Taman Nasional Kutai memiliki berbagai tipe vegetasi utama yaitu vegetasi hutan pantai/mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hutan Dipterocarpaceae campuran. Taman nasional ini merupakan perwakilan hutan ulin yang paling luas di Indonesia.
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Salah satu hutan yang ada di taman nasional kutai adalah hutan pantai/ mangrove. Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Salah satu yang dikembangkan di sekitar kawasan hutan bakau adalah dengan pengembangan lebah madu. Mengingat keragaman flora mangrove yang sebagian besar mempunyai bunga yang mengandung pollen dan nektar sebagai suplai sumber pakan bagi koloni lebah. Berikut ini paparan mengenai lebah madu yang dapat dikembangkan di areal hutan bakau :
1. Anatomi Lebah Madu
Anatomi lebah madu terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu :
A. Struktur Eksternal
• Kepala (caput)
Komponen utama dari kepala adalah mata, antena dan mulut. Mata dibedakan menjadi dua yaitu mata majemuk (compound eyes) yang terletak di kedua sisi kepala dan mata sederhana (ocelli) di bagian dahi dengan letaknya membentuk segitiga. Mulut terdiri dari bagian pemotong benda keras (mandibula) dan proboscis yang berupa belalai berfungsi sebagai penghisap bahan cair seperti air, nektar dan madu. Sepasang antena yang terdapat pada kepala berfungsi sebagai alat peraba yang responsif terhadap rangsangan mekanis dan juga kimiawi.
• Dada (thorax)
Dada berstruktur keras terdiri dari empat segmen yang saling berhubungan erat, yaitu:
• P rothorax : yaitu bagian yang menopang sepasang kaki pertama
• M esothorax : yaitu bagian terbesar yang menopang sayap dan sepasang kaki tengah
• M etathorax : yaitu menopang pasangan sayap belakang dan pasangan kaki belakang
• P ropodeum : yaitu bagian terbesar internal dada diisi oleh otot-otot yang menggerakkan sayap, kaki, kepala dan perut di bawah kooordinasi sistem syaraf.
Lebah memiliki tiga pasang kaki dan masing-masing kaki terdiri dari enam segmen yang dihubungkan oleh penghubung fleksibel. Pada bagian kaki belakang lebah pekerja terdapat sebuah kantong pollen berbentuk konkaf yang berfungsi untuk mengumpulkan pollen (tepung sari bunga). Pollen akan menempel di sepasang kaki belakang lebah madu.
• Perut (abdomen)
Pada lebah ratu dan pekerja, terlihat jelas enam segmen perut dan tiga segmen lainnya mengalami degradasi dan perubahan bentuk sehingga tidak dapat dibedakan. Pada lebah jantan terlihat jelas tujuh segmen. Setiap segmen perut terdiri dari dua lembaran yaitu atas dan bawah, di mana lembaran atas (tergum) lebih besar dari lembaran bawah (sternum).
• Sengat
Sengat lebah madu mirip dengan ovipositor (penyemprot ovum), tetapi telah mengalami modifikasi sehingga cocok untuk menyemprotkan api-toxin (racun lebah). Setelah sengat ditusukkan, tangkai dan kantong toxinnya akan terpisah lepas dari tubuh dan oleh gerakan refleks cepat memompa toxin ke luka yang dibuat. Lebah pekerja yang telah berhasil menyengat korbannya biasanya segera mati.
B. Struktur Internal
• Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan makanan pada lebah madu terdiri dari: mulut, esofagus, kantong madu, proventriculus, ventriculus, usus besar, colon dan rectum.
• Sistem Penginderaan
Sistem penginderaan pada lebah madu meliputi indera penglihat, indera pencium, dan indera peraba. Indera penglihat pada lebah adalah mata majemuk yang berfungsi mendeteksi suatu obyek secara akurat; dan mata ocelli fungsinya belum diketahui secara jelas tapi diduga peka terhadap perubahan intensitas cahaya. Indera pencium terdapat pada antena lebah. Fungsinya untuk mengenali dan mempersepsikan bau secara cepat dan tajam untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Indera peraba adalah yang paling berkambang pada lebah madu. Tugas terbanyak lebah pekerja didasarkan atas tuntunan indera peraba. Indera ini bisa menguji secara tepat dan akurat setiap obyek yang disentuhnya.
• Sistem Reproduksi
Organ reproduksi yang berkembang sempurna hanya pada lebah jantan dan ratu. Seekor lebah ratu dewasa yang produktif dapat mengeluarkan telur antara 1000-2000 sel telur per hari. Karena itu ovariumnya sangat besar hampir memenuhi rongga perut. Di dalam tubuh lebah ratu terdapat juga spermateka yang berfungsi menyimpan sperma pada waktu lebah ratu kawin. Sel telur yang dibuahi akan menetas menjadi lebah ratu atau pekerja, tergantung feeding system dan telur yang tidak dibuahi akan menetas menjadi lebah jantan. Ratu lebah dapat menyimpan sperma hidup di dalam spermateka selama beberapa tahun, tiga tahun atau, dan menelurkan telur menurut keinginannya.
C. Jenis Lebah
Ada beberapa jenis lebah ( Pusat Perlebahan Pramuka, 2002.) diantaranya :
1. Apis andreniformis
Lebah ini asli Indonesia yang membangun sarangnya secara tunggal selembar yang digantungkan ditempat-tempat terbuka pada cabang-cabang pohon atau bukit batu yang terjal. Sampai saat ini belum bisa dibudidayakan.
2. Apis cerana
Merupakan lebah madu asli Asia dan telah lama dibudidayakan. Cara pemeliharaannya sebagian masih tradisional di dalam gelodok atau tempat-tempat sederhana lainnya. Sebagian sudah memelihara secara modern dalam kotak stup yang bisa dipindah-pindahkan. Lebah ini mempunyai daya adaptasi yang tinggi, namun sangat agresif.
3. Apis dorsata
Berkembang hanya di kawasan sub tropis dan tropis Asia dan dikenal sebagai madu hutan. Di Indonesia banyak terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Mempunyai sifat yang agresif dan ganas, sehingga sampai saat ini belum bisa dibudidayakan.
4. Apis florea
Lebah jenis ini memiliki ukuran tubuh yang paling kecil diantara species lebah madu lainnya. Bisa berasosiasi dengan Apis cerana , Apis dorsata , Apis mellifera .
5. Apis konchevnikovi
Merupakan species yang baru dikenal oleh beberapa ilmuwan. Terdapat warna merah disebagian besar tubuhnya, dengan ukuran lebih besar dari A. cerana. Bisa di temukan di Kalimantan dan Sumatera bagian barat.
6. Apis laboriosa
Hanya terdapat di pegunungan Himalaya, pada ketinggian > 1200 m diatas permukaan laut (m dpl). Informasi masih sangat terbatas.
7. Apis mellifera
Hampir semua budidaya lebah madu memilih jenis ini, termasuk di Indonesia. Keunggulan dari lebah ini adalah: jinak, adaptable, tidak mudah kabur, relatif mudah perawatannya, dan produktif. Tetapi ada satu kelemahannya, lebah ini peka terhadap penyakit, terutama terhadap parasit tungau Varroa. Dengan keunggulannya maka lebah ini berpotensi untuk di budidayakan pada ekosistem mangrove.
D. Pengenalan Koloni Lebah
Dalam 1 (satu) koloni lebah hanya terdapat 1 (satu) ekor ratu (queen), puluhan sampai ratusan lebah jantan (drones), belasan ribu sampai puluhan ribu lebah pekerja (worker-bees), ditambah anggota lainnya seperti telur, larva dan pupa.
Koloni lebah madu merupakan satu kumpulan lebah yang terorganisasi sangat baik dengan pembagian peran sebagai berikut :
Ratu (queen), mempunyai tugas sebagai penghasil telur. Ukuran tubuh 2 (dua) kali lebih panjang dan 2,8 kali bobot lebah pekerja. Mampu bertelur 1000-2000 telur per hari sampai umur 3-5 tahun.
Jantan (drones), satu-satunya fungsi lebah jantan selama hidupnya adalah mengawini ratu perawan (virgin queen). Mata dan sayapnya lebih besar dari kedua strata lebah lainnya.
Lebah pekerja (worker-bees), adalah lebah betina yang organ reproduksinya tidak berkembang sempurna. Tetapi lebah pekerja mempunyai organ-organ tubuh yang memungkinkannya mampu melakukan berbagai tugas dalam koloni.
E. Pengelolaan Koloni
Tujuan utama dari pengelolaan koloni adalah menjaga koloni lebah agar tetap hidup, berkembang biak dan sehat serta menjamin produk-produk perlebahan antara lain madu, royal jelly dan pollen dapat terus dihasilkan tanpa mengganggu perkembangan koloni tersebut.
Untuk menjaga agar koloni lebah tetap survive ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :
• Menempatkan koloni lebah pada lokasi sesuai yang dikehendaki dengan memperhatikan ketersediaan pangan, ketinggian tempat, tingkat polusi udara dan suara, bukan daerah pertanian yang menggunakan pestisida secara intensif.
• Mempersatukan koloni kecil dan lemah dengan maksud mempertahankan keberadaan koloni.
• Pengembangan koloni.
• Pengendalian hama dan penyakit.
• Pemeriksaan koloni dilakukan secara teratur (2-3 kali seminggu).
F. Sumber Pakan Lebah
Sumber pakan lebah madu adalah tanaman yang meliputi: tanaman buah-buahan, tanaman sayur-sayuran, tanaman hias, tanaman pangan dan perkebunan , tanaman kehutanan, termasuk flora mangrove. Syaratnya adalah bunga dari tanaman tersebut mengandung nektar dan tepungsari bunga (pollen) .
Nektar
Nektar adalah zat manis yang berasal dari tanaman, mengandung 15-50% larutan gula. Nektar berfungsi sebagai sumber energi untuk mempertahankan suhu tubuh koloni lebah dan juga merupakan bahan baku pembuatan madu. Pada tanaman, nektar dihasilkan pada bagian: dalam atau dekat bunga disebut nektar floral; dan nektar yang dihasilkan pada bagian lain tumbuhan disebut nektar ekstrafloral.
Pollen
Pollen dimakan oleh lebah madu sebagai sumber protein dan lemak, dan sedikit karbohidrat dan mineral. Diperoleh dari bunga berupa tepungsari (sel kelamin jantan tumbuhan). Pollen diletakkan di 2/3 kapasitas sel, kemudian dilapisi dengan madu untuk mencegah pembusukan.
G. Kemampuan Mencari Pakan
Kemampuan terbang lebah madu mencari makan sejauh 1-2 km. Selama 1 hari mampu mengumpulkan kurang lebih 40mg dari berbagai bunga dalam beberapa kali penerbangan. Banyaknya nektar yang ditimbun sebagai madu dalam sarang dipengaruhi oleh:
• Ukuran dan komposisi populasi dalam koloni, terutama kehadiran dan kualitas ratu;
• Sifat menimbun lebah pekerja ada hubungannya dengan faktor genetis
• Keadaan cuaca: temperatur, kelembaban, kecepatan angin dan fotoperiode
• Kapasitas ruang penyimpanan yg tersedia pada sisiran sarang.
H. Peralatan Budidaya Lebah Madu
Peralatan utama dalam beternak lebah madu adalah rumah lebah madu berupa kotak dari papan kayu (sengon atau randu) yang disebut stup. Satu stup berisi 6-7 sisiran sebagai satu koloni dengan 1 lebah ratu.
Peralatan pelengkap: 1). Fondasi sarang, digunakan untuk mempercepat pembangunan sarang; 2). Penyekat ratu digunakan untuk menahan gerak atau menghalangi ratu supaya tidak naik ke kotak super; 3). Kurungan ratu digunakan untuk mengamankan ratu atau mengenalkan ratu sementara waktu pada koloni yang membutuhkan ratu baru; 4). Mangkokan ratu digunakan untuk membuat calon-calon ratu baru; 5). Bingkai stimulasi (feeder frame) digunakan untuk wadah pakan tambahan (stimulasi gula-sirop ).
Perlengkapan petugas: 1). Pengasap untuk menjinakkan lebah; 2). Penutup muka; 3) Pengungkit; 4).Sarung lebah; 5). Sikat lebah digunakan pada waktu panen madu untuk menghalau lebah dari sisiran sarang.
Peralatan lain: 1) ekstraktor digunakan untuk mengeluarkan madu tanpa merusak sarang; 2) Bejana penampung madu; 3)Alat penyaring; 4) mangkokan royal jelly untuk memproduksi royal jelly atau mengembangbiakkan lebah ratu; 5).Alat pengambil larva; 6). Alat pengambil royal jelly; 7). Pinset/supit; 8) Alat penyaring royal jelly.
I. Potensi Flora Mangrove
Sebagian besar flora mangrove memiliki bunga yang mengandung nektar dan pollen yang dibutuhkan oleh lebah sebagai sumber pakannya. Beberapa jenis flora mangrove yang mengandung nectar dan pollen :
Mangrove Sejati, Acanthus ebracteatus, Acanthus licifolius, Aegialitis annulata, Aegiceras corniculatum, Aegiceras floridum, Amyema gravis, Avicenia alba , Avicenia lanata, Avicenia marina, Avicenia officinalis, Bruguiera cylindrical, Bruguiera exaristata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Bruguiera sexangula, Camptostemon schultzii, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Excoecaria agallocha, Gymnanthera paludosa, Heritiera littoralis, Kandelia candel, Lumnitzera littorea, Lumnitzera racemosa, Nypa fruticans, Osbornia octodonta, Phemphis acidula, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sarcolobus globosa, Scyphiphora hidrophyllacea, Sonnertia alba, Sonneratia caseolaris, Sonneratia ovate, Xylocarpus granatum, Xylocarpus mekongensis, Xylocarpus moluccensis, Xylocarpus rumphiis, Mangrove Ikutan, Calophyllum inophyllum, Cerbera manghas, Clerodendrum inerme, Derris trifoliate, Hibiscus tiliaceus, Pandanus odoratissima, Pandanus tectorius, Passiflora foetida, Sesuvium portulacastrum, Terminalia cattappa.
J. Antisipasi Masa Paceklik
Masa paceklik adalah masa dimana tanaman pakan lebah tidak sedang berbunga, atau tidak tersedia sumber pakan di lapangan dalam jumlah yang cukup sehingga koloni lebah kekurangan pakan. Untuk mengatasi masa paceklik, maka dapat dilakukan dengan memindahkan koloni-koloni atau mengangon ke lokasi baru dengan ketersediaan pollen dan nektar yang cukup banyak. Bisa juga dilakukan dengan penanaman / penyediaan bunga (bunga matahari atau jenis lain) disekitar lokasi budidaya. Cara terakhir apabila tidak melakukan migratory adalah pemberian stimulan berupa cairan gula pasir (1 liter air : 1 kg gula pasir ). Dengan cara demikian maka kelangsungan koloni lebah dapat terjaga.
K. Hama dan Cara Penanganan
Hama yang bisa menyerang keberadaan lebah madu antara lain:
• Tabuhan / tawon
Masih termasuk keluarga lebah tetapi pemangsa lebah madu. Pengendaliannya dengan membuat perangkap atau membakar sarang tawon ini.
• Semut
Pada serangan ringan, lebah madu tidak begitu terganggu tetapi pada seranga yang berat lebah akan hijrah. Cara menanggulanginya biasanya dengan mengoleskan oli pada kaki bangku standar stup. Secara kimiawi dilakukan dengan insektisida, dengan catatan tidak mengenai lebah dan tidak pada waktu masa produksi madu.
• Ngengat lilin
Biasanya merusak sarang lebah. Cara mengatasinya dengan: 1). Menangkap dan mematikan larva dan telur; 2). Mengecilkan pintu masuk stup; 3). Memasukkan sarang terserang pada koloni yang kuat; 4). Sanitasi lingkungan (membakar sarang rusak dan tak terpakai)
• Tungau
Tungau endoparasit adalah jenis yang hidup di saluran pernafasan lebah dan menyebabkan kematian serta serangan awalnya sulit dikenali. Tungau jenis Ektoparasit ada 2 jenis: varroa jacob dan tropilaelaps clareae. Kedua jenis tungau ini menempel di tubuh lebah yang dapat menyebabkan kematian. Pengendaliannya secara kimiawi tanpa mengganggu lebah dan tanpa pencemaran madu adalah menggunakan belerang dan kapur barus yang ditaburkan di atas karton. Kemudian disisipkan di bawah sisiran sarang pada malam hari selama 3-4 kali. Dengan cara budidaya, adalah dengan mengembangkan koloni agar lebah bisa melakukan perlawanan terhadap tungau.
L. Produk Perlebahan
Beberapa produk yang bisa diperoleh dari hasil budidaya lebah madu adalah :
• Madu
Faktor yang mempengaruhi produksi madu adalah:
ketersediaan pakan lebah penghasil nektar dan pollen
cuaca, kelembaban dan temperatur udara
proporsi koloni lebah yang tertinggi pada saat produksi nektar paling banyak
Pollen
Pollen adalah tepung sari bunga yang dikumpulkan dan dibawa lebah di kedua kaki belakangnya. Pollen bisa dikumpulkan dengan cara memasang pollen trap di pintu masuk stup. Pollen perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan di freezer (tempat terbaik untuk penyimpanan pollen). Pollen memiliki berbagai manfaat dan nilai jual. Bisa juga pollrn diberikan ke lebah pada saat paceklik pakan.
• Royal Jelly
Royal jelly sebenarnya adalah pakan khusus/utama untuk larva lebah ratu. Produksi royal jelly adalah dengan menggunakan mangkokan ratu yang diisi dengan larva umur 1-2 hari (grafting) dan dipasangkan pada bingkai frame yang selanjutnya dimasukkan kedalam koloni. Pemanenan royal jelly dilakukan setelah 3-4 hari dari mulai grafting dengan cara mengeruk royal jelly dari queen cell. Penyimpanan terbaik di freezer. Royal jelly memiliki nilai jual tinggi dan banyak manfaat yang cukup banyak.
• Malam ( Lilin lebah, Wax)
Penggunaan malam tidak terbatas pada bidang industri lilin saja, tetapi dapat digunakan untuk industri antara lain kosmetik dan tehnik.
• Propolis
Propolis adalah bahan rekat atau dempul bersifat resin yang dikumpulkan oleh lebah pekerja dari kuncup, kulit, atau bagian lain dari tumbuhan. Dalam sarang digunakan untuk menutup celah, retakan, memperkecil lubang pintu masuk. Kandungan kimia dalam propoplis antara lain: zat aromatik, zat wangi, zat antibiotik, mineral. Dimanfaatkan sebagai obat, tapal gigi, luka usus, dll.
• Apitoxin (bee venom)
Apitoxin adalah racun atau bisa lebah yang dihasilkan lebah madu (Apis mellifera, Apis cerana, Apis dorsata) dari jenis lebah pekerja. Apitoxin mengandung senyawa kimia antara lain: triptofan, kolin, gliserin, asam fosfat, asalm falmitat, asam lemak, apramin, peptida, enzim, hystamin dan mellitin. Kandungan tertinggi adalah protein 20% (Apis mellifera). Protein yang terutama adalah mellitin. Senyawa yang ada tergolong mirip dengan senyawa yang diproduksi oleh tubuh manusia, kecuali mellitin yang dihasilkan khusus oleh lebah yang memiliki aktivitas anti bakteri yang kuat dan tahan terhadap penisilin serta anti reumatik. Manfaat sengatan lebah untuk penyembuhan beberapa penyakit antara lain: reumatik, sakit kepala, salah urat, tekanan darah tinggi/rendah,dll. Kontra indikasinya adalah penyakit jantung dan TBC.
Berbagai macam produk yang dihasilkan dari budidaya lebah madu merupakan suatu potensi yang sangat baik untuk dikembangkan dan bisa dijadikan salah satu alternatif pendapatan untuk masyarakat. Terutama masyarakat yang bertempat tinggal disekitar wilayah hutan magrove yang memiliki potensi berupa kelimpahan jenis dengan bunga yang banyak mengandung nektar dan pollen sebagai pakan lebah serta musim berbunga dari beberapa jenis yang terdapat sepanjang tahun.
Diharapkan kedepan bahwa budidaya lebah madu pada ekosistem mangrove sebagai salah satu alternatif mata pencaharian masyarakat sekitar hutan mangrove. Dengan demikian selogan “Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera” bisa terwujud.
Cari Blog Ini
Senin, 24 Mei 2010
Tanaman obat dari hutan (pulai)
Taman nasional kutai menyimpan potensi tumbuhan yang dapat di kembangkan sebagai obat atau untuk mendukung kesehatan. Data dari berbagai penelitian dan survey,setidaknya ada 220 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat di taman nasonal kutai. Tumbuh tumbuhan tersebut meliputi pohon, herba dan liana yang tersebar dan berasosiasi satu dengan yang lain membentuk ekosistem hutan tropis yang komplek.
Di Indonesia tumbuh tumbuhan yang berkhasiat obat tersebut masih sangat sedikit yang dikembangkan dalam skala industry. Jenis tumbuhan yang banyak dan bervariasi sebenarnya memberi peluang yang lebih besar bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, masyarakat, dan farmasi untuk mengembangkan berbagai tumbuhan hutan sebagai obat di masa yang akan dating.
Salah satu tanaman obat yang terdapat di taman nasional kuati adalah tanaman pulai (alstonis scholar), berikut hal hal yang berkaitan dengan tanaman pulai:
Nama Umum : Pulai (alstonia scholaris)
Nama Lokal :
Lame (Sunda), pule (Jawa), polay (Madura). kayu gabus,; pulai (Sumatera).hanjalutung (Kalimantan).kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow, wariangow, mariangan, deadeangow,; kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian),; hange (Ternate). devil’s tree, ditta bark tree (Inggris).; Chatian, saitan-ka-jhad, saptaparna (India, Pakistan).; Co tin pat, phayasattaban (Thailand).;
Deskripsi Tumbuhan
Tumbuhan Pulai tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl.
Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 – 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 – 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 – 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 – 23 cm, lebar 3 – 7,5 cm, warna hijau.
Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat. Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 – 50 cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 – 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan biji atau setek batang dan cabang.
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Kulit kayu rasanya pahit, tidak berbau.
KANDUNGAN KIMIA :
Kulit kayu mengandung alkaloida ditain, ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan triterpen (alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai mengandung asam ursolat dan lupeol. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : 1. Zat aktif triterpenoid dari kulit kayu pulai dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci 2. Ekstrak air kulit kayu pulai secara in vivo dapat menekan daya infeksi telur cacing gelang babi (Ascaris suum) pada dosis 130 mg/ml dan secara invitro menekan perkembang telur berembrio menjadi larva an pada dosis 65 mg/ml 3. Pemberian infus 10% kulit kayu pulai dengan dosis 0,7; 1,5 dan 39/kg bb kelinci mempunyai efek hipoglikernik
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Demam, malaria, limfa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia, ; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul,; Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), ; Beri-beri, masa nifas, payudara bengkak karena ASI.;
BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Kulit kayu dan daun. Kulit kayu dikeringkan dengan cara di jemur atau pemanasan.
INDIKASI :
Kulit kayu dapat mengatasi : demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, kencing manis (diabetes mellitus), tekanan darah tinggi (hipertensi),wasir, anemia, gangguan haid, dan rematik akut.
Daun dapat digunakan untuk mengatasi: borok (ulcer), bisul, perempuan setelah melahirkan (masa nifas), beri-beri, dan payudara bengkak karena bendungan ASI.
CARA PEMAKAIAN :
Kulit kayu sebanyak 1-3 g direbus, lalu minum. Untuk pemakaian luar, getahnya diteteskan untuk mematangkan bisul, tertusuk duri dan radang kulit. Air rebusan kulit batang pulai digunakan untuk mencuci luka, radang kulit bernanah, borok atau sebagai obat kumur pada sakit gigi.
Di Indonesia tumbuh tumbuhan yang berkhasiat obat tersebut masih sangat sedikit yang dikembangkan dalam skala industry. Jenis tumbuhan yang banyak dan bervariasi sebenarnya memberi peluang yang lebih besar bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, masyarakat, dan farmasi untuk mengembangkan berbagai tumbuhan hutan sebagai obat di masa yang akan dating.
Salah satu tanaman obat yang terdapat di taman nasional kuati adalah tanaman pulai (alstonis scholar), berikut hal hal yang berkaitan dengan tanaman pulai:
Nama Umum : Pulai (alstonia scholaris)
Nama Lokal :
Lame (Sunda), pule (Jawa), polay (Madura). kayu gabus,; pulai (Sumatera).hanjalutung (Kalimantan).kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow, wariangow, mariangan, deadeangow,; kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian),; hange (Ternate). devil’s tree, ditta bark tree (Inggris).; Chatian, saitan-ka-jhad, saptaparna (India, Pakistan).; Co tin pat, phayasattaban (Thailand).;
Deskripsi Tumbuhan
Tumbuhan Pulai tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl.
Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 – 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 – 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 – 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 – 23 cm, lebar 3 – 7,5 cm, warna hijau.
Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat. Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 – 50 cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 – 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan biji atau setek batang dan cabang.
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Kulit kayu rasanya pahit, tidak berbau.
KANDUNGAN KIMIA :
Kulit kayu mengandung alkaloida ditain, ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan triterpen (alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai mengandung asam ursolat dan lupeol. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : 1. Zat aktif triterpenoid dari kulit kayu pulai dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci 2. Ekstrak air kulit kayu pulai secara in vivo dapat menekan daya infeksi telur cacing gelang babi (Ascaris suum) pada dosis 130 mg/ml dan secara invitro menekan perkembang telur berembrio menjadi larva an pada dosis 65 mg/ml 3. Pemberian infus 10% kulit kayu pulai dengan dosis 0,7; 1,5 dan 39/kg bb kelinci mempunyai efek hipoglikernik
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Demam, malaria, limfa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia, ; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul,; Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), ; Beri-beri, masa nifas, payudara bengkak karena ASI.;
BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Kulit kayu dan daun. Kulit kayu dikeringkan dengan cara di jemur atau pemanasan.
INDIKASI :
Kulit kayu dapat mengatasi : demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, kencing manis (diabetes mellitus), tekanan darah tinggi (hipertensi),wasir, anemia, gangguan haid, dan rematik akut.
Daun dapat digunakan untuk mengatasi: borok (ulcer), bisul, perempuan setelah melahirkan (masa nifas), beri-beri, dan payudara bengkak karena bendungan ASI.
CARA PEMAKAIAN :
Kulit kayu sebanyak 1-3 g direbus, lalu minum. Untuk pemakaian luar, getahnya diteteskan untuk mematangkan bisul, tertusuk duri dan radang kulit. Air rebusan kulit batang pulai digunakan untuk mencuci luka, radang kulit bernanah, borok atau sebagai obat kumur pada sakit gigi.
Label:
manfaat pulai,
pulai,
taman nasional kutai,
tanaman obat
Sabtu, 22 Mei 2010
Taman Nasional Kutai
Taman Nasional Kutai atau biasa disingkat TNK adalah sebuah taman nasional yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur dan sebagian kecil wilayah Kota Bontang yang memiliki lahan total seluas 198.629 ha. Kantor atau balai pengeloloa TNK berada di Kota Bontang. Namun seiring masuk tahun 2000-an, wilayah TNK ini mulai dirambah penduduk untuk dijadikan pemukiman dan lahan perkebunan sehingga wilayah TNK yang masih benar-benar asli mungkin jauh dibawah lahan yang seluas 198.629 ha pada akhir tahun 1990-an.
Letak, topografi dan penutupan lahan
TN Kutai membentang di sepanjang garis khatulistiwa mulai dari pantai Selat Makassar sebagai batas bagian timur menuju arah daratan sepanjang kurang dari 65 km. Kawasan ini juga dibatasi Sungai Sangatta di sebelah utara, sebelah selatan dibatasi Hutan Lindung Bontang dan HTI PT Surya Hutani Jaya, dan sebelah barat dibatasi ex HTI PT Kiani Lestari dan HTI PT Surya Hutani Jaya
TN Kutai secara geografis berada di 0o7’54” - 0o33’53” LU dan 116o58’48” - 117o35’29” BT, sedangkan secara administrasi pemerintahan, kawasan dengan luas 198.629 ha ini terletak di Kabupaten Kutai Timur (± 80%), Kabupaten Kutai Kartanegara ( ±17,48%) dan Kota Bontang (±2,52%)
Berdasarkan hasil pengolahan citra radar tahun 2005, diperoleh informasi bahwa secara umum TN Kutai memiliki topografi datar yang tersebar hampir di seluruh luasan kawasan (92%) dan topografi bergelombang hingga berbukit-bukit tersebar pada bagian tengah kawasan yang membentang arah utara selatan (8%). Sebagian besar kawasan memiliki kelas ketinggian antara 0 – 100 m dpl (61%) yang tersebar pada bagian timur dan barat kawasan. Tingkat ketinggian bagian tengah kawasan antara 100 – 250 m dpl (39%).
Deskripsi penutupan lahan paling mutakhir dihasilkan dari interpretasi citra landsat yang dilakukan pada bulan September 2005. Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat ini, luas kawasan TN Kutai bertambah menjadi 198.803,59 ha
Geologi dan Tanah
Berdasarkan peta geologi Kalimantan Timur, formasi geologi kawasan ini sebagian besar meliputi tiga bagian, yaitu:
1. Bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang.
2. Bagian tengah terdiri dari batuan miosen atas.
3. Bagian barat terdiri dari batuan sedimen bawah.
klim dan Hidrologi
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TN Kutai beriklim tipe B dengan nilai Q berkisar antara 14,3 % - 33, 3 %. urah hujan rata-rata setahun 1543,6 mm atau rata-rata 128,6 m dengan rata-rata hari hujan setahun 66,4 hari atau rata-rata bulanan 5,5 hari. Suhu rata-rata adalah 26oC (berkisar antara 21-34 derajat Celcius) dengan kelembaban relatif 67% - 9% dan kecepatan angin normal rata-rata 2 – 4 knot/jam (Site Plan Kepariwisataan TN Kutai, 1995). Sungai-sungai yang mengalir di dalam dan sekitar TN Kutai antara lain: Sungai Sangatta, Sungai Banu Muda, Sungai Sesayap, Sungai Sangkima, Sungai Kandolo, Sungai Selimpus, Sungai Teluk Pandan, Sungai Palakan, Sungai Menamang Kanan, Sungai Menamang Kiri, Sungai Tawan, Sungai Melawan dan Sungai Santan
Ekosistem
Tipe-tipe ekosistem yang terdapat di TN Kutai antara lain (BTNK, 2001):
* Hutan Dipterocarpaceae campuran, sebagian besar terdapat di bagian timur kawasan. Pada kawasan bekas kebakaran telah muncul Macaranga dan perdu.
* Hutan Ulin-Meranti-Kapur, terdapat di bagian barat TN Kutai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang dan mencakup hampir 50% dari luas TN Kutai.
* Vegetasi hutan mangrove dan tumbuhan pantai, terdapat di sepanjang pantai Selat Makassar.
* Vegetasi hutan rawa air tawar, tersebar pada daerah kantong-kantong sepanjang sungai dan mengandung endapan lumpur yang dibawa banjir.
* Vegetasi hutan kerangas, terdapat di sebelah barat Teluk Kaba.
* Vegetasi hutan tergenang apabila banjir, terdapat pada daerah di sepanjang sungai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang.
Letak, topografi dan penutupan lahan
TN Kutai membentang di sepanjang garis khatulistiwa mulai dari pantai Selat Makassar sebagai batas bagian timur menuju arah daratan sepanjang kurang dari 65 km. Kawasan ini juga dibatasi Sungai Sangatta di sebelah utara, sebelah selatan dibatasi Hutan Lindung Bontang dan HTI PT Surya Hutani Jaya, dan sebelah barat dibatasi ex HTI PT Kiani Lestari dan HTI PT Surya Hutani Jaya
TN Kutai secara geografis berada di 0o7’54” - 0o33’53” LU dan 116o58’48” - 117o35’29” BT, sedangkan secara administrasi pemerintahan, kawasan dengan luas 198.629 ha ini terletak di Kabupaten Kutai Timur (± 80%), Kabupaten Kutai Kartanegara ( ±17,48%) dan Kota Bontang (±2,52%)
Berdasarkan hasil pengolahan citra radar tahun 2005, diperoleh informasi bahwa secara umum TN Kutai memiliki topografi datar yang tersebar hampir di seluruh luasan kawasan (92%) dan topografi bergelombang hingga berbukit-bukit tersebar pada bagian tengah kawasan yang membentang arah utara selatan (8%). Sebagian besar kawasan memiliki kelas ketinggian antara 0 – 100 m dpl (61%) yang tersebar pada bagian timur dan barat kawasan. Tingkat ketinggian bagian tengah kawasan antara 100 – 250 m dpl (39%).
Deskripsi penutupan lahan paling mutakhir dihasilkan dari interpretasi citra landsat yang dilakukan pada bulan September 2005. Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat ini, luas kawasan TN Kutai bertambah menjadi 198.803,59 ha
Geologi dan Tanah
Berdasarkan peta geologi Kalimantan Timur, formasi geologi kawasan ini sebagian besar meliputi tiga bagian, yaitu:
1. Bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang.
2. Bagian tengah terdiri dari batuan miosen atas.
3. Bagian barat terdiri dari batuan sedimen bawah.
klim dan Hidrologi
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TN Kutai beriklim tipe B dengan nilai Q berkisar antara 14,3 % - 33, 3 %. urah hujan rata-rata setahun 1543,6 mm atau rata-rata 128,6 m dengan rata-rata hari hujan setahun 66,4 hari atau rata-rata bulanan 5,5 hari. Suhu rata-rata adalah 26oC (berkisar antara 21-34 derajat Celcius) dengan kelembaban relatif 67% - 9% dan kecepatan angin normal rata-rata 2 – 4 knot/jam (Site Plan Kepariwisataan TN Kutai, 1995). Sungai-sungai yang mengalir di dalam dan sekitar TN Kutai antara lain: Sungai Sangatta, Sungai Banu Muda, Sungai Sesayap, Sungai Sangkima, Sungai Kandolo, Sungai Selimpus, Sungai Teluk Pandan, Sungai Palakan, Sungai Menamang Kanan, Sungai Menamang Kiri, Sungai Tawan, Sungai Melawan dan Sungai Santan
Ekosistem
Tipe-tipe ekosistem yang terdapat di TN Kutai antara lain (BTNK, 2001):
* Hutan Dipterocarpaceae campuran, sebagian besar terdapat di bagian timur kawasan. Pada kawasan bekas kebakaran telah muncul Macaranga dan perdu.
* Hutan Ulin-Meranti-Kapur, terdapat di bagian barat TN Kutai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang dan mencakup hampir 50% dari luas TN Kutai.
* Vegetasi hutan mangrove dan tumbuhan pantai, terdapat di sepanjang pantai Selat Makassar.
* Vegetasi hutan rawa air tawar, tersebar pada daerah kantong-kantong sepanjang sungai dan mengandung endapan lumpur yang dibawa banjir.
* Vegetasi hutan kerangas, terdapat di sebelah barat Teluk Kaba.
* Vegetasi hutan tergenang apabila banjir, terdapat pada daerah di sepanjang sungai yang drainase tanahnya kurang baik sampai sedang.
TAMAN NASIONAL KUTAI
Taman Nasional Kutai memiliki berbagai tipe vegetasi utama yaitu vegetasi hutan pantai/mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hutan Dipterocarpaceae campuran. Taman nasional ini merupakan perwakilan hutan ulin yang paling luas di Indonesia.
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Berikut paparan meneganai fungsi dan manfaat dari hutan bakau :
Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut:
Inilah Fungsi Hutan Bakau
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
fungsinya sebagai berikut :
1. Habitat satwa langka
Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus)
2. Pelindung terhadap bencana alam
Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.
3. Pengendapan lumpur
Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.
4. Penambah unsur hara
Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.
5. Penambat racun
Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif.
6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)
Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.
7. Transportasi
Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan
8. Sumber plasma nutfah
Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.
9. Rekreasi dan pariwisata
H utan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya..
10. Sarana pendidikan dan penelitian
Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
11. Memelihara proses-proses dan sistem alami
Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.
12. Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.
13. Memelihara iklim mikro
Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.
14. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam
Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.
Beberapa tumbuhan yang ada di taman nasional seperti bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), simpur (Dillenia sp.), meranti (Shorea sp.), benuang (Octomeles sumatrana), kapur (Dryobalanops sp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), 3 jenis raflesia dan berbagai jenis anggrek.
Pohon ulin yang terdapat di Sangkimah memiliki tinggi bebas cabang 45 m, diameter 225 cm atau keliling batang 706 cm dan volumenya 150 m3. Pohon ini tercatat sebagai pohon tertinggi dan terbesar di Indonesia.
Berikut paparan meneganai fungsi dan manfaat dari hutan bakau :
Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut:
Inilah Fungsi Hutan Bakau
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
fungsinya sebagai berikut :
1. Habitat satwa langka
Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus)
2. Pelindung terhadap bencana alam
Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.
3. Pengendapan lumpur
Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.
4. Penambah unsur hara
Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.
5. Penambat racun
Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif.
6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)
Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.
7. Transportasi
Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan
8. Sumber plasma nutfah
Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.
9. Rekreasi dan pariwisata
H utan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya..
10. Sarana pendidikan dan penelitian
Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
11. Memelihara proses-proses dan sistem alami
Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.
12. Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.
13. Memelihara iklim mikro
Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.
14. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam
Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.
Label:
hutan bakau,
taman nasional kutai,
TNK
Senin, 19 April 2010
CABAI
PROSPEK DAN POTENSI CABAI
Pasar cabai paling besar adalah market dalam negri. Didalam negri cabai paling banyak dipergunakan untuk keperluan dapur. Selain saat musim hujan, permintaan dan harga tinggi sering terjadi menjelang hari-hari raya keagamaan seperti misalnya Hari Raya Idul Fitri, Bulan puasa, Lebaran, Natal dan tahun baru.
Cabai sering mengalami fluktuasi harga yang tidak menentu namun hingga saat ini permintaan pasar lokal dan export masih belum dapat terpenuhi. Dalam perdagangan export cabai dijual dalam bentuk segar, kering, pasta, giling dan saos. Indonesia mengexport cabai ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia , India dan Brunei Darusalam.
Cabai yang dipanen bersamaan panen raya harganya sering jatuh namun hal itu dapat diatasi dengan mengolah cabai menjadi produk jadi seperti saos cabai dan cabai kering.Dengan demikian dapat menaikkan harga untuk menambah nilai jual.
Cabai merupakan salah satu komoditas yang banyak dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang jumlah kebutuhannya terus bertambah dan meningkat seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk. Tiap luasan 1 hektar bisa menghasilkan sekitar 1 s/d 2 ton cabai segar. Cabai memberikan satu peluang bisnis yang masih terus menjanjikan.
MANFAAT DAN KEGUNAAN CABAI
Cabai mengandung banyak gizi berupa protein dan vitamin yang berguna bagi tubuh. Tiap 100 gram cabai merah segar mengandung gizi : kalori 31,0 kal, protein 1,0 g, lemak 0,3 g, karbohidrat 7,3 g, kalsium 29,0 mg, fosfor 24,0 mg, besi 0,5 mg, Vitamin A 470 SI, Vitamin C 18,0 mg, viatamin B1 0,05 mg, Vitamin B2 0,03 mg, niasin 0,20 mg , kapsaikin 0,1 s/d 1,5% , pectin 2,33% , pentosan 8,57% , pati 0,8 s/d 1,4 %.
Cabai dipergunakan sebagai penyedap masakan. Pada saat ini cabai tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi segar saja tetapi sudah banyak diolah menjadi berbagai produk olahan seperti saos cabai, sambal cabai, pasta cabai, bubuk cabai dan bumbu instant.
Cabai dapat dipergunakan untuk terapi kesehatan diantaranya menyembuhkan kejang, sakit tenggorokan, alergi serta membantu sirkulasi darah dalam jantung. Cabai juga bersifat analgesik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk meringankan pegal, encok, rematik dan obat oles kulit.
Cabai banyak mengandung kapsikidin. Yaitu suatu senyawa yang terdapat dalam biji, senyawa ini sangat berguna untuk memperlancar kerja sekresi asam lambung dan mencegah terjadinya infeksi pada system pencernaan.
Cabai juga memiliki senyawa lain yaitu kapsikol. Senyawa kapsikol berfungsi untuk mengurangi pegl-pegal, sakit gigi, sesak napas termasuk juga gatal-gatal. Seiring dengan perkembagan teknologi, cabai banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan salep gosok, salep tempel dan obat pegal linu.
Cabai yang memiliki begitu banyak khasiat tersebut disebabkan oleh senyawa kapsaikin ( C18 H27NO3 ) yang terkandung dalam buah cabai. Kapsaikin merupakan unsur aktif pokok yang terdiri dari lima komponen kapsaikinoid, yaitu nordihidro kapsaikin, kapsaikin, dihidro kapsaikin, homo kapsaikin dan homo dihidro kapsaikin. Senyawa-senyawa tersebut bisa dijadikan obat untuk pengobatan sirkulasi darah yang tidak lancar dikaki, tangan dan jantung.
SEKILAS BUDIDAYA CABAI
Cabai merupakan tanaman semusim yang cocok ditanam didataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 2.500 dpl. Cabai membutuhkan cahaya matahari 10 – 12 jam, suhu ideal untuk pertumbuhan 24 – 28 derajat Celcius ,kelembapan 80% dan cocok tumbuh ditanah lempung berpasir yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Derajat keasaman / PH antara 6 – 7.
Cabai mempunyai banyak jenis dan varietas seperti : Cabai keriting, cabai besar, cabai rawit, cabai paprika, dll . Paling sering dibudidayakan adalah : GADA F1 Cabai besar Hibrida, ARIMBI 513 Hibrida, PRABU F1 Cabai besar Hibrida, CTH-01 Hibrida, PAPIRUS Hibrida, NENGGALA Hibrida dan TIT SUPER Cabai Besar. Cabai yang ditanam intensif memerlukan 100 s/d 150 gram benih / hektarnya..
Cabai ditanam dengan menggunakan mulsa plastik setelah sebelumnya dipupuk awal dengan menggunakan pupuk kandang, pemberian kapur dolomit dan pupuk kimia. Pupuk kandang yang diperlukan 20 s/d 30 ton per-hektarnya. Mulsa plastik dipakai untuk menekan serangan hama, penyakit dan gulma.
Cabai yang telah ditanam harus diberikan perawatan rutin, penyulaman dan pemasangan ajir agar tanaman tidak roboh karena terpaan angin. Setelahnya dilakukan perempelan tunas dan pemupukan susulan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Cabai dipanen saat masak minimalnya 90% dan sudah berwarna merah. Cabai dipanen pada pagi hari karena masih memiliki bobot yang optimal. Cabai dipanen dengan menyertakan tangkainya, dengan cara demikian akan memiliki daya simpan yang lebih lama dari pada yang dipetik tanpa tangkai.
Cabai dapat dipanen hingga 30 kali petik dengan jarak waktu pemanenan setiap 2 s/d 3 hari sekali atau tergantung dari luas tanaman dan kondisi pasar saat itu. Pemanenan cabai didataran rendah lebih cepat selesai daripada pemanenan didataran tinggi.
Cabai dapat dihindarkan dari kebusukan dengan cara dikeringkan ditempat terbuka dengan memanfaatkan sinar matahari. Penjemuran dengan sinar matahari hanya dapat dilakukan pada musim kemarau dan biasanya memakan waktu cukup lama.
Cabai dapat dikeringkan dengan cara lain yaitu menggunakan mesin pengering atau dryer yang biasa dipakai untuk mengeringkan biji-bijian. Pengeringan membutuhkan waktu sekitar 24 jam pada suhu 60 derajat Celcius. Penyimpanan cabai dengan tujuan menjaga kesegaran buah dalam waktu yang lama dapat dilakukan dengan penyimpanan didalam cool storage bersuhu 7 – 9 derajat Celcius.
KRITERIA PASOKAN CABAI
Cabai untuk konsumsi pasar lokal dan export harus dalam kondisi segar dan tidak cacat, tidak terkena penyakit ataupun busuk. Cabai sudah di-grade berdasarkan jenis dan kualitasnya.
Cabai yang dijual dengan tujuan pasar lokal dikemas dengan menggunakan waring net / karung palstik berlubang-lubang dengan kapasitas 50 – 80 kg. Pemasaran cabe ke-swalayan dikemas menggunakan waring net dengan bobot 0,5 s/d 1 kg. sedangkan untuk keperluan export dikemas didalam kardus berlabel berkapasitas 15 s/d 20 kg dan disusun rapi berdasarkan grade mutunya.
Cabai untuk permintaan export dikemas dengan menggunakan kardus berlabel produsennya. Kardus pada umumnya menampung sekitar 20 kg cabai segar. Yang disusun rapi berdasarkan grade dan jenisnya.
Pasar cabai paling besar adalah market dalam negri. Didalam negri cabai paling banyak dipergunakan untuk keperluan dapur. Selain saat musim hujan, permintaan dan harga tinggi sering terjadi menjelang hari-hari raya keagamaan seperti misalnya Hari Raya Idul Fitri, Bulan puasa, Lebaran, Natal dan tahun baru.
Cabai sering mengalami fluktuasi harga yang tidak menentu namun hingga saat ini permintaan pasar lokal dan export masih belum dapat terpenuhi. Dalam perdagangan export cabai dijual dalam bentuk segar, kering, pasta, giling dan saos. Indonesia mengexport cabai ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia , India dan Brunei Darusalam.
Cabai yang dipanen bersamaan panen raya harganya sering jatuh namun hal itu dapat diatasi dengan mengolah cabai menjadi produk jadi seperti saos cabai dan cabai kering.Dengan demikian dapat menaikkan harga untuk menambah nilai jual.
Cabai merupakan salah satu komoditas yang banyak dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang jumlah kebutuhannya terus bertambah dan meningkat seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk. Tiap luasan 1 hektar bisa menghasilkan sekitar 1 s/d 2 ton cabai segar. Cabai memberikan satu peluang bisnis yang masih terus menjanjikan.
MANFAAT DAN KEGUNAAN CABAI
Cabai mengandung banyak gizi berupa protein dan vitamin yang berguna bagi tubuh. Tiap 100 gram cabai merah segar mengandung gizi : kalori 31,0 kal, protein 1,0 g, lemak 0,3 g, karbohidrat 7,3 g, kalsium 29,0 mg, fosfor 24,0 mg, besi 0,5 mg, Vitamin A 470 SI, Vitamin C 18,0 mg, viatamin B1 0,05 mg, Vitamin B2 0,03 mg, niasin 0,20 mg , kapsaikin 0,1 s/d 1,5% , pectin 2,33% , pentosan 8,57% , pati 0,8 s/d 1,4 %.
Cabai dipergunakan sebagai penyedap masakan. Pada saat ini cabai tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi segar saja tetapi sudah banyak diolah menjadi berbagai produk olahan seperti saos cabai, sambal cabai, pasta cabai, bubuk cabai dan bumbu instant.
Cabai dapat dipergunakan untuk terapi kesehatan diantaranya menyembuhkan kejang, sakit tenggorokan, alergi serta membantu sirkulasi darah dalam jantung. Cabai juga bersifat analgesik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk meringankan pegal, encok, rematik dan obat oles kulit.
Cabai banyak mengandung kapsikidin. Yaitu suatu senyawa yang terdapat dalam biji, senyawa ini sangat berguna untuk memperlancar kerja sekresi asam lambung dan mencegah terjadinya infeksi pada system pencernaan.
Cabai juga memiliki senyawa lain yaitu kapsikol. Senyawa kapsikol berfungsi untuk mengurangi pegl-pegal, sakit gigi, sesak napas termasuk juga gatal-gatal. Seiring dengan perkembagan teknologi, cabai banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan salep gosok, salep tempel dan obat pegal linu.
Cabai yang memiliki begitu banyak khasiat tersebut disebabkan oleh senyawa kapsaikin ( C18 H27NO3 ) yang terkandung dalam buah cabai. Kapsaikin merupakan unsur aktif pokok yang terdiri dari lima komponen kapsaikinoid, yaitu nordihidro kapsaikin, kapsaikin, dihidro kapsaikin, homo kapsaikin dan homo dihidro kapsaikin. Senyawa-senyawa tersebut bisa dijadikan obat untuk pengobatan sirkulasi darah yang tidak lancar dikaki, tangan dan jantung.
SEKILAS BUDIDAYA CABAI
Cabai merupakan tanaman semusim yang cocok ditanam didataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 2.500 dpl. Cabai membutuhkan cahaya matahari 10 – 12 jam, suhu ideal untuk pertumbuhan 24 – 28 derajat Celcius ,kelembapan 80% dan cocok tumbuh ditanah lempung berpasir yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Derajat keasaman / PH antara 6 – 7.
Cabai mempunyai banyak jenis dan varietas seperti : Cabai keriting, cabai besar, cabai rawit, cabai paprika, dll . Paling sering dibudidayakan adalah : GADA F1 Cabai besar Hibrida, ARIMBI 513 Hibrida, PRABU F1 Cabai besar Hibrida, CTH-01 Hibrida, PAPIRUS Hibrida, NENGGALA Hibrida dan TIT SUPER Cabai Besar. Cabai yang ditanam intensif memerlukan 100 s/d 150 gram benih / hektarnya..
Cabai ditanam dengan menggunakan mulsa plastik setelah sebelumnya dipupuk awal dengan menggunakan pupuk kandang, pemberian kapur dolomit dan pupuk kimia. Pupuk kandang yang diperlukan 20 s/d 30 ton per-hektarnya. Mulsa plastik dipakai untuk menekan serangan hama, penyakit dan gulma.
Cabai yang telah ditanam harus diberikan perawatan rutin, penyulaman dan pemasangan ajir agar tanaman tidak roboh karena terpaan angin. Setelahnya dilakukan perempelan tunas dan pemupukan susulan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Cabai dipanen saat masak minimalnya 90% dan sudah berwarna merah. Cabai dipanen pada pagi hari karena masih memiliki bobot yang optimal. Cabai dipanen dengan menyertakan tangkainya, dengan cara demikian akan memiliki daya simpan yang lebih lama dari pada yang dipetik tanpa tangkai.
Cabai dapat dipanen hingga 30 kali petik dengan jarak waktu pemanenan setiap 2 s/d 3 hari sekali atau tergantung dari luas tanaman dan kondisi pasar saat itu. Pemanenan cabai didataran rendah lebih cepat selesai daripada pemanenan didataran tinggi.
Cabai dapat dihindarkan dari kebusukan dengan cara dikeringkan ditempat terbuka dengan memanfaatkan sinar matahari. Penjemuran dengan sinar matahari hanya dapat dilakukan pada musim kemarau dan biasanya memakan waktu cukup lama.
Cabai dapat dikeringkan dengan cara lain yaitu menggunakan mesin pengering atau dryer yang biasa dipakai untuk mengeringkan biji-bijian. Pengeringan membutuhkan waktu sekitar 24 jam pada suhu 60 derajat Celcius. Penyimpanan cabai dengan tujuan menjaga kesegaran buah dalam waktu yang lama dapat dilakukan dengan penyimpanan didalam cool storage bersuhu 7 – 9 derajat Celcius.
KRITERIA PASOKAN CABAI
Cabai untuk konsumsi pasar lokal dan export harus dalam kondisi segar dan tidak cacat, tidak terkena penyakit ataupun busuk. Cabai sudah di-grade berdasarkan jenis dan kualitasnya.
Cabai yang dijual dengan tujuan pasar lokal dikemas dengan menggunakan waring net / karung palstik berlubang-lubang dengan kapasitas 50 – 80 kg. Pemasaran cabe ke-swalayan dikemas menggunakan waring net dengan bobot 0,5 s/d 1 kg. sedangkan untuk keperluan export dikemas didalam kardus berlabel berkapasitas 15 s/d 20 kg dan disusun rapi berdasarkan grade mutunya.
Cabai untuk permintaan export dikemas dengan menggunakan kardus berlabel produsennya. Kardus pada umumnya menampung sekitar 20 kg cabai segar. Yang disusun rapi berdasarkan grade dan jenisnya.
ES KUE (ES GABUS/SPONGE ICE)
ES KUE (ES GABUS/SPONGE ICE)
Bahan :
- Tepung hunkwe 130 gram, siap pakai
- Santan kental 1250 ml
- Gula pasir 250 gram
- Nangka matang 150 gram, potong dadu kecil
- Pewarna makanan sesuai selera
- Plastik tebal, potong ukuran 10 x 4 x 1 cm
Cara Membuat :
1. Campur jadi satu, tepung hunkwe, gula pasir dan santan, aduk rata, bagi
adonan, 2/3 bagian beri pewarna dan 1/3 bagian berwarna putih.
2. Bagi adonan warna menjadi 2, masak 1 bagian adonan warna di atas api hingga
mendidih dan kental, tuang dalam loyang 8 x 20 x 7 cm. Sisihkan.
3. Masak adonan putih di atas api hingga mendidih dan kental, masukkan potongan
nangka, aduk rata, tuang adonan diatas warna hijau, ratakan.
4.Masak sisa adonan hijau di atas api hingga mendidih dan kental, tuang diatas
warna putih. Dinginkan hingga keras.
5. Potong-potong kue ukuran 1 cm, bungkus dengan plasatik, simpan dalam freezer
hingga beku.
Hasil Jadi 12 Buah
Bahan :
- Tepung hunkwe 130 gram, siap pakai
- Santan kental 1250 ml
- Gula pasir 250 gram
- Nangka matang 150 gram, potong dadu kecil
- Pewarna makanan sesuai selera
- Plastik tebal, potong ukuran 10 x 4 x 1 cm
Cara Membuat :
1. Campur jadi satu, tepung hunkwe, gula pasir dan santan, aduk rata, bagi
adonan, 2/3 bagian beri pewarna dan 1/3 bagian berwarna putih.
2. Bagi adonan warna menjadi 2, masak 1 bagian adonan warna di atas api hingga
mendidih dan kental, tuang dalam loyang 8 x 20 x 7 cm. Sisihkan.
3. Masak adonan putih di atas api hingga mendidih dan kental, masukkan potongan
nangka, aduk rata, tuang adonan diatas warna hijau, ratakan.
4.Masak sisa adonan hijau di atas api hingga mendidih dan kental, tuang diatas
warna putih. Dinginkan hingga keras.
5. Potong-potong kue ukuran 1 cm, bungkus dengan plasatik, simpan dalam freezer
hingga beku.
Hasil Jadi 12 Buah
RESEP MASAKAN PAKIS SANTAN DAUN JERUK
RESEP MASAKAN PAKIS SANTAN DAUN JERUK Bahan:
1. 200 gram udang kupas, sisakan ekor
2. 100 gram daun pakis
3. 6 lembar daun jeruk purut, buang tulang daun
4. 250 cc santan dari ¼ butir kelapa
5. 1 batang serai, iris tipis serong
6. ½ sendok teh garam
7. ½ sendok teh penyedap rasa, jika suka
8. 3 buah cabai merah, iris serong
9. 1 sendok teh terasi
10. MInyak goreng secukupnya
Bumbu yang dihaluskan:
1. 8 butir bawang merah
2. 2 siung bawang putih
Cara Membuat Resep Masakan Pakis Santan Daun Jeruk:
1. Tumis bumbu halus, daun jeruk, serai, hingga harum. Masukkan udang, daun pakis. Aduk-aduk.
2. Masukkan santan, garam, penyedap rasa, cabai merah, terasi. Masak hingga matang, angkat.
3. Hidangkan.
Untuk 2 porsi
1. 200 gram udang kupas, sisakan ekor
2. 100 gram daun pakis
3. 6 lembar daun jeruk purut, buang tulang daun
4. 250 cc santan dari ¼ butir kelapa
5. 1 batang serai, iris tipis serong
6. ½ sendok teh garam
7. ½ sendok teh penyedap rasa, jika suka
8. 3 buah cabai merah, iris serong
9. 1 sendok teh terasi
10. MInyak goreng secukupnya
Bumbu yang dihaluskan:
1. 8 butir bawang merah
2. 2 siung bawang putih
Cara Membuat Resep Masakan Pakis Santan Daun Jeruk:
1. Tumis bumbu halus, daun jeruk, serai, hingga harum. Masukkan udang, daun pakis. Aduk-aduk.
2. Masukkan santan, garam, penyedap rasa, cabai merah, terasi. Masak hingga matang, angkat.
3. Hidangkan.
Untuk 2 porsi
Label:
pakis,
pakis santan,
Resep Masakan
Langganan:
Postingan (Atom)