Famili: Lauraceae
Pohon, tinggi hingga 15 m, diameter batang sekitar 20 cm. Kulit batang berwarna coklat, duduk daun berhadapan, membundar telur atau lanset, panjang 7-18 cm, lebar 3-6 cm, pangkal membaji hingga membundar, ujung daun melancip hingga runcing panjang, permukaan bawah sedikit berlapis lilin kebiruan, bertulang 3. Bunga dalam bentuk tandan, berkelamin 2. Buah bulat telur, panjang sekitar 1 cm, diameter 8 mm, duduk di atas mangkuk tajuk yang bercuping.
Habitat dan Ekologi : Dalam hutan Dipterocarpaceae lahan pamah.
Distribusi : Endemik Borneo
4. Tebu Hitam (Koordersiodendron pinatum), Famili: Anacardiaceae
Nama daerah jenis ini adalah Tebu Hitam. Tumbuhan ini merupakan pohon yang besar. Hyne (1987) menyebutnya sebagai raksasa rimba. Tebu hitam merupakan pohon yang tingginya mencapai 50 m dan besar batangnya 2 m. daun berbentuk lanset, tulang daun menyirip (pinnate) dan tepinya berombak. Tata letak daun berhadapan, komposisi majemuk menyirip tunggal dengan jumlah anak daun 10 – 16 pasang. Sistem percabangan monopodial. Kulit batang berwarna coklat kehitaman dan permukaannya retak. Tumbuhan ini bermanfaat sebagai obat bengkak karena tumor dan luka infeksi juga dapat dimanfaatkan sebagai anti pacet.
5. Kembang bugang, (Clerodendron ineme), Famili: Verbenaceae
Belukar, menjalar melebar di permukaan tanah dengan ketinggian kurang dari 2 m. Daun tunggal, duduk daun berhadapan, bentuk daun ellips, ujung daun meruncing, permukaan daun hijau mengkilat, daun kaku dan tertekuk kedalam.
Bunga berbentuk lonceng terletak diketiak daun. Daun bermahkota 5 berwarna putih bersih, bagian bawah bertangkai panjang. Buah berbentuk bulat telur, berwarna hijau kecoklatan, permukaan seperti kulit, mengkilat dan berdaging.
Habitat dan Ekologi : tumbuh subur pada daerah lumpur kering, atau lumpur berpasir dibelakang kawasan hutan mangrove.
Distribusi : diperkirakan diseluruh Indonesia. Data sementara di Bali, Jawa dan Kalimantan.
6. Api-api (Lumnitzera racemosa), Famili: Combretaceae
Belukar atau pohon kecil, selalu hijau, tidak memiliki akar nafas. Daun tunggal, duduk daun berseling. Bentuk daun lanset, sunsang, ujung daun membundar. Daun agak tebal berdaging, keras/kaku dan berumpun pada ujung dahan. Bunga berbentuk bulir, mahkota bunga berwarna putih cerah, dipenuhi oleh nectar. Buah berbentuk elips, berwarna hijau kekuningan, berserat, berkayu dan padat.
Habitat dan Ekologi : tumbuh di sepanjang tepi mangrove. Menyukai substrat berlumpur padat. Juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar.
Distribusi : di bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia, di seluruh Indonesia, PNG, Australia utara dan Polinesia.
7. Mahang (Macaranga triloba), Famili: Euphorbiaceae
Pohon kecil atau perdu. Biasanya memiliki tinggi 3 hingga 6 m, bahkan kadang-kadang 13 m. Kayunya berwarna putih lunak berkualitas rendah dan bergetah. Bentuk daun oval dengan tepi berlekuk 3. pertulangan daun menjari. Kedudukan daun menyebar dengan komposisi tunggal. Ujung daun lancip. tulang daun berbulu halus. Permukaan batang mulus dan bergetah.
8. Karamunting (Melastoma malabatrhicum), Famili: Melastomataceae
Jenis ini merupakan tumbuhan yang hidup dibelukar luas dan kadang-kadang merupakan perdu yang cukup tinggi. Tumbuhan ini dikenal dengan nama daerah Kalimantan sebagai Karamunting namun umumnya di Indonesia dikenal dengan nama Harendong.
Daun berbentuk oval, permukaan daun berbulu, berwarna hijau keunguan. Bagian dalam buah berwarna ungu. Tumbuhan ini berkhasiat untuk menyembuhkan luka angus (luka bakar), berak darah, keputihan, murus, obat setelah melahirkan Daun tumbuhan ini dikunyah kemudian disemburkan pada luka angus dan luka dibalut dengan daunnya untuk mengisap rasa panas berkhasiat untuk mengobati luka bakar.
9. Binuang bini (Octomeles sumatrana), Famili: Datiscaceae
Pohon dengan tinggi hingga 60 – 80 m. Banir membentang tinggi hingga 10 m. Tajuk tahap pertama melonjong, dahan tersusun radial. Kulit batang berwarna abu-abu, halus. Daun tunggal, spiral, tepi daun rata, menjantung membundar, panjang 12 – 30 cm, lebar 6 – 3 cm, pertulangan daun menjari, tulang daun 5 – 7, mempunyai kelenjar domatia berbentuk biji besar terletak mengelompok di ketiak tulang daun. Tangkai daun panjang bersegi 5. Bunga berbentuk bulir tergantung, bunga tanpa tangkai, aktinomorf, berkelamin ganda, daun kelopak 4 – 9, daun mahkota 4 – 9, bebas, bakal buah terbenam, plasenta melekat di dinding luar, buah kapsul, biji kecil-kecil, banyak.
Habitat dan Ekologi : Biasanya di sepanjang sungai di hutan sekunder
Distribusi : Malesia kecuali Semenanjung Malaya, Jawa dan Nusa Tenggara
10. Bakau hitam/bakau putih (Rhisophora sp.), Famili: Rhizophora
Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m, diameter hingga 70 cm, kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horisontal. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. Daun tunggal, duduk daun berhadapan, bentuk daun ellips sampai oblong, ujung daun meruncing. Bunga berwarna kuning pucat. Buah lonjong/panjang sampai 7cm, berwarna kecoklatan, seringkali kasar dibagian pangkal, berbiji tunggal. Hipokotil silinder dengan panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm.
Habitat dan ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur halus dalam dan tergenang pada saat pasang normal lebih toleran pada substrat yang lebih keras dan pasir. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok pada daerah pasang surut, dan sangat jarang ditemukan pada daerah yang jauh dari pasang surut.
Distribusi : Afrika timur, Madagaskar, Mauritania, Asia Tenggara,, seluruh Malaysia dan Indonesia, Melanesia dan Mikronesia.
11. Nyirih (Xylocarpus granatum), Famili: Meliaceae
Pohon dapat mencapai ketinggian 20 m, memiliki akar papan yang melebar ke samping, meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. Batang seringkali berlubang, khususnya pada pohong yang sudah tua. Kulit kayu berwarna coklat muda kekuningan, tipis dan mengelupas dan pada cabang yang lebih muda kulit kayu keriput.
Daun majemuk, duduk daun berhadapan, bentuk daun ellips – obovate, ujung daun membundar. Bunga berbentuk tandan yang muncul dari ketiak tangkai daun . Mahkota putih kehijauan, benangsari berwarna putih krem dan menyatu dalam satu tabung. Buah besar seperti maja, berat sampai 2 kg, diameter 10-20 cm, berwarna hijau kecoklatan. Didalam buah terdapat 6 – 16 biji besar-besar, berkayu dan berbentuk tetrahedral. Buah akan pecah saat kering.
Habitat dan Ekologi : Tumbuh disepanjang pinggiran sungai pasang surut, pinggir mangrove, dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Individu yang tua seringkali ditumbuhi epipit.
D. PENUTUP
Begitu banyak manfaat yang disediakan hutan kita, namun masih banyak pula yang belum menyadari betapa pentingnya keberadaan hutan dipertahankan. Tumbuhan berkhasiat menyembuhkan luka yang ada di Taman Nasional Kutai, hanyalah bagian kecil dari tumbuhan berkhasiat obat yang ada. Masih banyak tumbuhan berkhasiat obat lain baik yang sudah teridentifikasi maupun yang belum teridentifikasi. Masih banyak pula manfaat-manfaat lain dari TNK selain sebagai penyedia Tumbuhan Obat. Untuk itu: ”Marilah kita menjaganya sebelum kita menyesal karena tidak ada lagi yang bisa kita jaga”.
Daftar Pustaka:
Anonim. 1994. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Kerjasama Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fahutan IPB dan Latin. Bogor.
Anonim. 2005. Potensi Tumbuhan Berkhasiat Obat di Taman Nasional Kutai. Balai Taman Nasional Kutai. Bontang.
Anonim, 2006. Hutan Mangrove, Bagaimana memanfaatkannya secara lestari? Warta Konservasi Vol 14 no. 4 Oktober 2006.
Kebler, P.J.A. 2000. Pohon-Pohon Hutan Kalimantan Timur, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 2.
Kebler, P.J.A. 2000. Secondary Forest Trees of Kalimantan, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 3.
Fitofarmaka
TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT UNTUK WANITA
Oleh : Yulita Kabangnga’
A. PENDAHULUAN
Taman Nasional Kutai (TNK) sebagai salah salah satu kawasan yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan juga kaya akan jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Berdasarkan hasil survei yang pernah dilaksanakan di TNK teridentifikasi sekitar 220 jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Bahkan berdasarkan hasil inventarisasi tahun 2005 yang dilaksanakan hanya pada 2 (dua) lokasi terdapat 215 jenis tumbuhan. Kalau dilakukan pada seluruh kawasan, jumlah ini tentu saja akan semakin besar karena berdasarkan persentasinya 43 % dari keseluruhan jenis merupakan tumbuhan berkhasiat obat, sementara di TNK jumlah jenis vegetasi adalah 958 jenis.
Berdasarkan hasil survei di TNK dan pada masyarakat sekitar kawasan disebutkan bahwa tumbuhan obat terbanyak yang dijumpai setelah tumbuhan untuk mengobati sakit perut/diare adalah tumbuhan obat untuk kewanitaan (keputihan, jamu setelah melahirkan, memperbanyak ASI, pelancar haid, dll.)
Dari beberapa hasil penelitian teridentifikasi 16 (enam belas) jenis tumbuhan yang berkhasiat untuk mengobati sakit perut/diare yaitu blangun mati (Conocarium sp.), entang burung (Cinnamomum sp.), jambu-jambu (Metroxyderos sp.), kapur (Dryobalanops aromatica), kumping (Aglaia odorata), mampat (Ixora sp.), murup (Mallotus peltatus), bentan dayak (Pandanus sp), pilung (Ochanostachys amentacca), retap (Adina polychepala), sengkuang (Dracontomelon dao), terap (Artocarpus elasticus), tete (Amommum maximum) dan beberapa jenis lain. Informasi tentang jenis vegetasi, bagian yang dimanfaatkan serta cara pemanfaatannya tetrsaji dalam Tabel 1.
Tabel 1. Jenis, bagian yang di manfaatkan dan cara pemanfaatan
No Nama Lokal/ Nama Botani Kandungan Kimia Khasiat Bagian yang Digunakan Cara Pemanfaatan
1. Blangun mati (Conocarium sp.) Memperbanyak ASI Daun muda Dimakan sebagai lalapan
2 Entang burung (Cinnamomum sp.) Jamu sari rapet Akar Akarnya direbus dicampur dengan jahe kemudian diminum
3 Jambu-jambu (Metroxyderos sp.) Luka-luka, keputihan Kulit kayu
4 Kapur (Dryobalanops aromatica) Perangsang kulit, pencegah pendarahan Buah dan biji
Obat kuat ibu hamil Daun
5 Kumping (Aglaia odorata) Minyak atsiri Mengurangi menstruasi, penyakit kelamin Daun Daunnya direbus dengan air hingga berkurang setengahnya kemudian diminum
6 Lada hutan (Piper nigrum) Wanita nifas, minuman penyegar Buah Buahnya dimakan
7 Lirik Memperlancar persalinan Daun Daun direbus dengan air hingga menjadi setengahnya kemudian diminum
8 Mampat (Ixora sp.) Memperbanyak ASI dan meingkatkan daya tahan tubuh bayi dari penyakit Daun muda Daun mudanya dimakan baik sebagai sayur maupun lalap
9 Murup (Mallotus peltatus) Menambah nafsu makan dan jamu setelah persalinan Akar Akar direbus dengan menggunakan air hingga berkurang setengahnya kemudian diminum
10 Bentan dayak (Pandanus sp.) Jamu setelah persalinan, pembersih darah Akar Akar direbus dengan menggunakan air hingga berkurang setengahnya kemudian diminum
11 Pilung (Ochanostachys amentacea) Demam, pembersih badan setelah melahirkan Kulit kayu Kulit kayu direndam kemudian airnya diminum
12 Retap (Adina polychepala) Memperbanyak asi Daun muda Daun muda dijasikan sayuran kemudian dimakan
13 Saga (Adenanthera pavonia) Saponin Obat KB
Biji Bijinya disangrai kemudian dimakan
14 Sengkuang (Dracontomelon dao) Membantu mengeluarkan ari-ari pada wanita bersalin Kulit batang
15 Terap (Artocarpus elasticus) Membatasi kelahiran/KB Kulit batang
16 Tete (Amommum maximum)
Obat pembersih untuk wanita yang baru melahirkan Akar Akarnya direbus dengan air hingga berkurang stengahnya kemudian diminum
B. IDENTIFIKASI
1. Entang burung (Cinnamomum cuspidatum)
Pohon, tinggi hingga 15 m, diameter batang sekitar 20 cm. Kulit batang berwarna coklat, duduk daun berhadapan, membundar telur atau lanset, panjang 7-18 cm, lebar 3-6 cm, pangkal membaji hingga membundar, ujung daun melancip hingga runcing panjang, permukaan bawah sedikit berlapis lilin kebiruan, bertulang 3. Bunga dalam bentuk tandan, berkelamin 2. Buah bulat telur, panjang sekitar 1 cm, diameter 8 mm, duduk di atas mangkuk tajuk yang bercuping.
Habitat dan Ekologi : Dalam hutan Dipterocarpaceae lahan pamah.
Distribusi : Endemik Borneo
2. Kumping (Aglaia odorata BL); Famili : Meliaceae
Perdu, tegak, tinggi 2 - 5 m. Tangkai daun utama bersayap sempit, daun menyirip ganjil; anak daun 3 – 9, bertangkai pendek, bulat telur terbalik memanjang dengan kaki runcing. Bunga berkelamin 1 dalam bentuk malai rapat panjang 1,5 – 16 cm; tangkai bunga kebanyakan 3 – 4 mm. Bunga jantan mempunyai daun mahkota 5, tidak terbentang, panjang 2 – 2,5 mm, kuning. Benang sari beberkas 1; tabung benang sari di dalam bunga jantan pada pangkal dindingnya dipertebal kuat; kepala sari terbungkus dalam tabung. Buah berdaging 1 – 3 ruang, biji 1 – 3.
3. Mampat (Ixora sp.); Famili : Rubiaceae
Jenis ini merupakan pohon hutan yang mudah dijumpai di sepanjang boardwalk Sangkima. Mampat berkhasiat untuk memperbanyak ASI dan meningkatkan daya tahan tubuh bayi dari penyakit menular. Daun tumbuhan yang disayur dan dikonsumsi oleh ibu yang baru melahirkan dapat memperbanyak ASI.
4. Pilung (Ochanostachys amentacea) ; Famili : Olacaceae
Pohon tinggi hingga 30 m, diameter 20-40 cm. Kulit batang berwarna coklat abu-abu hingga merah kecoklatan. Daun membundar hingga menlonjong. Panjang daun 6-13 cm, lebar 3-7 cm, pangkal daun datar lebar hingga membundar, kadang-kadang asimetris, ujung daun melancip, daun tebal biasanya gundul, biasanya berbintil dikedua permukaan, sebagian berwarna kehitaman, tulang daun sekunder 5 atau 6 pasang. Tangkai daun panjang 1,5 – 2 cm, tidak menebal diujung.
Habitat dan Ekologi : Di lereng bukit dan sepanjang sungai dalam hutan primer
Distribusi : Kepulauan Andaman, Semenanjung Malaya, Sumatera dan Borneo
5. Retap (Adina polychepala); Famili : Rubiaceae
Pohon tinggi sampai 40 m, dengan diameter mencapai 80 cm. Kulit batang luar halus, coklat sampai kehitam-hitaman, kulit batang dalam berwarna pink sampai merah kecoklatan. Kayu pucat kuning. Stipul berbentuk segitiga, panjang 2-6 mm dan lebar 2-4 mm, stipule sangat cepat rontok. Daun berbentuk elips sampai membundar panjang 2-24 cm, lebar 4-10 cm, berbentuk seperti kertas sampai kulit, ujung daun runcing sampai meruncing, pertulangan daun lateral 6-14 pasang. Panjang tangkai daun sampai 3 cm
Habitat dan Ekologi : Hutan primer dan hutan sekunder dataran rendah
Distribusi : India, Burma, Thailand, Combodia, Vietnam, Malai Peninsula, Sumatera, Jawa, Filipina, Borneo
6. Sengkuang (Dracontomelon dao), Famili : Anacardiaceae
Dracontomelon dao atau sengkuang merupakan pohon besar dan disebut oleh Hyne (1987) sebagai raksasa rimba. Pohon ini merupakan salah satu pakan yang disukai satwa primata Kalimantan yaitu orangutan. Memiliki tinggi 55 m dan besar batangnya 3 m. Tumbuhan ini memiliki banir tipis yang tingginya 6 – 8 m. Daun berbentuk lanset, bersirip tunggal yang terdiri dari kurang dari 10 pasang anak daun. Pada tangkai daun terdapat bulu halus dan ada penebalan pada percabangan daun. Batang berwarna coklat, permukaan licin dan bopeng. Khasiat dari tumbuhan ini adalah untuk membantu persalinan. Ragam pemanfaatannya adalah dengan diseduh. Seduhan kulit batang dengan sagoer diberikan kepada wanita bersalin untuk membantu keluarnya ari-ari.
C. PENUTUP
Uraian tentang tumbuhan berkhasiat untuk obat di atas belum memuat semua jenis tumbuhan yang berkhasiat obat untuk wanita yang terdapat di Taman Nasional Kutai. Masih ada beberapa jenis yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kutai dan Dayak, namun belum teridentifikasi secara jelas. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi lengkap dan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis tumbuhan berkhasiat obat lainnya dan kandungan kimia pada masing-masing jenis yang diidentifikasi memiliki khasiat.
Sumber bacaan:
Anonim. 1994. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Kerjasama Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fahutan IPB dan Latin. Bogor.
Anonim. 2005. Potensi Tumbuhan Berkhasiat Obat di Taman Nasional Kutai. Balai Taman Nasional Kutai. Bontang.
Kebler, P.J.A. 2000. Pohon-Pohon Hutan Kalimantan Timur, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 2.
Kebler, P.J.A. 2000. Secondary Forest Trees of Kalimantan, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 3.
Fitofarmaka
OBAT MALARIA DARI TAMAN NASIONAL KUTAI (TNK)
Oleh : Yulita Kabangnga’
A. PENDAHULUAN
Penyakit malaria merupakan penyakit yang cukup populer di wilayah tropis. Indonesia sebagai salah satu wilayah tropis merupakan salah satu tempat penyebaran penyakit yang cukup ditakuti banyak orang khususnya bagi mereka yang banyak berkecimpung di daerah hutan ataupun sekitar hutan. Penyakit yang ditularkan melalui melalui vektor nyamuk ini ditandai dengan munculnya demam setiap 3 – 4 hari.
Penyakit malaria memang bukan penyakit penyebab kematian tingkat tinggi namun akibatnya cukup parah. Demam yang tinggi dapat mengakibatkan penderita kehilangan kesadaran dan malaria falciparum bahkan bisa berakhir dengan kematian.
Obat yang dapat mencegah dan mengobati penyakit malaria untuk saat ini adalah berbagai obat medis dan kina. Namun selain obat-obatan tersebut saat ini juga dikenal beberapa jenis obat herbal yang dipercaya dapat mengobati penyakit malaria seperti sambiloto (Andrographis paniculata Nees), bratawali (Tinospora crispa, Miers), Johar (Cassia seamea), Secang, (Caesalpinia sappan L.), bagore (Caesalpinia crista) Sesuru (Euphorbia antiquorum L.), Murbei (Morus alba L.), Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia), Pepaya (Carica papaya, Linn.), Pule Pandak (Rauvolfia serpentine [L.]), Sengugu (Clerodendron serrature [L.], Srigading (Nyctanthes arbor-tristis L.), Meniran (Phylanthus urinaria, Linn.), Anting-anting (Acalypha australis Linn.), Bunga Matahari (Helianthus annuus Linn), Jarong (Achyranthes aspera Linn.), Pulutan (Urena lobata Linn.), Pare (Momordica charantia L.), Pinang (Areca catechu L), Beringin (Ficus benyamina L.), Pulai (Alstonia scholaris), Kenanga (Canangium odoratum, (Lamk.), Asam-asam (Santiria tomentosa), Krehau gunung (Calicarpa sp), entolan (Oroxylum indicum), belimbing hutan (Cnestis palala) dan lainnya. Jenis tanaman obat yang dicetak tebal merupakan tanaman yang dapat ditemukan di TNK. Lebih lanjut mengenai spesies tersebut dapat dilihat ditulisan berikut ini :
A. IDENTIFIKASI
1. PULAI (Alstonia scholaris [L.] R. Br.) Famili :Apocynaccae ,
Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm, warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat. Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 - 50 cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 - 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan biji atau setek batang dan cabang.
Tumbuhan ini sangat mudah diperoleh karena tersebar pada hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, pada hutan dataran rendah sampai 900 m dpl, bahkan dapat dengan mudah tumbuh jika ditanam di pekarangan atau ditanam sebagai pohon hias.
Habitat dan Ekologi : Hutan primer dan Sekunder, sepanjang tebing, punggung bukit pada tanah liat dan batu gamping.
Distribusi : India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Bhutan, Pakistan, Burma, Thailand, Cambodia, China, Laos, Vietnam, Malesia, Australia, Solomon island, Borneo.
2. Kenanga, (Canangium odoratum, (Lamk.), Famili : Annonaceae
Kenanga (Canangium odoratum) adalah tumbuhan berbatang besar sampai diameter 0,1-0,7 meter dengan usia puluhan tahun. Tumbuhan kenangan mempunyai batang yang getas (mudah patah) pada waktu mudanya. Tinggi pohon ini dapat mencapai 5-20 meter. Bunga kenanga akan muncul pada batang pohon atau ranting bagian atas pohon dengan susunan bunga yang spesifik. Sebuah bunga kenanga terdiri dari 6 lembar daun dengan mahkota berwarna kuning serta dilengkapi 3 lembar daun berwarna hijau. Susunan bunga tersebut majemuk dengan garpu-garpu. Bunga kenanga beraroma harum dan khas.
Habitat dan Ekologi : hutan sekunder dan pinggiran hutan, melimpah di desa-desa dimana sering tumbuh kerdil pada daerah yang ditanami.
Distribusi : tersebar luas dari India sampai fiji dan Borneo.
3. Beringin, (Ficus benyamina L.), Famili :Moraceae
Beringin banyak ditemukan di tepi jalan, pinggiran kota atau tumbuh di tepi jurang. Pohon besar, tinggi 20 - 25 m, berakar tunggang. Batang tegak, bulat, permukaan kasar, cokelat kehitaman, percabangan simpodial, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Daun tunggal, bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3 - 6 cm, lebar 2 - 4 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota bulat, halus, kuning kehijauan. Buah buni, bulat, panjang 0,5 - 1 cm, masih muda hijau, setelah tua merah. Biji bulat, keras, putih.
4. Entolan (Oroxylm indicum (L) Kurz.), Famili : Bignoniaceae
Pohon dengan tinggi sampai 40 meter dan diameter sampai 40 cm. Kulit batang halus putih abu-abu; bagian dalam kulit batang berwarna kekuningan, lapisan kayu luar lunak berwarna keputih-putihan. Duduk daun berhadapan, bentuk daun oval dengan panjang 5 – 12 cm dan lebar daun 2.5 – 7.5 cm. Pangkal daun membulat atau berbentuk hati, pada umumnya daun tidak simetris, ujung daun runcing atau meruncing, pinggir daun rata; tulang daun sekunder 4-6 pasang. Tangkai bunga 25 – 180 cm. Panjang bunga 7-10 cm, panjang kelopak 2,5 – 4 cm, panjang mahkota 10 cm, berwarna kuning kemerah-merahan.
Habitat dan ekologi pada hutan sekunder dengan wilayah penyebaran di Borneo: (Sabah, Serawak, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan).
5. Krehau (Callicarpa havilandii), Famili : Verbenaceae
Pohon kecil dengan tinggi sampai 8 meter, diameter sampai 20 cm. kulit batang halus keabu-abuan. Tertutup rapat dengan bulu kasar dengan panjang 2 – 3 mm. Daun ellips atau obovatus, dengan panjang 7-20 cm dan lebar 2,5-7 cm. Pangkal daun membaji sampai meruncing dan ujung daun runcing. Pinggir daun bergerigi, permukaan daun berambut. Buah berdiameter 2-4 mm berwarna hijau waktu muda dan buah masak berwarna merah.
Habitat dan Ekologi : Hutan primer dan sekunder, sering dijumpai pada sepanjang sungai.
Distribusi : Endemik borneo
B. Jenis, Bagian Yang di manfaatkan dan Cara Pemanfaatan
Bagian yang dapat digunakan dan cara pemanfaatan jenis tumbuhan berkhasiat obat malaria yang ada di Taman Nasional Kutai (TNK) adalah sebagai berikut :
No Nama Daerah/Botani Bagian yang digunakan Kandungan Kimia Cara Pemanfaatan
1 Beringin (Ficus benjamina) Daun Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula, dan asam orange.
daun beringin kering sebanyak 50 - 120 g direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun beringin direbus lalu airnya digunakan untuk mandi.
2 Pulai (Alstonia scholaris) Kulit kayu Kulit kayu mengandung alkaloida ditain, ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan triterpen (alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Kulit batang pulai yang sudah dikeringkan digiling menjadi bubuk, diambil sebanyak 2 sendok makan. Rebus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus. Minum setiap hari sampai sembuh.
3 Kenanga (Canangium odoratum) Bunga minyak kenanga.
3 kuntum bunga kenanga yang sudah dikeringkan, diseduh dengan 1 gelas air panas dan ditutup rapat, disaring dan diminum secara teratur.
4 Asam –Asam (Santiria tomentosa) Daun Daun ditumbuk dan dicampur dengan jahe lalu diminum *
5 Krehau (Calicarpa sp) Daun Daun ditumbuk dan dicampur dengan jahe lalu diminum *
6 Entolan (Oroxylum indicum) Pucuk daun alkaloid, tannic acid, sitosterol and galactose. Pucuknya direbus kemudian dimakan*
Keterangan :
* Pemanfaatan tradisonal masyarakat Kutai, Kalimantan Timur.
C. Penutup.
Uraian tentang tumbuhan berkhasiat untuk obat penyakit malaria yang ada di Taman Nasional Kutai diatas belum memuat semua jenis tumbuhan obat malaria yang ada. Masih ada beberapa jenis yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kutai untuk pengobatan malaria namun belum teridentifikasi secara jelas. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi lengkap dan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis tumbuhan berkhasiat obat lainnya dan kandungan kimia pada masing-masing jenis yang diidentifikasi berkhasiat.
Sumber Bacaan
Anonim, 2005. Potensi Tumbuhan Berkhasiat obat di Taman Nasional Kutai. Balai Taman Nasional Kutai, Bontang.
Anonim, 1994. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Kerjasama Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fahutan IPB dan Latin. Bogor.
Kebler, P.J.A, 2000. Secondary Forest trees of Kalimantan, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 3.
Selasa, 08 Juni 2010
Profil Resor Teluk Pandan taman nasional kutai
Adapun Mengenai Kondisi Umum Kawasan Resor Teluk Pandan adalah sebagai berikut :
1. Letak dan Luas Resor Teluk Pandan
Resor Teluk Pandan Terletak pada N 117.22⁰ sd 117.53⁰ dan E 0.14⁰ sd 0.37⁰. Resor terluas dari SPTN I Sangatta ini mempunyai luasan sekitar 45.967,13 Ha atau sekitar ± 23% dari luas Keseluruhan TN Kutai. Didalam Resor Teluk Pandan terdapat 3 desa yaitu Desa Martadinata, Desa Teluk Pandan dan Desa Kandolo serta 1 Kecamatan yaitu Kecamatan Teluk Pandan.
Sedangkan secara Administrasi Resor Teluk Pandan terletak pada:
Sebelah Utara berbatasan dengan Resor Sangkima
Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Makasar
Sebelah Selatan berbatasan dengan Hutan Lindung Bontang
Sebelah Barat berbatasan dengan SPTN Wilayah II Menamang
2. Topografi
Secara umum resor Teluk Pandan mempunyai topografi berbukit (bergelombang sedang sampai berat) dengan ketinggian tertinggi yang sempat di ukur oleh personil resor melalui GPS adalah 136 meter dpl (data tertinggi diambil ketika berada di bukit tundung mayang)
3. Sungai
Dengan keadaan topografi yang bergelombang dan Resor Teluk Pandan merupakan Hutan Hujan Dataran Rendah maka sudah sewajarnya bahwa di Resor Teluk Pandan mempunyai banyak aliran sungai dan anak-anak sungai.
4. Sarana dan Prasarana
Sarana Prasarana yang ada diresor Teluk Pandan adalah
NO SARANA PRASARANA JUMLAH
1
2
3
4
5
6 Kantor Resor
Pos Jaga Tanjung Limau
Pos Jaga Hutan Lindung
Pos Jaga Teluk Pandan
Menara Api
Motor Patroli 1
1
4
1
1
3
5. Potensi Resor Teluk Pandan
a. Type ekosistem :
Hutan Mangrove, Hutan Rawa air Tawar, Hutan Dipterocarpaceae Campuran, Hutan Kerangas, Hutan Tergenang apabila banjir
b. Fauna
Reptilia (buaya muara Crocodylus porosus, buaya senyulong Tomistoma schlegelii dan biawak Varanus salvator),
Mamalia, memiliki 80 jenis mamalia atau setara dengan separuh mamalia di borneo. Diantaranya adalah : Orang utan, bekantan, beruk, owa-owa, banteng, rusa sambar, kijang, kancil dan beruang madu masih dijumpai personil teluk pandan melalui jejak dan juga pertemuan langsung.
Burung, terdapat 330 jenis burung atau setara dengan 80 % burung yang ada di borneo. Sedangkan burung yang sering dijumpai secara langsung adalah : Enggang papan, raja udang, tiung, pecuk ular, bangau tong-tong, ayam hutan dan murai batu, gagak dll.
c. Potensi Alam
- Danau Air Asin, merupakan sebuah keajaiban. Mengalir dari punggung bukit disela-sela bebatuan dengan kandungan garam yang tinggi sehingga rasanya sangat asin. Merupakan sebuah daerah tempat minum satwa-satwa untuk memenuhi kekurangan mineral dan garam.
- Air Terjun, merupakan sebuah potensi wisata. Di Kalimantan Timur Khususnya daerah bontang dan Sangatta keberadaan air terjun dengan tinggi 6 M merupakan sebuah Fenomena alam yang jarang di jumpai.
- Goa ( Goa Walet, Goa kelelawar)
- Minyak Mentah (daerah yang mengeluarkan minyak yang berada didalam hutan biasanya dirawa-rawa)
Sayangnya untuk potensi wisata alam di kawasan resor Teluk Pandan saat ini belum dikelola secara professional hanya sebatas obrolan dari mulut ke mulut semata. Kawasan Resor Teluk Pandan yang dahulu sempat menjadi Primadona bagi masyarakat adalah obyek wisata Teluk Kaba yang saat ini tinggal menjadi sebuah kenangan. Dahulu sekitar tahun 1990-an di Obyek wisata Teluk Kaba kita dapat dengan mudah menemui berbagai macam satwa liar seperti Orangutan, Banteng, Rusa Sambar, Lutung, Bekantan dan jenis satwa lainnya serta berbagai jenis Flora dengan sebaran Pohon Dipterocarpaceae, Meranti, Ulin yang rapat dengan ukuran Raksasa.
Tapi saat ini kondisi tersebut sudah sangat jauh berbeda, dimulai pada era reformasi tahun 1997/1998 Permasalahan yang terjadi di TN Kutai khususnya Resor Teluk Pandan semakin kompleks. Di awali dengan Kebakaran hutan yang diakibatkan oleh musim kemarau panjang dan pembukaan lahan secara besar-besaran yang kemudian berlanjut dengan tidak adanya kepastian hukum pada waktu itu sehingga banyak masyarakat baik secara berkelompok maupun perorangan melakukan perambahan, perburuan liar, penebangan kayu illegal secara sporadis di dalam kawasan membuat kondisi TN Kutai jadi semakin memprihatinkan. Teluk Kaba pun bukan lagi sebuah tempat tujuan wisata yang mengundang decak kagum para wisatawan.
Seperti yang kita rasakan pada saat melintasi jalan poros Bontang - Sangatta saat ini, bila kita lihat kanan dan kiri jalan areal yang dahulunya rimbun dengan pepohonan berubah menjadi pemukiman penduduk dan kebun-kebun masyarakat. Bahkan diperkirakan 15 KM kanan kiri jalan Bontang Sangatta sudah merupakan areal garapan masyarakat. Keanekaragaman Hayati di kawasan Teluk Pandan sudah berkurang sangat drastis yang bukan tidak mungkin untuk beberapa spesies tumbuhan dan satwa akan menuju kepunahan jika tidak ada usaha untuk melestarikannya.
Mengembalikan keeksotisan TN Kutai seperti dulu memang terasa sangat sulit akan tetapi itu bukan alasan untuk tidak berbuat, karena sekecil apapun usaha kita untuk melestarikan TN Kutai itu akan bermanfaat untuk keberlangsungan mata rantai kehidupan kita bersama. Jangan Warisi Anak Cucu Kita Dengan Dongeng Dan Bencana, Tetapi Mari Kita Wariskan Untuk Mereka Sebuah Pusaka Yang Indah.
Senin, 24 Mei 2010
Potensi pengembangan lebah madu di sekitar kawasan taman nasional kutai
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Salah satu hutan yang ada di taman nasional kutai adalah hutan pantai/ mangrove. Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Salah satu yang dikembangkan di sekitar kawasan hutan bakau adalah dengan pengembangan lebah madu. Mengingat keragaman flora mangrove yang sebagian besar mempunyai bunga yang mengandung pollen dan nektar sebagai suplai sumber pakan bagi koloni lebah. Berikut ini paparan mengenai lebah madu yang dapat dikembangkan di areal hutan bakau :
1. Anatomi Lebah Madu
Anatomi lebah madu terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu :
A. Struktur Eksternal
• Kepala (caput)
Komponen utama dari kepala adalah mata, antena dan mulut. Mata dibedakan menjadi dua yaitu mata majemuk (compound eyes) yang terletak di kedua sisi kepala dan mata sederhana (ocelli) di bagian dahi dengan letaknya membentuk segitiga. Mulut terdiri dari bagian pemotong benda keras (mandibula) dan proboscis yang berupa belalai berfungsi sebagai penghisap bahan cair seperti air, nektar dan madu. Sepasang antena yang terdapat pada kepala berfungsi sebagai alat peraba yang responsif terhadap rangsangan mekanis dan juga kimiawi.
• Dada (thorax)
Dada berstruktur keras terdiri dari empat segmen yang saling berhubungan erat, yaitu:
• P rothorax : yaitu bagian yang menopang sepasang kaki pertama
• M esothorax : yaitu bagian terbesar yang menopang sayap dan sepasang kaki tengah
• M etathorax : yaitu menopang pasangan sayap belakang dan pasangan kaki belakang
• P ropodeum : yaitu bagian terbesar internal dada diisi oleh otot-otot yang menggerakkan sayap, kaki, kepala dan perut di bawah kooordinasi sistem syaraf.
Lebah memiliki tiga pasang kaki dan masing-masing kaki terdiri dari enam segmen yang dihubungkan oleh penghubung fleksibel. Pada bagian kaki belakang lebah pekerja terdapat sebuah kantong pollen berbentuk konkaf yang berfungsi untuk mengumpulkan pollen (tepung sari bunga). Pollen akan menempel di sepasang kaki belakang lebah madu.
• Perut (abdomen)
Pada lebah ratu dan pekerja, terlihat jelas enam segmen perut dan tiga segmen lainnya mengalami degradasi dan perubahan bentuk sehingga tidak dapat dibedakan. Pada lebah jantan terlihat jelas tujuh segmen. Setiap segmen perut terdiri dari dua lembaran yaitu atas dan bawah, di mana lembaran atas (tergum) lebih besar dari lembaran bawah (sternum).
• Sengat
Sengat lebah madu mirip dengan ovipositor (penyemprot ovum), tetapi telah mengalami modifikasi sehingga cocok untuk menyemprotkan api-toxin (racun lebah). Setelah sengat ditusukkan, tangkai dan kantong toxinnya akan terpisah lepas dari tubuh dan oleh gerakan refleks cepat memompa toxin ke luka yang dibuat. Lebah pekerja yang telah berhasil menyengat korbannya biasanya segera mati.
B. Struktur Internal
• Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan makanan pada lebah madu terdiri dari: mulut, esofagus, kantong madu, proventriculus, ventriculus, usus besar, colon dan rectum.
• Sistem Penginderaan
Sistem penginderaan pada lebah madu meliputi indera penglihat, indera pencium, dan indera peraba. Indera penglihat pada lebah adalah mata majemuk yang berfungsi mendeteksi suatu obyek secara akurat; dan mata ocelli fungsinya belum diketahui secara jelas tapi diduga peka terhadap perubahan intensitas cahaya. Indera pencium terdapat pada antena lebah. Fungsinya untuk mengenali dan mempersepsikan bau secara cepat dan tajam untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Indera peraba adalah yang paling berkambang pada lebah madu. Tugas terbanyak lebah pekerja didasarkan atas tuntunan indera peraba. Indera ini bisa menguji secara tepat dan akurat setiap obyek yang disentuhnya.
• Sistem Reproduksi
Organ reproduksi yang berkembang sempurna hanya pada lebah jantan dan ratu. Seekor lebah ratu dewasa yang produktif dapat mengeluarkan telur antara 1000-2000 sel telur per hari. Karena itu ovariumnya sangat besar hampir memenuhi rongga perut. Di dalam tubuh lebah ratu terdapat juga spermateka yang berfungsi menyimpan sperma pada waktu lebah ratu kawin. Sel telur yang dibuahi akan menetas menjadi lebah ratu atau pekerja, tergantung feeding system dan telur yang tidak dibuahi akan menetas menjadi lebah jantan. Ratu lebah dapat menyimpan sperma hidup di dalam spermateka selama beberapa tahun, tiga tahun atau, dan menelurkan telur menurut keinginannya.
C. Jenis Lebah
Ada beberapa jenis lebah ( Pusat Perlebahan Pramuka, 2002.) diantaranya :
1. Apis andreniformis
Lebah ini asli Indonesia yang membangun sarangnya secara tunggal selembar yang digantungkan ditempat-tempat terbuka pada cabang-cabang pohon atau bukit batu yang terjal. Sampai saat ini belum bisa dibudidayakan.
2. Apis cerana
Merupakan lebah madu asli Asia dan telah lama dibudidayakan. Cara pemeliharaannya sebagian masih tradisional di dalam gelodok atau tempat-tempat sederhana lainnya. Sebagian sudah memelihara secara modern dalam kotak stup yang bisa dipindah-pindahkan. Lebah ini mempunyai daya adaptasi yang tinggi, namun sangat agresif.
3. Apis dorsata
Berkembang hanya di kawasan sub tropis dan tropis Asia dan dikenal sebagai madu hutan. Di Indonesia banyak terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Mempunyai sifat yang agresif dan ganas, sehingga sampai saat ini belum bisa dibudidayakan.
4. Apis florea
Lebah jenis ini memiliki ukuran tubuh yang paling kecil diantara species lebah madu lainnya. Bisa berasosiasi dengan Apis cerana , Apis dorsata , Apis mellifera .
5. Apis konchevnikovi
Merupakan species yang baru dikenal oleh beberapa ilmuwan. Terdapat warna merah disebagian besar tubuhnya, dengan ukuran lebih besar dari A. cerana. Bisa di temukan di Kalimantan dan Sumatera bagian barat.
6. Apis laboriosa
Hanya terdapat di pegunungan Himalaya, pada ketinggian > 1200 m diatas permukaan laut (m dpl). Informasi masih sangat terbatas.
7. Apis mellifera
Hampir semua budidaya lebah madu memilih jenis ini, termasuk di Indonesia. Keunggulan dari lebah ini adalah: jinak, adaptable, tidak mudah kabur, relatif mudah perawatannya, dan produktif. Tetapi ada satu kelemahannya, lebah ini peka terhadap penyakit, terutama terhadap parasit tungau Varroa. Dengan keunggulannya maka lebah ini berpotensi untuk di budidayakan pada ekosistem mangrove.
D. Pengenalan Koloni Lebah
Dalam 1 (satu) koloni lebah hanya terdapat 1 (satu) ekor ratu (queen), puluhan sampai ratusan lebah jantan (drones), belasan ribu sampai puluhan ribu lebah pekerja (worker-bees), ditambah anggota lainnya seperti telur, larva dan pupa.
Koloni lebah madu merupakan satu kumpulan lebah yang terorganisasi sangat baik dengan pembagian peran sebagai berikut :
Ratu (queen), mempunyai tugas sebagai penghasil telur. Ukuran tubuh 2 (dua) kali lebih panjang dan 2,8 kali bobot lebah pekerja. Mampu bertelur 1000-2000 telur per hari sampai umur 3-5 tahun.
Jantan (drones), satu-satunya fungsi lebah jantan selama hidupnya adalah mengawini ratu perawan (virgin queen). Mata dan sayapnya lebih besar dari kedua strata lebah lainnya.
Lebah pekerja (worker-bees), adalah lebah betina yang organ reproduksinya tidak berkembang sempurna. Tetapi lebah pekerja mempunyai organ-organ tubuh yang memungkinkannya mampu melakukan berbagai tugas dalam koloni.
E. Pengelolaan Koloni
Tujuan utama dari pengelolaan koloni adalah menjaga koloni lebah agar tetap hidup, berkembang biak dan sehat serta menjamin produk-produk perlebahan antara lain madu, royal jelly dan pollen dapat terus dihasilkan tanpa mengganggu perkembangan koloni tersebut.
Untuk menjaga agar koloni lebah tetap survive ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :
• Menempatkan koloni lebah pada lokasi sesuai yang dikehendaki dengan memperhatikan ketersediaan pangan, ketinggian tempat, tingkat polusi udara dan suara, bukan daerah pertanian yang menggunakan pestisida secara intensif.
• Mempersatukan koloni kecil dan lemah dengan maksud mempertahankan keberadaan koloni.
• Pengembangan koloni.
• Pengendalian hama dan penyakit.
• Pemeriksaan koloni dilakukan secara teratur (2-3 kali seminggu).
F. Sumber Pakan Lebah
Sumber pakan lebah madu adalah tanaman yang meliputi: tanaman buah-buahan, tanaman sayur-sayuran, tanaman hias, tanaman pangan dan perkebunan , tanaman kehutanan, termasuk flora mangrove. Syaratnya adalah bunga dari tanaman tersebut mengandung nektar dan tepungsari bunga (pollen) .
Nektar
Nektar adalah zat manis yang berasal dari tanaman, mengandung 15-50% larutan gula. Nektar berfungsi sebagai sumber energi untuk mempertahankan suhu tubuh koloni lebah dan juga merupakan bahan baku pembuatan madu. Pada tanaman, nektar dihasilkan pada bagian: dalam atau dekat bunga disebut nektar floral; dan nektar yang dihasilkan pada bagian lain tumbuhan disebut nektar ekstrafloral.
Pollen
Pollen dimakan oleh lebah madu sebagai sumber protein dan lemak, dan sedikit karbohidrat dan mineral. Diperoleh dari bunga berupa tepungsari (sel kelamin jantan tumbuhan). Pollen diletakkan di 2/3 kapasitas sel, kemudian dilapisi dengan madu untuk mencegah pembusukan.
G. Kemampuan Mencari Pakan
Kemampuan terbang lebah madu mencari makan sejauh 1-2 km. Selama 1 hari mampu mengumpulkan kurang lebih 40mg dari berbagai bunga dalam beberapa kali penerbangan. Banyaknya nektar yang ditimbun sebagai madu dalam sarang dipengaruhi oleh:
• Ukuran dan komposisi populasi dalam koloni, terutama kehadiran dan kualitas ratu;
• Sifat menimbun lebah pekerja ada hubungannya dengan faktor genetis
• Keadaan cuaca: temperatur, kelembaban, kecepatan angin dan fotoperiode
• Kapasitas ruang penyimpanan yg tersedia pada sisiran sarang.
H. Peralatan Budidaya Lebah Madu
Peralatan utama dalam beternak lebah madu adalah rumah lebah madu berupa kotak dari papan kayu (sengon atau randu) yang disebut stup. Satu stup berisi 6-7 sisiran sebagai satu koloni dengan 1 lebah ratu.
Peralatan pelengkap: 1). Fondasi sarang, digunakan untuk mempercepat pembangunan sarang; 2). Penyekat ratu digunakan untuk menahan gerak atau menghalangi ratu supaya tidak naik ke kotak super; 3). Kurungan ratu digunakan untuk mengamankan ratu atau mengenalkan ratu sementara waktu pada koloni yang membutuhkan ratu baru; 4). Mangkokan ratu digunakan untuk membuat calon-calon ratu baru; 5). Bingkai stimulasi (feeder frame) digunakan untuk wadah pakan tambahan (stimulasi gula-sirop ).
Perlengkapan petugas: 1). Pengasap untuk menjinakkan lebah; 2). Penutup muka; 3) Pengungkit; 4).Sarung lebah; 5). Sikat lebah digunakan pada waktu panen madu untuk menghalau lebah dari sisiran sarang.
Peralatan lain: 1) ekstraktor digunakan untuk mengeluarkan madu tanpa merusak sarang; 2) Bejana penampung madu; 3)Alat penyaring; 4) mangkokan royal jelly untuk memproduksi royal jelly atau mengembangbiakkan lebah ratu; 5).Alat pengambil larva; 6). Alat pengambil royal jelly; 7). Pinset/supit; 8) Alat penyaring royal jelly.
I. Potensi Flora Mangrove
Sebagian besar flora mangrove memiliki bunga yang mengandung nektar dan pollen yang dibutuhkan oleh lebah sebagai sumber pakannya. Beberapa jenis flora mangrove yang mengandung nectar dan pollen :
Mangrove Sejati, Acanthus ebracteatus, Acanthus licifolius, Aegialitis annulata, Aegiceras corniculatum, Aegiceras floridum, Amyema gravis, Avicenia alba , Avicenia lanata, Avicenia marina, Avicenia officinalis, Bruguiera cylindrical, Bruguiera exaristata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Bruguiera sexangula, Camptostemon schultzii, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Excoecaria agallocha, Gymnanthera paludosa, Heritiera littoralis, Kandelia candel, Lumnitzera littorea, Lumnitzera racemosa, Nypa fruticans, Osbornia octodonta, Phemphis acidula, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sarcolobus globosa, Scyphiphora hidrophyllacea, Sonnertia alba, Sonneratia caseolaris, Sonneratia ovate, Xylocarpus granatum, Xylocarpus mekongensis, Xylocarpus moluccensis, Xylocarpus rumphiis, Mangrove Ikutan, Calophyllum inophyllum, Cerbera manghas, Clerodendrum inerme, Derris trifoliate, Hibiscus tiliaceus, Pandanus odoratissima, Pandanus tectorius, Passiflora foetida, Sesuvium portulacastrum, Terminalia cattappa.
J. Antisipasi Masa Paceklik
Masa paceklik adalah masa dimana tanaman pakan lebah tidak sedang berbunga, atau tidak tersedia sumber pakan di lapangan dalam jumlah yang cukup sehingga koloni lebah kekurangan pakan. Untuk mengatasi masa paceklik, maka dapat dilakukan dengan memindahkan koloni-koloni atau mengangon ke lokasi baru dengan ketersediaan pollen dan nektar yang cukup banyak. Bisa juga dilakukan dengan penanaman / penyediaan bunga (bunga matahari atau jenis lain) disekitar lokasi budidaya. Cara terakhir apabila tidak melakukan migratory adalah pemberian stimulan berupa cairan gula pasir (1 liter air : 1 kg gula pasir ). Dengan cara demikian maka kelangsungan koloni lebah dapat terjaga.
K. Hama dan Cara Penanganan
Hama yang bisa menyerang keberadaan lebah madu antara lain:
• Tabuhan / tawon
Masih termasuk keluarga lebah tetapi pemangsa lebah madu. Pengendaliannya dengan membuat perangkap atau membakar sarang tawon ini.
• Semut
Pada serangan ringan, lebah madu tidak begitu terganggu tetapi pada seranga yang berat lebah akan hijrah. Cara menanggulanginya biasanya dengan mengoleskan oli pada kaki bangku standar stup. Secara kimiawi dilakukan dengan insektisida, dengan catatan tidak mengenai lebah dan tidak pada waktu masa produksi madu.
• Ngengat lilin
Biasanya merusak sarang lebah. Cara mengatasinya dengan: 1). Menangkap dan mematikan larva dan telur; 2). Mengecilkan pintu masuk stup; 3). Memasukkan sarang terserang pada koloni yang kuat; 4). Sanitasi lingkungan (membakar sarang rusak dan tak terpakai)
• Tungau
Tungau endoparasit adalah jenis yang hidup di saluran pernafasan lebah dan menyebabkan kematian serta serangan awalnya sulit dikenali. Tungau jenis Ektoparasit ada 2 jenis: varroa jacob dan tropilaelaps clareae. Kedua jenis tungau ini menempel di tubuh lebah yang dapat menyebabkan kematian. Pengendaliannya secara kimiawi tanpa mengganggu lebah dan tanpa pencemaran madu adalah menggunakan belerang dan kapur barus yang ditaburkan di atas karton. Kemudian disisipkan di bawah sisiran sarang pada malam hari selama 3-4 kali. Dengan cara budidaya, adalah dengan mengembangkan koloni agar lebah bisa melakukan perlawanan terhadap tungau.
L. Produk Perlebahan
Beberapa produk yang bisa diperoleh dari hasil budidaya lebah madu adalah :
• Madu
Faktor yang mempengaruhi produksi madu adalah:
ketersediaan pakan lebah penghasil nektar dan pollen
cuaca, kelembaban dan temperatur udara
proporsi koloni lebah yang tertinggi pada saat produksi nektar paling banyak
Pollen
Pollen adalah tepung sari bunga yang dikumpulkan dan dibawa lebah di kedua kaki belakangnya. Pollen bisa dikumpulkan dengan cara memasang pollen trap di pintu masuk stup. Pollen perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan di freezer (tempat terbaik untuk penyimpanan pollen). Pollen memiliki berbagai manfaat dan nilai jual. Bisa juga pollrn diberikan ke lebah pada saat paceklik pakan.
• Royal Jelly
Royal jelly sebenarnya adalah pakan khusus/utama untuk larva lebah ratu. Produksi royal jelly adalah dengan menggunakan mangkokan ratu yang diisi dengan larva umur 1-2 hari (grafting) dan dipasangkan pada bingkai frame yang selanjutnya dimasukkan kedalam koloni. Pemanenan royal jelly dilakukan setelah 3-4 hari dari mulai grafting dengan cara mengeruk royal jelly dari queen cell. Penyimpanan terbaik di freezer. Royal jelly memiliki nilai jual tinggi dan banyak manfaat yang cukup banyak.
• Malam ( Lilin lebah, Wax)
Penggunaan malam tidak terbatas pada bidang industri lilin saja, tetapi dapat digunakan untuk industri antara lain kosmetik dan tehnik.
• Propolis
Propolis adalah bahan rekat atau dempul bersifat resin yang dikumpulkan oleh lebah pekerja dari kuncup, kulit, atau bagian lain dari tumbuhan. Dalam sarang digunakan untuk menutup celah, retakan, memperkecil lubang pintu masuk. Kandungan kimia dalam propoplis antara lain: zat aromatik, zat wangi, zat antibiotik, mineral. Dimanfaatkan sebagai obat, tapal gigi, luka usus, dll.
• Apitoxin (bee venom)
Apitoxin adalah racun atau bisa lebah yang dihasilkan lebah madu (Apis mellifera, Apis cerana, Apis dorsata) dari jenis lebah pekerja. Apitoxin mengandung senyawa kimia antara lain: triptofan, kolin, gliserin, asam fosfat, asalm falmitat, asam lemak, apramin, peptida, enzim, hystamin dan mellitin. Kandungan tertinggi adalah protein 20% (Apis mellifera). Protein yang terutama adalah mellitin. Senyawa yang ada tergolong mirip dengan senyawa yang diproduksi oleh tubuh manusia, kecuali mellitin yang dihasilkan khusus oleh lebah yang memiliki aktivitas anti bakteri yang kuat dan tahan terhadap penisilin serta anti reumatik. Manfaat sengatan lebah untuk penyembuhan beberapa penyakit antara lain: reumatik, sakit kepala, salah urat, tekanan darah tinggi/rendah,dll. Kontra indikasinya adalah penyakit jantung dan TBC.
Berbagai macam produk yang dihasilkan dari budidaya lebah madu merupakan suatu potensi yang sangat baik untuk dikembangkan dan bisa dijadikan salah satu alternatif pendapatan untuk masyarakat. Terutama masyarakat yang bertempat tinggal disekitar wilayah hutan magrove yang memiliki potensi berupa kelimpahan jenis dengan bunga yang banyak mengandung nektar dan pollen sebagai pakan lebah serta musim berbunga dari beberapa jenis yang terdapat sepanjang tahun.
Diharapkan kedepan bahwa budidaya lebah madu pada ekosistem mangrove sebagai salah satu alternatif mata pencaharian masyarakat sekitar hutan mangrove. Dengan demikian selogan “Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera” bisa terwujud.
Tanaman obat dari hutan (pulai)
Di Indonesia tumbuh tumbuhan yang berkhasiat obat tersebut masih sangat sedikit yang dikembangkan dalam skala industry. Jenis tumbuhan yang banyak dan bervariasi sebenarnya memberi peluang yang lebih besar bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, masyarakat, dan farmasi untuk mengembangkan berbagai tumbuhan hutan sebagai obat di masa yang akan dating.
Salah satu tanaman obat yang terdapat di taman nasional kuati adalah tanaman pulai (alstonis scholar), berikut hal hal yang berkaitan dengan tanaman pulai:
Nama Umum : Pulai (alstonia scholaris)
Nama Lokal :
Lame (Sunda), pule (Jawa), polay (Madura). kayu gabus,; pulai (Sumatera).hanjalutung (Kalimantan).kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow, wariangow, mariangan, deadeangow,; kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian),; hange (Ternate). devil’s tree, ditta bark tree (Inggris).; Chatian, saitan-ka-jhad, saptaparna (India, Pakistan).; Co tin pat, phayasattaban (Thailand).;
Deskripsi Tumbuhan
Tumbuhan Pulai tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl.
Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 – 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 – 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 – 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 – 23 cm, lebar 3 – 7,5 cm, warna hijau.
Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat. Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 – 50 cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 – 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan biji atau setek batang dan cabang.
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Kulit kayu rasanya pahit, tidak berbau.
KANDUNGAN KIMIA :
Kulit kayu mengandung alkaloida ditain, ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan triterpen (alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai mengandung asam ursolat dan lupeol. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : 1. Zat aktif triterpenoid dari kulit kayu pulai dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci 2. Ekstrak air kulit kayu pulai secara in vivo dapat menekan daya infeksi telur cacing gelang babi (Ascaris suum) pada dosis 130 mg/ml dan secara invitro menekan perkembang telur berembrio menjadi larva an pada dosis 65 mg/ml 3. Pemberian infus 10% kulit kayu pulai dengan dosis 0,7; 1,5 dan 39/kg bb kelinci mempunyai efek hipoglikernik
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Demam, malaria, limfa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia, ; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul,; Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), ; Beri-beri, masa nifas, payudara bengkak karena ASI.;
BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Kulit kayu dan daun. Kulit kayu dikeringkan dengan cara di jemur atau pemanasan.
INDIKASI :
Kulit kayu dapat mengatasi : demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, kencing manis (diabetes mellitus), tekanan darah tinggi (hipertensi),wasir, anemia, gangguan haid, dan rematik akut.
Daun dapat digunakan untuk mengatasi: borok (ulcer), bisul, perempuan setelah melahirkan (masa nifas), beri-beri, dan payudara bengkak karena bendungan ASI.
CARA PEMAKAIAN :
Kulit kayu sebanyak 1-3 g direbus, lalu minum. Untuk pemakaian luar, getahnya diteteskan untuk mematangkan bisul, tertusuk duri dan radang kulit. Air rebusan kulit batang pulai digunakan untuk mencuci luka, radang kulit bernanah, borok atau sebagai obat kumur pada sakit gigi.
Sabtu, 22 Mei 2010
Taman Nasional Kutai
Letak, topografi dan penutupan lahan
TN Kutai membentang di sepanjang garis khatulistiwa mulai dari pantai Selat Makassar sebagai batas bagian timur menuju arah daratan sepanjang kurang dari 65 km. Kawasan ini juga dibatasi Sungai Sangatta di sebelah utara, sebelah selatan dibatasi Hutan Lindung Bontang dan HTI PT Surya Hutani Jaya, dan sebelah barat dibatasi ex HTI PT Kiani Lestari dan HTI PT Surya Hutani Jaya
TN Kutai secara geografis berada di 0o7’54” - 0o33’53” LU dan 116o58’48” - 117o35’29” BT, sedangkan secara administrasi pemerintahan, kawasan dengan luas 198.629 ha ini terletak di Kabupaten Kutai Timur (± 80%), Kabupaten Kutai Kartanegara ( ±17,48%) dan Kota Bontang (±2,52%)
Berdasarkan hasil pengolahan citra radar tahun 2005, diperoleh informasi bahwa secara umum TN Kutai memiliki topografi datar yang tersebar hampir di seluruh luasan kawasan (92%) dan topografi bergelombang hingga berbukit-bukit tersebar pada bagian tengah kawasan yang membentang arah utara selatan (8%). Sebagian besar kawasan memiliki kelas ketinggian antara 0 – 100 m dpl (61%) yang tersebar pada bagian timur dan barat kawasan. Tingkat ketinggian bagian tengah kawasan antara 100 – 250 m dpl (39%).
Deskripsi penutupan lahan paling mutakhir dihasilkan dari interpretasi citra landsat yang dilakukan pada bulan September 2005. Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat ini, luas kawasan TN Kutai bertambah menjadi 198.803,59 ha
Geologi dan Tanah
Berdasarkan peta geologi Kalimantan Timur, formasi geologi kawasan ini sebagian besar meliputi tiga bagian, yaitu:
1. Bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang.
2. Bagian tengah terdiri dari batuan miosen atas.
3. Bagian barat terdiri dari batuan sedimen bawah.
klim dan Hidrologi
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TN Kutai beriklim tipe B dengan nilai Q berkisar antara 14,3 % - 33, 3 %. urah hujan rata-rata setahun 1543,6 mm atau rata-rata 128,6 m dengan rata-rata hari hujan setahun 66,4 hari atau rata-rata bulanan 5,5 hari. Suhu rata-rata adalah 26oC (berkisar antara 21-34 derajat Celcius) dengan kelembaban relatif 67% - 9% dan kecepatan angin normal rata-rata 2 – 4 knot/jam (Site Plan Kepariwisataan TN Kutai, 1995). Sungai-sungai yang mengalir di dalam dan sekitar TN Kutai antara lain: Sungai Sangatta, Sungai Banu Muda, Sungai Sesayap, Sungai Sangkima, Sungai Kandolo, Sungai Selimpus, Sungai Teluk Pandan, Sungai Palakan, Sungai Menamang Kanan, Sungai Menamang Kiri, Sungai Tawan, Sungai Melawan dan Sungai Santan
Ekosistem
Tipe-tipe ekosistem yang terdapat di TN Kutai antara lain (BTNK, 2001):
* Hutan Dipterocarpaceae campuran, sebagian besar terdapat di bagian timur kawasan. Pada kawasan bekas kebakaran telah muncul Macaranga dan perdu.
* Hutan Ulin-Meranti-Kapur, terdapat di bagian barat TN Kutai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang dan mencakup hampir 50% dari luas TN Kutai.
* Vegetasi hutan mangrove dan tumbuhan pantai, terdapat di sepanjang pantai Selat Makassar.
* Vegetasi hutan rawa air tawar, tersebar pada daerah kantong-kantong sepanjang sungai dan mengandung endapan lumpur yang dibawa banjir.
* Vegetasi hutan kerangas, terdapat di sebelah barat Teluk Kaba.
* Vegetasi hutan tergenang apabila banjir, terdapat pada daerah di sepanjang sungai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang.
TAMAN NASIONAL KUTAI
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Berikut paparan meneganai fungsi dan manfaat dari hutan bakau :
Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut:
Inilah Fungsi Hutan Bakau
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
fungsinya sebagai berikut :
1. Habitat satwa langka
Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus)
2. Pelindung terhadap bencana alam
Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.
3. Pengendapan lumpur
Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.
4. Penambah unsur hara
Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.
5. Penambat racun
Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif.
6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)
Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.
7. Transportasi
Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan
8. Sumber plasma nutfah
Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.
9. Rekreasi dan pariwisata
H utan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya..
10. Sarana pendidikan dan penelitian
Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
11. Memelihara proses-proses dan sistem alami
Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.
12. Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.
13. Memelihara iklim mikro
Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.
14. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam
Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.
Senin, 06 Juli 2009
Taman Nasional Kutai
Taman Nasional Kutai memiliki berbagai tipe vegetasi utama yaitu vegetasi hutan pantai/mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hutan Dipterocarpaceae campuran. Taman nasional ini merupakan perwakilan hutan ulin yang paling luas di Indonesia.
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Disamping memiliki potensi keanekaragaman tumbuhan, taman nasional ini juga memiliki potensi keanekaragaman satwa yang tinggi, yaitu dari kelompok primata seperti orangutan (Pongo satyrus), owa kalimantan (Hylobates muelleri), bekantan (Nasalis larvatus), kera ekor panjang (Macaca fascicularis fascicularis), beruk (M. nemestrina nemestrina), dan kukang (Nyticebus coucang borneanus). Kelompok ini dapat dijumpai di Teluk Kaba, Prevab-Mentoko dan Sangkimah. Kelompok ungulata seperti banteng (Bos javanicus lowi), rusa sambar (Cervus unicolor brookei), kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus), dan kancil (Tragulus javanicus klossi). Kelompok ini dapat dijumpai di seluruh kawasan Taman Nasional Kutai. Kelompok carnivora seperti beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus) bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), pergam raja/hijau (Ducula aenea), ayam hutan (Gallus sp.), beo/tiong emas (Gracula religiosa), dan pecuk ular asia (Anhinga melanogaster melanogaster).
Taman nasional ini merupakan lokasi taman nasional ketiga sebagai pusat rehabilitasi orangutan yang berlokasi di Teluk Kaba.
Taman Nasional Kutai menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan seperti PT. Kaltim Prima Coal, PT. Pupuk Kaltim, PT. Badak LNG, dan Pertamina (Mitra Kutai). Mitra Kutai memberikan bantuan pendanaan dan pelaksanaan pelestarian taman nasional tersebut.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Teluk Kaba dan Muara Sangkimah. Wisata bahari dan pengamatan satwa seperti orangutan, bekantan, rusa sambar, kancil, beruang madu dan burung.
Teluk Lombok dan Muara Sungai Sangata. Wisata bahari dan pengamatan hutan bakau yang masih utuh.
Prevab Mentoko. Penelitian dan pengamatan satwa seperti beruang madu, orangutan, kancil, rusa sambar, dan babi hutan.
Goa Lobang Angin. Wisata goa.
Atraksi budaya di luar taman nasional:
Festival Erau pada bulan September di Tenggarong.
Musim kunjungan terbaik: bulan April s/d Oktober setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi :
Cara pencapaian lokasi: Balikpapan - Samarinda sekitar 2,5 jam dengan kendaraan darat roda empat, kemudian dilanjutkan ke Bontang sekitar tiga jam. Bontang-Teluk Kaba dengan menggunakan speed boat sekitar 30 menit. Selain itu antara Bontang-Sanggata terdapat jalan raya membelah taman nasional.