Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 26 Juni 2011

OBAT LUKA DARI TAMAN NASIONAL KUTAI (TNK)

A. PENDAHULUAN

Taman Nasional Kutai yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi khususnya kekayaan flora, termasuk tumbuhan yang berkhasiat obat. Berdasarkan hasil survey balai Taman Nasional Kutai tahun 2005, 22.9% diantara kekayaan flora TNK merupakan jenis yang diidentifikasi berkhasiat obat. Identifikasi jenis yang berkhasiat obat tersebut didasarkan pada pemanfaatan masyarakat Kutai secara tradisional dan pemanfaatan industri farmasi.
No Nama Latin Nama Daerah Manfaat Bagian yang Digunakan Cara Penggunaan
1


Acanthus ilicifolius
Fam: Achantaceae Ciriju


Menghentikan darah, obat luka gigitan ular buah Buah dihancurkan dalam air dan dioleskan ke bagian yang luka
2

Aglaea sp.
Fam. Connaraceae
Akar ubar

Obat Sariawan getah pohon Getah diambil dari batang kemudian dioleskan pada bibir yang mengalami sariawan
3

Bauhinia tomentosa
Fam. Fabaceae Akar kupu-kupu Obat luka Daun daun akar kupu-kupu dicampur pucuk Rumput beribit dan jahe secukupnya kemudian ditumbuk ditempelkan pada permukaan luka
4 Cinnamomum sp.
Fam: Mirtaceae
Entang Burung Obat luka infeksi Kulit akar


Kulit akar dibersihkan lalu kemudian ditumbuk dan dibalurkan pada daerah yang mengalami luka infeksi
5 Clerodendron ineme
Fam. Verbenaceae Kembang bugang Luka memar, luka baru akar akar kering diekstraksi dan airnya dioleskan ke bagian yang luka
6

Koordersiodendron pinatum
Fam. Anacardiaceae Tebu hitam obat bengkak karena tumor dan infeksi kulit pohon kulit pohon direbus kemudian diminum
7
Lumnitzera racemosa
Fam. Comberatceae Obat sariawan daun Daun direbus dan dipajkai untuk kumur
8
Macaranga triloba
Fam. Euphorbiacea Mahang Obat Sariawan akar akar dioleskan pada bibir yang mengalami sariawan
9 Melastoma malabatrhicum
Fam.Melastomataceae Karamunting Obat luka, gatal, bengkak disengat lebah Buah Buahnya digosokkan pada bagian yang sakit
10
Octomeles sumatrana
Fam. Datiscaceae benuang bini Obat luka infeksi daun Daun ditumbuk kemudian direndam lalu dicucikan pada luka yang terkena infeksi
11

Rhisophora sp
Fam. Rhizophoraceae Bakau putih/bakau hitam Obat luka infeksi Kulit batang, daun muda Dilumatkan dan ditempelkan ke bagian tubuh yang luka
12
Smilax sp.
Fam.Smilacaceae Akar bentul Obat bisul umbi Umbinya di parut kemudian ditempel pada bisul
13

Streblus sp.
Fam. Moraceae Akar blaran merah Obat bisul Getah Getah dari akar blaran merah dioleskan pada bagian yang mengalami bisul
14

Streblus sp. Akar blaran putih Obat bisul Getah Getah dari akar blaran merah dioleskan pada bagian yang mengalami bisul
15 vitex pinnata
Fam. Verbenaceae laban Obat luka daun Daunnya direbus kemudian airnya disiramkan pada bagian yang luka
16
Xylocarpus granatum
Fam. Meliaceae Tambu-tambu Pembersih luka Air ekstrak Diekstrak dan airnya untuk membersihkan luka

Pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan tradisional beberapa tahun terakhir bahkan semakin populer dan semakin banyak peneliti yang tertarik untuk mengetahui kandungan kimia dari tumbuhan-tumbuhan tersebut.. Belakangan ini, makin banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan obat tradisional dari pada obat kimia. Selain karena harga obat kimia yang semakin mahal, juga untuk menghindari efek samping dari obat-obatan kimia
Berbagai jenis bagian tumbuhan dan berbagai jenis cara pula yang digunakan dalam pemanfatan tumbuhan tersebut seperti dimasak, dijemur, ditumbuk dll, namun cara pemanfaatan yang paling mudah adalah pemanfaatan untuk mengobati luka dimana sebagian besar cukup dengan diremas bisa langsung ditempelkan kebagian yang sakit dan penderita bisa langsung merasakan khasiatnya.
Luka memang suatu penyakit yang kedengarannya sepele dan sering dianggap enteng oleh banyak orang. Namun penyakit ini paling dekat dengan kehidupan kita dan sangat sering terjadi pada hampir setiap orang, baik luka ringan maupun luka berat. Bagi penderita yang berada di kota, yang dekat dengan pusat-pusat pelayanan kesehatan mungkin luka bisa diatasi dengan mudah karena tinggal mendatangi tempat-tempat tersebut dan membayarkan sejumlah uang penderita akan segera mendapat tindakan pengobatan. Namun bagi penderita yang ada didesa-desa bahkan jauh didalam hutan, tidak bisa seperti itu. Mereka yang tinggal di desa-desa atau di dalam hutan tidak bisa mendapatkan pelayanan tersebut atau bisa dikatakan tidak perlu mendapatkan pengobatan secara kimia, karena mereka secara turun-temurun telah menggunakan berbagai jenis tumbuhan untuk pengobatan berbagai macam penyakit, termasuk pengobatan luka.
Berdasarkan hasil survey tumbuhan obat di TNK akhir tahun 2005, obat luka (bisul, sariawan, infeksi, gatal-gatal dll) menempati urutan ketiga dalam urutan jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan tumbuhan obat yang ada di TNK setelah Obat sakit perut (sakit karena masuk angin, diare, disentri, berak berdarah) dan Obat kewanitaan (keputihan, jamu setelah melahirkan, memperbanyak ASI, pelancar haid dll
Jenis-jenis tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan luka antara lain adalah ciriju (Acanthus ilicifolius), akar ubar (Aglaea sp.), akar kupu-kupu (Bauhinia tomentosa), entang burung (Cinnamomum sp.), tebu hitam (Koordersiodendron pinatum), Lumnitzera racemosa, mahang (Maccaranga triloba), Karamunting (Melastoma malabatrhicum), binuang bini (Octomeles sumatrana), bakau putih dan bakau hitam (Rhisophora sp.), akar lemak putri (Smilax sp.), akar blaran merah (Streblus sp.), akar blaran putih (Streblus sp.), laban (Vitex pinnata), dan Tambu-tambu (Xylocarpus granatum).
B. Jenis Tumbuhan, manfaat, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dan cara pemanfaatan.


C. IDENTIFIKASI

1. Ciriju (Acanthus ilicifolius), Famili: Achantaceae
Herba rendah, batang kuat agak berkayu, tinggi hingga 2 meter. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horisontal.
Daun berbentuk lanset, ujung daun meruncing dan berduri tajam, duduk daun berhadapan, permukaan daun licin, tepi daun bervariasi: bergerigi besar seperti gergaji atau rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Bunga berbentuk bulir, terletak diujung. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung, kadang-kadang agak putih. Buah berbentuk bulat lonjong seperti melinjo, saat masih muda berwarna hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat.
Habitat dan Ekologi : biasanya hidup di dekat hutan mangrove dan sangat jarang di daratan
Distribusi : dari India hingga Australia tropis, Philipina dan Kepulauan Pasifik barat, tersebar diseluruh wilayah Indonesia,

2. Akar kupu-kupu (Bauhinia tomentos), Famili: Caesalpiniaceae
Bauhinia tomentosa merupakan perdu dengan tinggi 0,50 – 4 m. Kadang tanaman ini ditanam sebagai tanaman hias di kebun. Daunnya yang berasa asam dapat ditambahkan pada sayur asam. Ragam pemanfaatannya adalah dengan membuat bubur dari daunnya dan diletakkan pada bagian yang membengkak. Cara ini berkhasiat untuk mengobati bengkak.

3. Entang burung (Cinnamomum sp.), Famili: Lauraceae
Pohon, tinggi hingga 15 m, diameter batang sekitar 20 cm. Kulit batang berwarna coklat, duduk daun berhadapan, membundar telur atau lanset, panjang 7-18 cm, lebar 3-6 cm, pangkal membaji hingga membundar, ujung daun melancip hingga runcing panjang, permukaan bawah sedikit berlapis lilin kebiruan, bertulang 3. Bunga dalam bentuk tandan, berkelamin 2. Buah bulat telur, panjang sekitar 1 cm, diameter 8 mm, duduk di atas mangkuk tajuk yang bercuping.
Habitat dan Ekologi : Dalam hutan Dipterocarpaceae lahan pamah.
Distribusi : Endemik Borneo

4. Tebu Hitam (Koordersiodendron pinatum), Famili: Anacardiaceae
Nama daerah jenis ini adalah Tebu Hitam. Tumbuhan ini merupakan pohon yang besar. Hyne (1987) menyebutnya sebagai raksasa rimba. Tebu hitam merupakan pohon yang tingginya mencapai 50 m dan besar batangnya 2 m. daun berbentuk lanset, tulang daun menyirip (pinnate) dan tepinya berombak. Tata letak daun berhadapan, komposisi majemuk menyirip tunggal dengan jumlah anak daun 10 – 16 pasang. Sistem percabangan monopodial. Kulit batang berwarna coklat kehitaman dan permukaannya retak. Tumbuhan ini bermanfaat sebagai obat bengkak karena tumor dan luka infeksi juga dapat dimanfaatkan sebagai anti pacet.

5. Kembang bugang, (Clerodendron ineme), Famili: Verbenaceae
Belukar, menjalar melebar di permukaan tanah dengan ketinggian kurang dari 2 m. Daun tunggal, duduk daun berhadapan, bentuk daun ellips, ujung daun meruncing, permukaan daun hijau mengkilat, daun kaku dan tertekuk kedalam.
Bunga berbentuk lonceng terletak diketiak daun. Daun bermahkota 5 berwarna putih bersih, bagian bawah bertangkai panjang. Buah berbentuk bulat telur, berwarna hijau kecoklatan, permukaan seperti kulit, mengkilat dan berdaging.
Habitat dan Ekologi : tumbuh subur pada daerah lumpur kering, atau lumpur berpasir dibelakang kawasan hutan mangrove.
Distribusi : diperkirakan diseluruh Indonesia. Data sementara di Bali, Jawa dan Kalimantan.

6. Api-api (Lumnitzera racemosa), Famili: Combretaceae
Belukar atau pohon kecil, selalu hijau, tidak memiliki akar nafas. Daun tunggal, duduk daun berseling. Bentuk daun lanset, sunsang, ujung daun membundar. Daun agak tebal berdaging, keras/kaku dan berumpun pada ujung dahan. Bunga berbentuk bulir, mahkota bunga berwarna putih cerah, dipenuhi oleh nectar. Buah berbentuk elips, berwarna hijau kekuningan, berserat, berkayu dan padat.
Habitat dan Ekologi : tumbuh di sepanjang tepi mangrove. Menyukai substrat berlumpur padat. Juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar.
Distribusi : di bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia, di seluruh Indonesia, PNG, Australia utara dan Polinesia.

7. Mahang (Macaranga triloba), Famili: Euphorbiaceae
Pohon kecil atau perdu. Biasanya memiliki tinggi 3 hingga 6 m, bahkan kadang-kadang 13 m. Kayunya berwarna putih lunak berkualitas rendah dan bergetah. Bentuk daun oval dengan tepi berlekuk 3. pertulangan daun menjari. Kedudukan daun menyebar dengan komposisi tunggal. Ujung daun lancip. tulang daun berbulu halus. Permukaan batang mulus dan bergetah.

8. Karamunting (Melastoma malabatrhicum), Famili: Melastomataceae
Jenis ini merupakan tumbuhan yang hidup dibelukar luas dan kadang-kadang merupakan perdu yang cukup tinggi. Tumbuhan ini dikenal dengan nama daerah Kalimantan sebagai Karamunting namun umumnya di Indonesia dikenal dengan nama Harendong.
Daun berbentuk oval, permukaan daun berbulu, berwarna hijau keunguan. Bagian dalam buah berwarna ungu. Tumbuhan ini berkhasiat untuk menyembuhkan luka angus (luka bakar), berak darah, keputihan, murus, obat setelah melahirkan Daun tumbuhan ini dikunyah kemudian disemburkan pada luka angus dan luka dibalut dengan daunnya untuk mengisap rasa panas berkhasiat untuk mengobati luka bakar.

9. Binuang bini (Octomeles sumatrana), Famili: Datiscaceae
Pohon dengan tinggi hingga 60 – 80 m. Banir membentang tinggi hingga 10 m. Tajuk tahap pertama melonjong, dahan tersusun radial. Kulit batang berwarna abu-abu, halus. Daun tunggal, spiral, tepi daun rata, menjantung membundar, panjang 12 – 30 cm, lebar 6 – 3 cm, pertulangan daun menjari, tulang daun 5 – 7, mempunyai kelenjar domatia berbentuk biji besar terletak mengelompok di ketiak tulang daun. Tangkai daun panjang bersegi 5. Bunga berbentuk bulir tergantung, bunga tanpa tangkai, aktinomorf, berkelamin ganda, daun kelopak 4 – 9, daun mahkota 4 – 9, bebas, bakal buah terbenam, plasenta melekat di dinding luar, buah kapsul, biji kecil-kecil, banyak.
Habitat dan Ekologi : Biasanya di sepanjang sungai di hutan sekunder
Distribusi : Malesia kecuali Semenanjung Malaya, Jawa dan Nusa Tenggara

10. Bakau hitam/bakau putih (Rhisophora sp.), Famili: Rhizophora
Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m, diameter hingga 70 cm, kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horisontal. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. Daun tunggal, duduk daun berhadapan, bentuk daun ellips sampai oblong, ujung daun meruncing. Bunga berwarna kuning pucat. Buah lonjong/panjang sampai 7cm, berwarna kecoklatan, seringkali kasar dibagian pangkal, berbiji tunggal. Hipokotil silinder dengan panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm.
Habitat dan ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur halus dalam dan tergenang pada saat pasang normal lebih toleran pada substrat yang lebih keras dan pasir. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok pada daerah pasang surut, dan sangat jarang ditemukan pada daerah yang jauh dari pasang surut.
Distribusi : Afrika timur, Madagaskar, Mauritania, Asia Tenggara,, seluruh Malaysia dan Indonesia, Melanesia dan Mikronesia.
11. Nyirih (Xylocarpus granatum), Famili: Meliaceae
Pohon dapat mencapai ketinggian 20 m, memiliki akar papan yang melebar ke samping, meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. Batang seringkali berlubang, khususnya pada pohong yang sudah tua. Kulit kayu berwarna coklat muda kekuningan, tipis dan mengelupas dan pada cabang yang lebih muda kulit kayu keriput.
Daun majemuk, duduk daun berhadapan, bentuk daun ellips – obovate, ujung daun membundar. Bunga berbentuk tandan yang muncul dari ketiak tangkai daun . Mahkota putih kehijauan, benangsari berwarna putih krem dan menyatu dalam satu tabung. Buah besar seperti maja, berat sampai 2 kg, diameter 10-20 cm, berwarna hijau kecoklatan. Didalam buah terdapat 6 – 16 biji besar-besar, berkayu dan berbentuk tetrahedral. Buah akan pecah saat kering.
Habitat dan Ekologi : Tumbuh disepanjang pinggiran sungai pasang surut, pinggir mangrove, dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Individu yang tua seringkali ditumbuhi epipit.

D. PENUTUP
Begitu banyak manfaat yang disediakan hutan kita, namun masih banyak pula yang belum menyadari betapa pentingnya keberadaan hutan dipertahankan. Tumbuhan berkhasiat menyembuhkan luka yang ada di Taman Nasional Kutai, hanyalah bagian kecil dari tumbuhan berkhasiat obat yang ada. Masih banyak tumbuhan berkhasiat obat lain baik yang sudah teridentifikasi maupun yang belum teridentifikasi. Masih banyak pula manfaat-manfaat lain dari TNK selain sebagai penyedia Tumbuhan Obat. Untuk itu: ”Marilah kita menjaganya sebelum kita menyesal karena tidak ada lagi yang bisa kita jaga”.

Daftar Pustaka:
Anonim. 1994. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Kerjasama Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fahutan IPB dan Latin. Bogor.
Anonim. 2005. Potensi Tumbuhan Berkhasiat Obat di Taman Nasional Kutai. Balai Taman Nasional Kutai. Bontang.
Anonim, 2006. Hutan Mangrove, Bagaimana memanfaatkannya secara lestari? Warta Konservasi Vol 14 no. 4 Oktober 2006.
Kebler, P.J.A. 2000. Pohon-Pohon Hutan Kalimantan Timur, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 2.
Kebler, P.J.A. 2000. Secondary Forest Trees of Kalimantan, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 3.

Fitofarmaka

TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT UNTUK WANITA
Oleh : Yulita Kabangnga’

A. PENDAHULUAN
Taman Nasional Kutai (TNK) sebagai salah salah satu kawasan yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan juga kaya akan jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Berdasarkan hasil survei yang pernah dilaksanakan di TNK teridentifikasi sekitar 220 jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Bahkan berdasarkan hasil inventarisasi tahun 2005 yang dilaksanakan hanya pada 2 (dua) lokasi terdapat 215 jenis tumbuhan. Kalau dilakukan pada seluruh kawasan, jumlah ini tentu saja akan semakin besar karena berdasarkan persentasinya 43 % dari keseluruhan jenis merupakan tumbuhan berkhasiat obat, sementara di TNK jumlah jenis vegetasi adalah 958 jenis.
Berdasarkan hasil survei di TNK dan pada masyarakat sekitar kawasan disebutkan bahwa tumbuhan obat terbanyak yang dijumpai setelah tumbuhan untuk mengobati sakit perut/diare adalah tumbuhan obat untuk kewanitaan (keputihan, jamu setelah melahirkan, memperbanyak ASI, pelancar haid, dll.)

Dari beberapa hasil penelitian teridentifikasi 16 (enam belas) jenis tumbuhan yang berkhasiat untuk mengobati sakit perut/diare yaitu blangun mati (Conocarium sp.), entang burung (Cinnamomum sp.), jambu-jambu (Metroxyderos sp.), kapur (Dryobalanops aromatica), kumping (Aglaia odorata), mampat (Ixora sp.), murup (Mallotus peltatus), bentan dayak (Pandanus sp), pilung (Ochanostachys amentacca), retap (Adina polychepala), sengkuang (Dracontomelon dao), terap (Artocarpus elasticus), tete (Amommum maximum) dan beberapa jenis lain. Informasi tentang jenis vegetasi, bagian yang dimanfaatkan serta cara pemanfaatannya tetrsaji dalam Tabel 1.

Tabel 1. Jenis, bagian yang di manfaatkan dan cara pemanfaatan
No Nama Lokal/ Nama Botani Kandungan Kimia Khasiat Bagian yang Digunakan Cara Pemanfaatan
1. Blangun mati (Conocarium sp.) Memperbanyak ASI Daun muda Dimakan sebagai lalapan
2 Entang burung (Cinnamomum sp.) Jamu sari rapet Akar Akarnya direbus dicampur dengan jahe kemudian diminum
3 Jambu-jambu (Metroxyderos sp.) Luka-luka, keputihan Kulit kayu
4 Kapur (Dryobalanops aromatica) Perangsang kulit, pencegah pendarahan Buah dan biji
Obat kuat ibu hamil Daun
5 Kumping (Aglaia odorata) Minyak atsiri Mengurangi menstruasi, penyakit kelamin Daun Daunnya direbus dengan air hingga berkurang setengahnya kemudian diminum
6 Lada hutan (Piper nigrum) Wanita nifas, minuman penyegar Buah Buahnya dimakan
7 Lirik Memperlancar persalinan Daun Daun direbus dengan air hingga menjadi setengahnya kemudian diminum
8 Mampat (Ixora sp.) Memperbanyak ASI dan meingkatkan daya tahan tubuh bayi dari penyakit Daun muda Daun mudanya dimakan baik sebagai sayur maupun lalap
9 Murup (Mallotus peltatus) Menambah nafsu makan dan jamu setelah persalinan Akar Akar direbus dengan menggunakan air hingga berkurang setengahnya kemudian diminum
10 Bentan dayak (Pandanus sp.) Jamu setelah persalinan, pembersih darah Akar Akar direbus dengan menggunakan air hingga berkurang setengahnya kemudian diminum
11 Pilung (Ochanostachys amentacea) Demam, pembersih badan setelah melahirkan Kulit kayu Kulit kayu direndam kemudian airnya diminum
12 Retap (Adina polychepala) Memperbanyak asi Daun muda Daun muda dijasikan sayuran kemudian dimakan
13 Saga (Adenanthera pavonia) Saponin Obat KB
Biji Bijinya disangrai kemudian dimakan
14 Sengkuang (Dracontomelon dao) Membantu mengeluarkan ari-ari pada wanita bersalin Kulit batang
15 Terap (Artocarpus elasticus) Membatasi kelahiran/KB Kulit batang

16 Tete (Amommum maximum)
Obat pembersih untuk wanita yang baru melahirkan Akar Akarnya direbus dengan air hingga berkurang stengahnya kemudian diminum

B. IDENTIFIKASI
1. Entang burung (Cinnamomum cuspidatum)
Pohon, tinggi hingga 15 m, diameter batang sekitar 20 cm. Kulit batang berwarna coklat, duduk daun berhadapan, membundar telur atau lanset, panjang 7-18 cm, lebar 3-6 cm, pangkal membaji hingga membundar, ujung daun melancip hingga runcing panjang, permukaan bawah sedikit berlapis lilin kebiruan, bertulang 3. Bunga dalam bentuk tandan, berkelamin 2. Buah bulat telur, panjang sekitar 1 cm, diameter 8 mm, duduk di atas mangkuk tajuk yang bercuping.
Habitat dan Ekologi : Dalam hutan Dipterocarpaceae lahan pamah.
Distribusi : Endemik Borneo

2. Kumping (Aglaia odorata BL); Famili : Meliaceae
Perdu, tegak, tinggi 2 - 5 m. Tangkai daun utama bersayap sempit, daun menyirip ganjil; anak daun 3 – 9, bertangkai pendek, bulat telur terbalik memanjang dengan kaki runcing. Bunga berkelamin 1 dalam bentuk malai rapat panjang 1,5 – 16 cm; tangkai bunga kebanyakan 3 – 4 mm. Bunga jantan mempunyai daun mahkota 5, tidak terbentang, panjang 2 – 2,5 mm, kuning. Benang sari beberkas 1; tabung benang sari di dalam bunga jantan pada pangkal dindingnya dipertebal kuat; kepala sari terbungkus dalam tabung. Buah berdaging 1 – 3 ruang, biji 1 – 3.

3. Mampat (Ixora sp.); Famili : Rubiaceae
Jenis ini merupakan pohon hutan yang mudah dijumpai di sepanjang boardwalk Sangkima. Mampat berkhasiat untuk memperbanyak ASI dan meningkatkan daya tahan tubuh bayi dari penyakit menular. Daun tumbuhan yang disayur dan dikonsumsi oleh ibu yang baru melahirkan dapat memperbanyak ASI.
4. Pilung (Ochanostachys amentacea) ; Famili : Olacaceae
Pohon tinggi hingga 30 m, diameter 20-40 cm. Kulit batang berwarna coklat abu-abu hingga merah kecoklatan. Daun membundar hingga menlonjong. Panjang daun 6-13 cm, lebar 3-7 cm, pangkal daun datar lebar hingga membundar, kadang-kadang asimetris, ujung daun melancip, daun tebal biasanya gundul, biasanya berbintil dikedua permukaan, sebagian berwarna kehitaman, tulang daun sekunder 5 atau 6 pasang. Tangkai daun panjang 1,5 – 2 cm, tidak menebal diujung.
Habitat dan Ekologi : Di lereng bukit dan sepanjang sungai dalam hutan primer
Distribusi : Kepulauan Andaman, Semenanjung Malaya, Sumatera dan Borneo

5. Retap (Adina polychepala); Famili : Rubiaceae
Pohon tinggi sampai 40 m, dengan diameter mencapai 80 cm. Kulit batang luar halus, coklat sampai kehitam-hitaman, kulit batang dalam berwarna pink sampai merah kecoklatan. Kayu pucat kuning. Stipul berbentuk segitiga, panjang 2-6 mm dan lebar 2-4 mm, stipule sangat cepat rontok. Daun berbentuk elips sampai membundar panjang 2-24 cm, lebar 4-10 cm, berbentuk seperti kertas sampai kulit, ujung daun runcing sampai meruncing, pertulangan daun lateral 6-14 pasang. Panjang tangkai daun sampai 3 cm
Habitat dan Ekologi : Hutan primer dan hutan sekunder dataran rendah
Distribusi : India, Burma, Thailand, Combodia, Vietnam, Malai Peninsula, Sumatera, Jawa, Filipina, Borneo


6. Sengkuang (Dracontomelon dao), Famili : Anacardiaceae
Dracontomelon dao atau sengkuang merupakan pohon besar dan disebut oleh Hyne (1987) sebagai raksasa rimba. Pohon ini merupakan salah satu pakan yang disukai satwa primata Kalimantan yaitu orangutan. Memiliki tinggi 55 m dan besar batangnya 3 m. Tumbuhan ini memiliki banir tipis yang tingginya 6 – 8 m. Daun berbentuk lanset, bersirip tunggal yang terdiri dari kurang dari 10 pasang anak daun. Pada tangkai daun terdapat bulu halus dan ada penebalan pada percabangan daun. Batang berwarna coklat, permukaan licin dan bopeng. Khasiat dari tumbuhan ini adalah untuk membantu persalinan. Ragam pemanfaatannya adalah dengan diseduh. Seduhan kulit batang dengan sagoer diberikan kepada wanita bersalin untuk membantu keluarnya ari-ari.

C. PENUTUP
Uraian tentang tumbuhan berkhasiat untuk obat di atas belum memuat semua jenis tumbuhan yang berkhasiat obat untuk wanita yang terdapat di Taman Nasional Kutai. Masih ada beberapa jenis yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kutai dan Dayak, namun belum teridentifikasi secara jelas. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi lengkap dan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis tumbuhan berkhasiat obat lainnya dan kandungan kimia pada masing-masing jenis yang diidentifikasi memiliki khasiat.

Sumber bacaan:
Anonim. 1994. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Kerjasama Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fahutan IPB dan Latin. Bogor.
Anonim. 2005. Potensi Tumbuhan Berkhasiat Obat di Taman Nasional Kutai. Balai Taman Nasional Kutai. Bontang.
Kebler, P.J.A. 2000. Pohon-Pohon Hutan Kalimantan Timur, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 2.
Kebler, P.J.A. 2000. Secondary Forest Trees of Kalimantan, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 3.
Fitofarmaka

OBAT MALARIA DARI TAMAN NASIONAL KUTAI (TNK)
Oleh : Yulita Kabangnga’


A. PENDAHULUAN

Penyakit malaria merupakan penyakit yang cukup populer di wilayah tropis. Indonesia sebagai salah satu wilayah tropis merupakan salah satu tempat penyebaran penyakit yang cukup ditakuti banyak orang khususnya bagi mereka yang banyak berkecimpung di daerah hutan ataupun sekitar hutan. Penyakit yang ditularkan melalui melalui vektor nyamuk ini ditandai dengan munculnya demam setiap 3 – 4 hari.
Penyakit malaria memang bukan penyakit penyebab kematian tingkat tinggi namun akibatnya cukup parah. Demam yang tinggi dapat mengakibatkan penderita kehilangan kesadaran dan malaria falciparum bahkan bisa berakhir dengan kematian.
Obat yang dapat mencegah dan mengobati penyakit malaria untuk saat ini adalah berbagai obat medis dan kina. Namun selain obat-obatan tersebut saat ini juga dikenal beberapa jenis obat herbal yang dipercaya dapat mengobati penyakit malaria seperti sambiloto (Andrographis paniculata Nees), bratawali (Tinospora crispa, Miers), Johar (Cassia seamea), Secang, (Caesalpinia sappan L.), bagore (Caesalpinia crista) Sesuru (Euphorbia antiquorum L.), Murbei (Morus alba L.), Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia), Pepaya (Carica papaya, Linn.), Pule Pandak (Rauvolfia serpentine [L.]), Sengugu (Clerodendron serrature [L.], Srigading (Nyctanthes arbor-tristis L.), Meniran (Phylanthus urinaria, Linn.), Anting-anting (Acalypha australis Linn.), Bunga Matahari (Helianthus annuus Linn), Jarong (Achyranthes aspera Linn.), Pulutan (Urena lobata Linn.), Pare (Momordica charantia L.), Pinang (Areca catechu L), Beringin (Ficus benyamina L.), Pulai (Alstonia scholaris), Kenanga (Canangium odoratum, (Lamk.), Asam-asam (Santiria tomentosa), Krehau gunung (Calicarpa sp), entolan (Oroxylum indicum), belimbing hutan (Cnestis palala) dan lainnya. Jenis tanaman obat yang dicetak tebal merupakan tanaman yang dapat ditemukan di TNK. Lebih lanjut mengenai spesies tersebut dapat dilihat ditulisan berikut ini :

A. IDENTIFIKASI

1. PULAI (Alstonia scholaris [L.] R. Br.) Famili :Apocynaccae ,

Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm, warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat. Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 - 50 cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 - 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan biji atau setek batang dan cabang.
Tumbuhan ini sangat mudah diperoleh karena tersebar pada hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, pada hutan dataran rendah sampai 900 m dpl, bahkan dapat dengan mudah tumbuh jika ditanam di pekarangan atau ditanam sebagai pohon hias.
Habitat dan Ekologi : Hutan primer dan Sekunder, sepanjang tebing, punggung bukit pada tanah liat dan batu gamping.
Distribusi : India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Bhutan, Pakistan, Burma, Thailand, Cambodia, China, Laos, Vietnam, Malesia, Australia, Solomon island, Borneo.

2. Kenanga, (Canangium odoratum, (Lamk.), Famili : Annonaceae

Kenanga (Canangium odoratum) adalah tumbuhan berbatang besar sampai diameter 0,1-0,7 meter dengan usia puluhan tahun. Tumbuhan kenangan mempunyai batang yang getas (mudah patah) pada waktu mudanya. Tinggi pohon ini dapat mencapai 5-20 meter. Bunga kenanga akan muncul pada batang pohon atau ranting bagian atas pohon dengan susunan bunga yang spesifik. Sebuah bunga kenanga terdiri dari 6 lembar daun dengan mahkota berwarna kuning serta dilengkapi 3 lembar daun berwarna hijau. Susunan bunga tersebut majemuk dengan garpu-garpu. Bunga kenanga beraroma harum dan khas.
Habitat dan Ekologi : hutan sekunder dan pinggiran hutan, melimpah di desa-desa dimana sering tumbuh kerdil pada daerah yang ditanami.
Distribusi : tersebar luas dari India sampai fiji dan Borneo.
3. Beringin, (Ficus benyamina L.), Famili :Moraceae

Beringin banyak ditemukan di tepi jalan, pinggiran kota atau tumbuh di tepi jurang. Pohon besar, tinggi 20 - 25 m, berakar tunggang. Batang tegak, bulat, permukaan kasar, cokelat kehitaman, percabangan simpodial, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Daun tunggal, bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3 - 6 cm, lebar 2 - 4 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota bulat, halus, kuning kehijauan. Buah buni, bulat, panjang 0,5 - 1 cm, masih muda hijau, setelah tua merah. Biji bulat, keras, putih.

4. Entolan (Oroxylm indicum (L) Kurz.), Famili : Bignoniaceae

Pohon dengan tinggi sampai 40 meter dan diameter sampai 40 cm. Kulit batang halus putih abu-abu; bagian dalam kulit batang berwarna kekuningan, lapisan kayu luar lunak berwarna keputih-putihan. Duduk daun berhadapan, bentuk daun oval dengan panjang 5 – 12 cm dan lebar daun 2.5 – 7.5 cm. Pangkal daun membulat atau berbentuk hati, pada umumnya daun tidak simetris, ujung daun runcing atau meruncing, pinggir daun rata; tulang daun sekunder 4-6 pasang. Tangkai bunga 25 – 180 cm. Panjang bunga 7-10 cm, panjang kelopak 2,5 – 4 cm, panjang mahkota 10 cm, berwarna kuning kemerah-merahan.

Habitat dan ekologi pada hutan sekunder dengan wilayah penyebaran di Borneo: (Sabah, Serawak, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan).

5. Krehau (Callicarpa havilandii), Famili : Verbenaceae

Pohon kecil dengan tinggi sampai 8 meter, diameter sampai 20 cm. kulit batang halus keabu-abuan. Tertutup rapat dengan bulu kasar dengan panjang 2 – 3 mm. Daun ellips atau obovatus, dengan panjang 7-20 cm dan lebar 2,5-7 cm. Pangkal daun membaji sampai meruncing dan ujung daun runcing. Pinggir daun bergerigi, permukaan daun berambut. Buah berdiameter 2-4 mm berwarna hijau waktu muda dan buah masak berwarna merah.
Habitat dan Ekologi : Hutan primer dan sekunder, sering dijumpai pada sepanjang sungai.
Distribusi : Endemik borneo


B. Jenis, Bagian Yang di manfaatkan dan Cara Pemanfaatan

Bagian yang dapat digunakan dan cara pemanfaatan jenis tumbuhan berkhasiat obat malaria yang ada di Taman Nasional Kutai (TNK) adalah sebagai berikut :

No Nama Daerah/Botani Bagian yang digunakan Kandungan Kimia Cara Pemanfaatan
1 Beringin (Ficus benjamina) Daun Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula, dan asam orange.
daun beringin kering sebanyak 50 - 120 g direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun beringin direbus lalu airnya digunakan untuk mandi.
2 Pulai (Alstonia scholaris) Kulit kayu Kulit kayu mengandung alkaloida ditain, ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan triterpen (alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Kulit batang pulai yang sudah dikeringkan digiling menjadi bubuk, diambil sebanyak 2 sendok makan. Rebus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus. Minum setiap hari sampai sembuh.
3 Kenanga (Canangium odoratum) Bunga minyak kenanga.
3 kuntum bunga kenanga yang sudah dikeringkan, diseduh dengan 1 gelas air panas dan ditutup rapat, disaring dan diminum secara teratur.
4 Asam –Asam (Santiria tomentosa) Daun Daun ditumbuk dan dicampur dengan jahe lalu diminum *
5 Krehau (Calicarpa sp) Daun Daun ditumbuk dan dicampur dengan jahe lalu diminum *
6 Entolan (Oroxylum indicum) Pucuk daun alkaloid, tannic acid, sitosterol and galactose. Pucuknya direbus kemudian dimakan*
Keterangan :
* Pemanfaatan tradisonal masyarakat Kutai, Kalimantan Timur.

C. Penutup.
Uraian tentang tumbuhan berkhasiat untuk obat penyakit malaria yang ada di Taman Nasional Kutai diatas belum memuat semua jenis tumbuhan obat malaria yang ada. Masih ada beberapa jenis yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kutai untuk pengobatan malaria namun belum teridentifikasi secara jelas. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi lengkap dan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis tumbuhan berkhasiat obat lainnya dan kandungan kimia pada masing-masing jenis yang diidentifikasi berkhasiat.

Sumber Bacaan
Anonim, 2005. Potensi Tumbuhan Berkhasiat obat di Taman Nasional Kutai. Balai Taman Nasional Kutai, Bontang.
Anonim, 1994. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Kerjasama Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fahutan IPB dan Latin. Bogor.
Kebler, P.J.A, 2000. Secondary Forest trees of Kalimantan, Indonesia. Tropenbos-Kalimantan Timur Series 3.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar